Semoga cepat sembuh ya... Saran coba sample darah di check in Singapore. Dokter kita memang tidak kalah canggih, tapi peralatan kedokteran kita menurut saya kalah jauh menyebabkan diagnosa dan pemberian obat lebit tepat ke pasien. Pengalaman teman2 n keluarga, di singapore obat malah dapet lebih simple daripada disini.
Salam, Indah ----- Pesan Asli ---- Dari: prilia cahya <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Rabu, 21 November, 2007 12:49:55 Topik: Re: [parentsguide] kronologis penyakit (hati-hati) mom, sabar yach, mudah-mudahan Tuhan melakukan mujizat yg besar u/ anak ibu... kebetulan di kantor ku ada temen ku yg mempunyai anak 3 Tahun seperti leukosit nya sempat 32.000, waktu itu demamnya sempat tinggi hampir mencapai 42, dan cek darah tidak ada apa-apa.. saat ini sudah ke bagian hematologi, tp kayaknya blom ada hasil, apa ciri-ciri meningitis seperti itu yach?? ----- Original Message ---- From: olivia damarani <olivia_damarani@ yahoo.com> To: sigit carlos <sigit.carlos@ id.standardchart ered.com>; Mkom UI <mkomunikasi2005@ yahoogroups. com>; Mochamad.Setyawan@ santos.com; parentsguide@ yahoogroups. com; yusuf <[EMAIL PROTECTED] k.co.id> Sent: Wednesday, November 21, 2007 9:00:17 AM Subject: [parentsguide] kronologis penyakit (hati-hati) Hasan wrote: > > Dear mom's and dad > > Terima kasih atas doa dari mom's and dad, mengenai kronologis penyakit > anak > saya ini adalah sebagai berikut : > > Anak saya kembar keduanya perempuan usia 2 tahun 11 bulan (desember nanti > usianya 3 tahun), yang terkena penyakit ini adalah kakaknya bernama > Maureen > Hiu, sedangkan adiknya Michelle Hiu sampai dengan saat ini Puji Tuhan > masih > sehat-sehat saja. > > KRONOLOGIS Penyakit Anakku (MAUREEN HIU) > > Tgl. 05 Nov' 2007 hari Senin pagi jam 05.00, anak saya mendadak bangun > dengan keluhan sakit perut, sudah diobati dengan menggunakan baluran > balsam > maupun bawang merah, tetap tidak sembuh, tiba-tiba anak saya muntah-muntah > sehingga langsung dibawa ke RS Hermina Jatinegara untuk diperiksa. Setelah > diperiksa dan obat dicoba untuk diminumkan, kondisinya terlihat tidak > terlalu mengkhawatirkan sehingga kita memutuskan untuk pulang ke > rumah. Tiba > di rumah +/- jam 10 hingga sore jam 4 anak saya tidak mau makan, minum air > putih maupun susu dan tetap mengeluh sakit perut, sehingga istri saya > memutuskan untuk rawat inap dengan pertimbangan anak saya sudah terlihat > lemas dan hanya mau tiduran terus di rumah. > > Tgl. 06-07 Nov' 2007, setelah diinfus ± 2 hari, anak saya mulai terlihat > lebih segar dan sudah ceria/badung lagi, meskipun sesekali masih tetap > mengeluh perutnya sakit dan makannya pun hanya sedikit sekali. > > Tgl. 08 Nov' 2007, hari Kamis pagi setelah cabut infus, ternyata kondisi > anak saya drop lagi, lantaran perutnya yang makin sakit dan nafsu > makan yang > berkurang. Malam harinya pun anak saya tidak dapat tidur karena > sebentar-sebentar bangun dan merintih/menangis karena sakit perut. > > Tgl. 09 Nov' 2007, hari Jumat pagi anak saya agak mengantuk dan lemas > karena > semalaman tidak tidur. Mempertimbangkan bahwa sakit perutnya tak kunjung > reda, istri saya minta ke dokter agar diperiksa urinenya untuk meyakinkan > apakah anak saya terkena infeksi saluran kencing, dan ternyata hasilnya > semuanya normal. Istri saya juga meminta agar anak saya dikonsultasikan ke > dokter pencernaan, yang dikatakan bahwa anak saya terkena radang lambung. > Namun setelah minum obat, anak saya tetap tidak ada perubahan, malah mulai > muncul keluhan sakit kepala, yang oleh dokter dikatakan normal > lantaran efek > sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Akhirnya