Sosok Dewa Baru Berjuluk "Kecerdasan Majemuk" 
(Toge Aprilianto )

Ya. dewa baru, karena kecerdasan majemuk sedang jadi primadona di 
dalam masyarakat kita sejak beberapa tahun terakhir. Mulai dari makin 
maraknya buku-buku yang mengupas tentang apa itu kecerdasan majemuk, 
apa isinya, bagaimana bentuk atau jenisnya, bagaimana penjelasannya 
berkait dengan kebiasaan-kebiasaan individu, bagaimana membangkitkan 
potensi itu, bagaimana mengelola bahkan mengembangkan kecerdasan 
majemuk dalam diri tiap individu demi tujuan menjadikan individu yang 
bersangkutan dapat mengoptimalkan apa yang dia miliki, hingga makin 
bergairahnya penyelenggaraan seminar atau diskusi tentang hal itu 
bahkan juga permintaan masyarakat akan petunjuk atau pelatihan 
tentang penerapan kecerdasan majemuk bagi dirinya dan anaknya, di 
rumah maupun di luar rumah.

Di kalangan pendidikan formal, kecerdasan majemuk juga sedang jadi 
pembahasan yang tidak kalah heboh. Mulai dari seminar atau pelatihan 
bagi guru mengenai hal itu hingga usaha implementasi kecerdasan 
majemuk ke dalam kurikulum dan metoda pembelajaran. Bahkan di 
beberapa sekolah, guru sudah mulai dituntut untuk menyampaikan materi 
dalam koridor kecerdasan majemuk.

Artinya, guru dituntut menyediakan kesempatan pada siswa untuk 
belajar dengan gayanya sendiri, guru diminta menyediakan beragam 
metoda ajar untuk mengakomodasi keragaman cara belajar siswa dan 
menyediakan diri untuk mempelajari gaya belajar siswa agar sungguh 
bisa mendampingi siswa sepanjang proses memahami materi ajar yang 
sedang dipelajarinya.

Persoalannya, sejauh pengamatan saya, kita tidak menempatkan 
kecerdasan majemuk ini secara proporsional dan cenderung melakukan 
pemujaan. Padahal itu tidak lebih dari sesuatu yang sangat biasa 
bahkan sebenarnya sudah ada sejak lama dan sudah dilakukan oleh 
masyarakat tempo dulu. Contoh sederhana saja: dulu, beberapa program 
studi di perguruan tinggi, dilakukan dengan sistem modul sehingga 
mahasiswa memiliki kebebasan untuk mulai belajar dari mana dan dengan 
cara bagaimana. Dalam buku "TOTO CHAN: Gadis Kecil di Tepi Jendela" 
yang merupakan sebuah kisah nyata pada masa sebelum perang dunia 
kedua, jelas digambarkan bagaimana materi ajar formal di sekolah bisa 
dipelajari dengan cara "mengalami". Diantaranya digambarkan bagaimana 
mereka memiliki sebutan khusus (a la mereka sendiri) untuk memudahkan 
mereka mempelajari simbol not balok, serta bagaimana mereka 
memanfaatkan lantai aula sebagai ganti kertas untuk menulis 
terjemahan nada-nada yang dibunyikan menjadi simbol-simbol not balok. 
Juga digambarkan bagaimana mereka mempelajari ketukan nada dengan 
cara menterjemahkan irama lagu yang diperdengarkan menjadi gerakan-
gerakan tubuh secara bebas, seturut kata hati masing-masing siswa.

Jadi, kecerdasan majemuk bukanlah hal yang sama sekali baru! Mungkin 
istilahnya memang baru tapi isinya adalah sesuatu yang sebenarnya 
sudah sejak lama berkeliaran diantara kita. Masalahnya, masyarakat 
modern, saya pikir, terlalu terpaku pada pengembangan teknologi dan 
industrialisasi sehingga akhirnya cara-cara belajar dengan 
memperhatikan aspek pendidikan menjadi tersisihkan karena jelas 
kurang efisien dipandang dari sudut ekonomi industri. Termasuk di 
dalamnya adalah praktek bisnis persekolahan yang makin hari makin 
mengabaikan aspek pendidikan demi perkembangan bisnisnya.

Alhasil, sekolah yang awalnya merupakan kebutuhan menjadi hanya 
sekedar suatu kewajiban bahkan beban. Sekolah yang awalnya 
menempatkan kenyamanan sebagai tulang punggung, hingga ketika satu 
orang guru tidak lagi sanggup melayani siswa karena jumlahnya kian 
banyak, maka ia merelakan guru lain membantu para siswa yang tidak 
dapat ia layani itu, menjadi pabrik ilmu yang menempatkan prinsip 
ekonomi sebagai tulang punggungnya, hingga kelas dengan kapasitas 
maksimal 30 orang ditempati oleh lebih dari 50 orang.

Sekarang, kita bicara kecerdasan majemuk. Kita berharap anak bisa 
mencapai optimalisasi lebih baik daripada generasi terdahulu. Kita 
mengusahakan pola pendidikan yang membebaskan dan memenangkan aspek 
pendidikan. Sekarang kita berniat melakukan itu? saya berani katakan 
itu sebagai suatu niat sia-sia.

