Hai, 

mau ikutan kasih masukan juga. Saya pernah kerja di Cikal tahun 2004 
selama 10 bulan sebagai pustakawan dan berhenti kerja karena 
melahirkan.

Karena saya pustakawan, jadi saya nilai dari mata pustakawan ya... 
terutama saat saya masih kerja disitu.

Menurut saya, Cikal termasuk sekolah yang peduli banget dengan 
perpustakaan. Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini sedikit 
sekali sekolah-sekolah yang mempunyai perpustakaan yang cukup layak, 
dan cikal adalah salah satunya.

Untuk membangun perpustakaan, biasanya sekolah jadi harus 
mengeluarkan biaya tidak sedikit, apalagi sekolah anak2, dimana buku 
anak2 itu cukup mahal dan biaya untuk maintenance cukup besar juga 
(karena untuk anak2 TK dan SD, jadi buku lebih mudah hilang atau 
rusak ketimbang perpustakaan biasa, jadi pengelolaannya butuh biaya 
lebih). Nah, ga banyak sekolah yang "rela" untuk membangun 
perpustakaan karena profitnya tidak keliatan langsung. Biasanya 
untuk sekolah yang cukup bagus, mereka lebih memilih membangun "buku 
kelas" karena memang biayanya bisa lebih ditekan, karena koleksinya 
bisa langsung disesuaikan dengan kurikulum, beda dengan perpustakaan 
yang koleksinya ada yang tujuannya untuk "rekreasi" alias mendorong 
anak2 ke perpustakaan dan terbiasa membaca, sehingga tentu saja 
perlu disediakan buku-buku yang isinya sekedar untuk "iseng" saja.

Untuk di Cikal, mereka membangun perpustakaan sekaligus buku kelas 
juga, jadi ada biaya yang mereka sisihkan untuk itu. Setiap harinya 
ada "library visit day" dimana setiap kelas punya jadwal masing2 
untuk ke perpustakaan, dilatih untuk meminjam buku dan manner di 
perpustakaan. Idealnya, diharapkan anak2 membaca di perpustakaan dan 
dirumah (yang belum bisa membaca, dibacakan oleh pustakawannya atau 
kalau dirumah oleh pengasuh atau orangtuanya) dan bisa menceritakan 
kembali ke gurunya.

Kalau untuk segi pengajaran, dulu cikal dapat kritik dari pemerhati 
pendidikan, blognya bisa dilihat disini: genenetto.blogspot.com , 
kalo ga salah yang dikritik adalah kurikulum yang masih bongkar 
pasang, dan sistem bilingualnya yang tidak jelas. tapi dulu bapak 
gene netto ini bekerja disana saat saya masih jadi karyawan (tahun 
2004) jadi saya tidak tahu bagaimana cikal sekarang. Seingat saya 
sih dulu dengan kurikulum yang bongkar pasang ini, banyak guru2 yang 
jadinya bingung juga ya. 

Sebelum saya keluar, saya dengar rencananya cikal memang ingin 
membuat sistem "SKS" dan berpindah2 kelas seperti anak kuliahan, 
waktu itu tujuannya agar anak2 bisa belajar sesuai kemampuannya 
sendiri, misalnya saja bagi anak A yang matematikanya lebih advance, 
bisa mengambil kelas yang lebih tinggi, dan bisa tetap berada di 
kelasnya untuk pelajaran yang lain. Tapi saya tidak tahu bagaimana 
prosesnya sekarang.

Untuk saya pribadi, Cikal memang sekolah yang cukup bagus, tapi 
mengingat harganya, saya pikir kurang reasonable banget, dan saya 
setuju dengan kritik pak Gene yang mengatakan biaya itu lebih banyak 
buat owner (artinya tujuannya bisnis untuk mendapatkan profit 
sebanyak2nya), karena waktu saya bekerja disana, gaji karyawan dan 
guru minim sekali (dulu gaji saya sama dengan bayaran sekolah 1 anak 
per bulan). Tapi saya tidak tahu kalau sekarang ada perubahan 
manajemen, dimana kesejahteraaan karyawan dan guru lebih 
diperhatikan, karena terakhir saya dengar biaya sekolahnya meningkat 
berkali2 lipat. Mudah2an sih memang ada perubahan.

Saran saya, kalau anak "dibela2in" sekolah di Cikal, artinya tidak 
ada biaya tapi dipaksa, rasanya tidak perlu sampai "sebegitunya", 
karena yang kita pikirkan bukan hanya akademik saja, tapi juga 
sosial. nanti disana anak2 akan berteman dengan teman2 "high class", 
yang artinya akan berpengaruh pada seleranya berpakaian, makan, 
minum, dll. yang kedepannya takut akan lebih "dipaksa lagi". Belum 
lagi kalau ternyata anak merasa "minder" karena beda "kelas" dengan 
teman-temannya (mudah2an sih tidak).

Saat ini saya bekerja di Universitas Al-Azhar, dan satu komplek 
dengan sekolah TK dan SD Al-Azhar. Sekolah itu sendiri bukan sekolah 
murah, walaupun masih lebih murah dari Cikal, tapi saya lihat gaya 
anak2nya memang beda, seperti misalnya model handphone atau mobil 
yang mereka gunakan. 

Saya tidak mengatakan anak2 orang kaya adalah anak2 yang buruk atau 
gimana, tapi hanya berkata berbeda selera saja. Apalagi anak2 
biasanya adalah orang2 polos yang take it for granted. Misalnya, 
kalau mereka pakai baju bermerk, yang berkomentar "heboh" adalah 
orang2 disekitarnya, mereka hanya menganggap biasa2 saja, tapi 
tentunya mungkin mereka akan kesulitan jika memakai baju biasa, 
misalnya kulitnya lebih sensitif, atau saat mereka bercerita 
berlibur ke amerika, tentunya bagi mereka itu biasa2 saja, tanpa 
bermaksud membuat teman yang lain merasa minder, itu saja maksud 
saya.

Kirim email ke