Mbak Jia, Makasih informasinya, sampe nanyain ke adik segala, jadi lebih valid ya.
Terlepas dari itu, saya ingin menyoroti kebiasaan kita yang meneruskan pesan tanpa mengecek kebenarannya, apalagi kalau sampai menghakimi sesuatu secara nggebyah uyah (pukul rata). Terus terang sebagai salah satu orang asing di Jepang, saya sendiri merasa jengah kalau ditanya, "Indonesia itu begini ya", atau "Eh, di Indonesia waktu itu ada begini ya", dan sejenisnya. Btw, TV Jepang terkenal suka menyiarkan terus-menerus suatu hal yang negatif, apalagi kalau menyangkut negara tetangga, terutama, maaf, China. Beberapa bulan yang lalu pernah ada kasus pemberitaan bakpau isi daging yang dicampur dengan sobekan kardus di China. Waktu itu TV Jepang ramai sekali memberitakannya, seperti mengatakan 'China, negara pembuat barang tiruan, sampai-sampai daging pun dibuat tiruannya'. Ternyata setelah beberapa waktu berlalu, liputan itu palsu, sengaja dibuat agar masyarakat menjadi heboh. Kadang-kadang kita sendiri juga suka hal yang sensasional kan, karena itu media massa sengaja memanfaatkan hal tersebut. Sebulan yang lalu saya mendengar percakapan anak2 muda di kereta, "Indonesia nggak aman, saya nggak mau ke Indonesia." Sebal juga mendengarnya. Mungkin perasaan saya sama dengan orang China yang terlanjur mendapat cap buruk di mana-mana. tabik, --Dina On 24/10/2007, jia <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hai mba Dina... > > Mau nimbrung ttg telur2 palsu dari Cina, kebetulan adik bungsuku udah > setahun ini dinas di GuangZhu, tanggal 6 Oktober kemarin pulang ke Indonesia > agar bisa lebaran di Jakarta, tanggal 20 kemarin balik lagi ke Cina, saya > sempat menanyakan berita ttg telur palsu ini, memang benar adanya tapi di > Cina sendiri hal ini sudah sudah tidak dihebohkan lagi krn sudah lama > kejadiannya... adik saya juga sempat melihat telur palsu itu dan membedakan > dengan telur asli dan katanya lagi ada kok perbedaan antara telur asli dan > palsu tsb. > mungkin bisa membantu.... > > salam > >