Suatu usaha yang mustahil bisa menggapai harapan. Alasannya, jelas 
karena pola penyelesaian yang sekarang marak dilakukan, tidak 
menyentuh akar permasalahannya. Selain itu, juga karena anak-anak 
sudah terbiasa dengan pola satu arah, guru dan orangtua juga 
demikian. Hal ini akan menjadi tuntutan yang sangat sulit dipenuhi 
bila mereka yang terlibat dalam sistem pendidikan harus melakukan 
transformasi pola secara serempak. Justru persoalan kecerdasan 
majemuk ini akan menjadi satu diantara berjuta beban yang makin hari 
makin memberatkan. Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja beda antara 
berat beban bawaan siswa jaman dulu dengan jaman sekarang.

Sampai-sampai anak sekarang membutuhkan tas/ koper yang memiliki roda 
agar bisa meringankan beban angkutnya.

Dulu, di kawasan yang memiliki empat musim, sekolah diliburkan selama 
musim panas dengan maksud agar anak-anak membantu orangtua mereka 
menggarap ladang. Sekarang, liburan musim panas dimanfaatkan untuk 
mempercepat proses penyelesaian beban studi dalam bentuk semester 
pendek (summer school).

Dengan demikian, jelas makin sedikit interaksi manusia dengan alamnya 
apalagi untuk belajar darinya. Dulu, kegiatan belajar dimaksudkan 
untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan praktis guna memahami 
kehidupan dan mengarunginya dengan tenang. Belajar menentukan arah 
dengan bantuan alam (angin dan benda angkasa), belajar melakukan 
prediksi dengan mempelajari gelagat disekitar, belajar menganalisis 
dan memahami fenomena dengan membandingkan/ menghubungkan fragmen-
fragmen yang menjadi bagian dari fenomena itu. Sekarang, semua itu 
dipelajari hanya sekedar untuk menjadi tahu tanpa berniat membuat si 
pembelajar sungguh paham. Akhirnya hanya orang-orang dengan niat luar 
biasa yang bisa mencapai tahap pemahaman.

Apalagi pola belajar yang hanya dengan menghadapi ekstrak-ekstrak 
alam, hanya dari buku-buku yang merupakan kisah-kisah, tanpa 
kesempatan untuk mengalami. Ini yang saya maksud pemasungan 
kecerdasan yang mengakibatkan masyarakat kita dewasa ini jadi tergila-
gila dengan kecerdasan majemuk karena kemudian sadar betapa mereka 
tidak paham apa-apa setelah menjalani proses belajar dan sekolah 
sedemikian lamanya. 

Selanjutnya, alasan saya memberi judul tulisan ini seperti yang saya 
tulis di atas adalah karena saya sama sekali tidak merasakan bahwa 
penerapan kecerdasan majemuk itu begitu rumitnya sehingga perlu 
dipelajari secara khusus. Justru sebaliknya, saya pikir implementasi 
kecerdasan majemuk sangatlah mudah bahkan bisa dilakukan oleh semua 
orang, kapan dan dimanapun.

Satu saja syaratnya, yaitu: KESEMPATAN. Ya, kesempatan untuk 
merasakan, mengalami, bergerak, bicara, melakukan, bertanya, 
berdebat, menjadi salah, terjatuh, terluka bahkan berdarah. 
Kesempatan untuk malu, merasakan kesulitan, melepaskan kenyamanan, 
merasa sedih bahkan kecewa, putus asa bahkan terjerumus pada hal-hal 
negatif dan tentu saja kesempatan untuk mengungkapkan apa yang 
diinginkannya. 

Kecerdasan majemuk pada dasarnya adalah sesuatu yang sudah ada dalam 
diri kita sejak kita lahir. Itu anugerah dan bukan sesuatu yang baru 
sehingga perlu kita usahakan untuk dapat menjadikan hal itu sebagai 
milik kita.

Dengan demikian, tidak ada hal istimewa dalam kecerdasan majemuk 
sehingga tidak juga perlu menyediakan energi spesial baginya. 
Perlakukan saja ia sama seperti segala hal baik yang ada dalam diri 
kita dan biarkan beragam jenis kecerdasan itu bertumbuh dan 
berkembang sebatas kapasitasnya dan kita hanya perlu menyediakan 
kesempatan baginya. Seperti pernah dikatakan Piaget (seorang tokoh 
yang mempelajari perkembangan kognitif) bahwa kecerdasan akan tumbuh 
dan berkembang mencapai optimalisasi dengan sendirinya selama semua 
unsur di dalamnya berfungsi normal sehingga kita tidak perlu 
mengarahkan apalagi sampai menginstruksikan apa-apa yang perlu 
dipelajari oleh seseorang.

Jadi, bila kita tidak lagi mau anak hanya belajar ekstraknya, bila 
kita tidak lagi mau anak hanya menghafal aksara tanpa bisa memahami 
maknanya, bila kita tidak lagi mau anak menjalani proses belajar dan 
sekolah dalam kondisi "mati tak mau hidup juga tak sanggup", maka 
bukan belajar tentang kecerdasan majemuk yang kita perlukan melainkan 
melakukan restrukturisasi konsep tentang intisari makna dari 
istilah "belajar" yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran. 
Karena menurut saya, kesalahan konsep itu yang menyebabkan pola 
pendidikan menjadi sekacau ini.

Ayo kita kembalikan makna belajar kepada fitrahnya, kepada makna 
sesungguhnya yaitu guna memahami diri, orang lain, alam dan kehidupan 
sehingga kita semua bisa berproses menuju optimalisasi diri, mencapai 
keseimbangan dan memelihara ketenteraman yang bermuara pada 
kebahagiaan hidup hingga masa kekal menjelang.

http://aryakinan.blogspot.com

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke