--- In [email protected], Irvanita Delia <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Dear Moms....
>
> Saya mau tanya informasi mengenai imunisasi MMR, ada yang bisa
share ga...? Apa sich fungsi dari imunisasi MMR itu?, ada teman yang
pernah kasih tau saya kalau imunisasi itu sebenernya ga penting untuk
anak karena bisa menjadi faktor pemicu Autis. Bener ga sich....?
>
> Thanks b 4
> iink
>
>
> Send instant messages to your online friends http://
uk.messenger.yahoo.com
dari situs puterakembar
Dalam waktu terakhir ini kasus penderita autisme tampaknya semakin
meningkat pesat. Autisme tampak menjadi seperti epidemi ke berbagai
belahan dunia. Dilaporkan terdapat kenaikan angka kejadian penderita
Autisme yang cukup tajam di beberapa negara. Keadaan tersebut di atas
cukup mencemaskan mengingat sampai saat ini penyebab autisme
multifaktorial, masih misterius dan sering menjadi bahan perdebatan
diantara para klinisi.
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai
dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif,
bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Perdebatan yang
terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme
dengan imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella). Banyak orang tua
menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa imunisasi MMR
dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya anak tidak mendapatkan
perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru
yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis,
TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas
ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan dengan imunisasi
MMR. Tetapi memang terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa Autism
dan imunisasi MMR berhubungan.
Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit
Campak, Campak Jerman dan Penyakit Gondong. Pemberian vaksin MMR
biasanya diberikan pada usia anak 16 bulan. Vaksin ini adalah
gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan
secara terpisah, tetapi dalam beberapa tahun kemudian digabung
menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup
Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan, Componen
Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan
Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9.
Pendapat yang mendukung autism berkaitan dengan imunisasi :
Terdapat beberapa penelitian dan beberapa kesaksian yang
mengungkapkan Autisme mungkin berhubungan dengan imunisasi MMR.
Reaksi imunisasi MMR secara umum ringan, pernah dilaporkan kasus
meningoensfalitis pada minggu 3-4 setelah imunisasi di Inggris dan
beberapa tempat lainnya. Reaksi klinis yang pernah dilaporkan
meliputi kekakuan leher, iritabilitas hebat, kejang, gangguan
kesadaran, serangan ketakutan yang tidak beralasan dan tidak dapat
dijelaskan, defisit motorik/sensorik, gangguan penglihatan, defisit
visual atau bicara yang serupa dengan gejala pada anak autism.
Andrew Wakefielddari Inggris melakukan penelitian terhadap 12 anak,
ternyata terdapat gangguan Inflamantory Bowel disesase pada anak
autism. Hal ini berkaitan dengan setelah diberikan imunisasi MMR.
Bernard Rimland dari Amerika juga mengadakan penelitian mengenai
hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan
autisme. Wakefield dan Montgomery melaporkan adanya virus morbili
(campak) dengan autism pada 70 anak dari 90 anak autism dibandingkan
dengan 5 anak dari 70 anak yang tidak autism. Hal ini hanya
menunjukkan hubungan, belum membuktikan adanya sebab akibat.
Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres
Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan
banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang
terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan
beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian
bahwa anaknya terkena autisme setelah diberi imunisasi
Pendapat yang menentang bahwa imunisasi menyebabkan autisme
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa MMR tidak mengakibatkan
Autisme lebih banyak lagi dan lebih sistematis. Brent Taylor,
melakukan penelitian epidemiologik dengan menilai 498 anak dengan
Autisme. Didapatkan kesimpulan terjadi kenaikkan tajam penderita
autism pada tahun 1979, namun tidak ada peningkatan kasus autism pada
tahun 1988 saat MMR mulai digunakan. Didapatkan kesimpulan bahwa
kelompok anak yang tidak mendapatkan MMR juga terdapat kenaikkan
kasus aurtism yang sama dengan kelompok yang di imunisasi MMR.
Dales dkk seperti yang dikutip dari JAMA (Journal of the American
Medical Association) 2001, mengamati anak yang lahir sejak tahun 1980
hingga 1994 di California, sejak tahun 1979 diberikan imunisasi MMR.
Menyimpulkan bahwa kenaikkan angka kasus Autism di California, tidak
berkaitan dengan mulainya pemberian MMR.
Intitute of medicine, suatu badan yang mengkaji keamanan vaksin telah
melakukan kajian yang mendalam antara hubungan Autisme dan MMR. Badan
itu melaporkan bahwa secara epidemiologis tidak terdapat hubungan
antara MMR dan ASD. The British Journal of General Practice
mepublikasikan penelitian De Wilde, pada bulan maret 2001. Meneliti
anak dalam 6 bulan setelah imunisasi MMR dibandingkan dengan anak
tanpa Autisme. Menyimpulkan tidak terdapat perubahan perilaku anak
secara bermakna antara kelompok control dan kasus. Pada jurnal ilmiah
Archives of Disease in Childhood, September 2001, The Royal College
of Paediatrics and Child Health, menegaskan bahwa tidak ada bukti
ilmiah yang mendukung adanya hipoteda kaitan imunisasi MMR dan
Autisme. Para profesional di bidang kesehatan tidak usah ragu dalam
merekomendasikan imunisasi MMR pada pasiennya..
Makela A, Nuorti JP, Peltola H tim peneliti dari Central Hospital
Helsinki dan universitas Helsinky Finlandia pada bulan Juli 2002
telah melakukan penelitian terhadap 535.544 anak yang mendapatkan
imunisasi MMR sejak 1982 hingga 1986, yang dilakukan pengamatan 3
bulan setelah di Imunisasi. Mereka menyimpulkan bahwa tidak
menunjukkan hubungan yang bermakana antara imunisasi MMR dengan
penyakit neurologis (persrafan) seperti ensefalitis, aseptik
meningitis atau autisme. Kreesten Meldgaard Madsen dkk bulan November
2002, melakukan penelitian sejak tahun 1991 - 1998 terhadap 440.655
anak yang mendapatkan imunisasi MMR. Hasilnya menunjukkan tidak
terbukti hipotesis hubungan MMR dan Autisme.
Rekomendasi Intitusi atau Badan Kesehatan Dunia
Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang
independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian
ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan
autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk
tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan
thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme.
The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health
pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman. Dengan
memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi
seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme
adalah tidak berdasar.
WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan
mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan
kajian tentang keamanan dan efikasinya.
Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris
termasuk the British Medical Association, Royal College of General
Practitioners, Royal College of Nursing, Faculty of Public Health
Medicine, United Kingdom Public Health Association, Royal College of
Midwives, Community Practitioners and Health Visitors Association,
Unison, Sense, Royal Pharmaceutical Society, Public Health Laboratory
Service and Medicines Control Agency pada bulan januari tahun 2001
setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan
pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan
laporan keamanan yang sangat baik. Secara ilmiah sangat aman dan
sanagat efektif untuk melindungi anak dari penyakit. Sangat
merekomendasikan untuk memberikan MMR terhadap anak dan tanpa
menimbulkan resiko.
The Committee on Safety of Medicine (Komite Keamanan Obat) pada bulan
Maret 2001, menyatakan bahwa kesimpulan dr Wakefield tentang vaksin
MMR terlalu premature. Tidak terdapat sesuatu yang mengkawatirkan.
The Scottish Parliament�s Health and Community Care Committee, juga
menyatakan pendapat tentang kontroversi yang terjadi, yaitu
Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti, tidak terdapat hubungan
secara ilimiah antara MMR dan Autisme atau Crohn disease. Komite
tesebut tidak merekomendasikan perubahan program imunisasi yang telah
ditetapkan sebelumnya bahwa MMR tetap harus diberikan.
The Irish Parliament�s Joint Committee on Health and Children pada
bulan September 2001, melakukan review terhadap beberapa penelitian
termasuk presentasi Dr Wakefield yang mengungkapkan AUTISM berhungan
dengan MMR. Menyimpulkan tidak ada hubungan antara MMR dan Autisme.
Tidak terdapat pengalaman klinis lainnya yang mebuktikan bahan lain
di dalam MMR yang lebih aman dibandingkan kombinasi imunisasi. MMR.
The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter
anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 � 13 Juni 2000 mengadakan
konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations"
di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua
penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti.
Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat huibungan
antara MMR dan Autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara
terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi
keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian
l;ebih jauh tentang penyebab Autisme.
BAGAIMANA SIKAP KITA SEBAIKNYA ?
Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka masyarakat
awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita
harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati
beberapa penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan dengan
imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita
autisme sudah mempunyai kelainan genetik (bawaan) dan biologis sejak
awal. Hal ini dibuktikan bahwa genetik tertentu sudah hampir dapat
diidentifikasi dan penelitian terdapat kelainan otak sebelum
dilakukan imunisasi. Kelainan autism ini bisa dipicu oleh bermacam
hal seperti imunisasi, alergi makanan, logam berat dan sebagainya.
Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat memicu timbulnya autisme. Pada
sebuah klinik tumbuh kembang anak didapatkan 40 anak dengan autism
tetapi semuanya tidak pernah diberikan imunisasi. Hal ini membuktikan
bahwa pemicu autisme bukan hanya imunisasi.
Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism
hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara
statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab
akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu
atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat
bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan
tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum
(populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga
terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita
autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika
tersebut harus dicermati dan dimengerti.
Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan autism dan
imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas,
maka kita akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang
jauh lebih berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan
luas secara epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan
sebab akibat dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya
relatif tidak bermakna secara umum. Beberapa institusi atau badan
kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi
untuk tetap meneruskan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga menambah
keyakinan kita bahwa memang Imunisasi MMR memang benar aman.
Kontroversi itu terus berlanjut terus, namun kita bisa mengambil
hikmah dan jalan yang terbaik anak kita harus imunisasi atau tidak ?
Untuk meyakinkan hal tersebut mungkin kita bisa berpedoman pada
banyak penelitian yang lebih dipercaya validitasnya secara statistik
dengan populasi lebih banyak dan luas yaitu Autisme tidak berhubungan
dengan MMRl. Demikian pula kita harus percaya terhadap rekomendasi
berbagai badan dunia kesehatan yang independen dan terpercaya setelah
dilakukan kajian ilmiah terhadap berbagai penelitian yang dilakukan
oleh beberapa pakar kesehatan anak di berbagai dunia maju.
Dari beberapa hal tersebut diatas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa
Imunisasi MMR tidak mengakibatkan Autisme, bila anak kita sehat dan
tidak berbakat autisme. Tetapi diduga imunisasi dapat memicu
memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunya
bakat autisme secara genetik sejak lahir.
Tetapi tampaknya teori, penelitian atau pendapat beberapa kasus yang
mendukung keterkaitan autisme dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan
bergitu saja. Meskipun laporan penelitian yang mendukung hubungan
Autisme dan imunisasi hanya dalam populasi kecil atau bahkan laporan
perkasus anak autisme. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila
anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau
perilaku sejak dini, memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR
harus berkonsultasi lebih jelas dahulu dengan dokter anak. Bila anak
kita sudah dicurigai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini atau
beresiko terjadi autisme, mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi
MMR sebelum dipastikan diagnosis Autisme dapat disingkirkan. Meskipun
sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autisme bukan hanya
imunisasi. Dalam hal seperti ini kita harus memahami dengan baik
resiko, tanda dan gejala autisme sejak dini.
Tetapi bila anak kita sehat, tidak beresiko atau tidak menunjukkan
tanda dini gejala Autisme maka kita tidak perlu kawatir untuk
mendapatkan imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa
didasari pemahaman yang baik dan pemikiran yang jernih akan
menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan
menghindari imunisasi maka akan timbul permasalahan baru yang lebih
berbahaya dan dapat mengancam jiwa terutama bila anak terkena infeksi
yang dapat dicegah dengan imunisasi
Bunga Rampai Online
Artikel sebelumnya: "Kekhawatiran terhadap thimerosal dan
autisme- kiriman artikel pertama dr. Widodo Judarwanto"
Artikel berikutnya " Merubah Pola Pikir - oleh Donna Williams- Setiap
saat kita dapat menentukan pilihan untuk merubah pola pikir apakah
kita akan tetap dengan pola pikir yang positif atau pola pikir yang
negatif"
semoga dapat berguna
Bunda Alika