Jumat malam hingga Sabtu > pagi kami mengalami nasib yang sama seperti malam sebelumnya (anak saya > tidak bisa tidur karena sakit perut) dan mulai jam 3 pagi anak saya mulai > muntah dan demam (37-38 C), sehingga akhirnya saya memutuskan untuk > memanggil dokter anaknya untuk datang segera. > > Tgl. 10 Nov' 2007, setelah dokter datang ± jam 06.00, anak saya kembali > diinfus dan diambil darahnya untuk pemeriksaan lengkap. Setelah diambil > darahnya, anak saya tiba-tiba kejang (2x) dan akhirnya dokter memutuskan > agar anak saya dirawat di ICU mengingat kondisinya yang parah. Setelah di > ICU baru diketahui penyebab kejang adalah karena tekanan darah yang tinggi > (170/100). Menjelang siang anak saya mulai hilang nafas sehingga harus > menggunakan ventilator/respirat or. > > tgl. 11-12 Nov' 2007 penanganan anak saya di ICU dilakukan oleh tim dokter > yg terdiri dr dokter2 spesialis (jantung, saraf, darah, enkologi, dan > dokter > anak yang pertama menangani anak saya). Pada saat itu para dokter masih > merasa aneh atas penyakit anak saya ini. Namun dugaan terkuat adalah > infeksi > selaput otak (manginitis) yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan cairan > otak lewat tulang belakang yang menunjukkan jumlah lekosit 40.000. Ini > juga > dirasa dokter sebagai hal yang tak wajar karena selama menjadi dokter > tidak > pernah diketemukan jumlah lekosit setinggi itu, paling top juga 1000 itu > sudah maksimal. > > Satu lagi keanehan penyakit anak saya, hari senin tgl. 12 Nov' 2007 > kemarin > anak saya sempat shock lagi, dimana nadi melemah dan detak jantung melemah > juga. Sementara menurut dunia medis hal yang wajar adalah nadi melemah > karena kekurangan cairan sehingga seharusnya akan menyebabkan detak > jantung > makin tinggi karena harus bekerja lebih cepat agar nadinya tetap dapat > berdenyut. Lebih anehnya lagi, begitu dokter akan menyuntikkan obat agar > nadi menguat, obat yang masuk hanya 5 cc saja, karena nadi sudah > menguat dan > detak jantung yang semakin cepat, sementara untuk kasus-kasus gawat serupa > umumnya obat yang harus disuntikkan minimal 50-100 cc. > > Tgl. 13-14 Nov' 2007, perkembangan terbaru, menurut suster jaga > semalam anak > saya ada pergerakan sedikit saat akan diambil darahnya, namun dokter tidak > bisa menjanjikan apa-apa karena tidak melihat secara langsung dan hasil > pemeriksaan medis masih belum menunjukkan angka/hasil yang memuaskan. > Meskipun pada saat itu hasil pemeriksaan lekosit darah menunjukkan angka > normal (8000) sementara sebelumnya sempat menunjukkan angka 32.000, namun > kondisi lainnya masih belum membaik, seperti gula darah masih terus tinggi > sehingga harus dipacu dengan insulin, kencing masih belum normal yang > terkadang banyak terkadang terlalu sedikit, tekanan darah yang juga masih > naik turun, dan suhu tubuh yang terkadang normal namun terkadang juga > terlalu dingin (dibawah 36 C). > > Tgl. 15 Nov' 2007 kemarin, kondisi anak saya menurun lagi, yang > ditunjukkan > dengan jumlah lekosit darah yang meningkat lagi menjadi 21.000, pct yang > naik dari 0,5 (normal) menjadi 10, dan ph yang menurun sehingga harus > dilakukan transfusi darah. mengingat infeksi dalam darah mengalami > peningkatan lagi, maka akhirnya dokter memutuskan untuk mengganti > antibiotiknya dengan antibiotik "gram positif" tipe lainnya yaitu tiennam > (sebelumnya Maxipim dan meronem dirasa bagus / sensitif untuk membunuh > kuman > seratia yang ditemukan dalam darah anak saya - setelah darah anak saya > dikultur selama ± 5 hari - namun karena kemudian lekosit dan hasil > test pct > nya naik lagi, maka antibiotiknya harus diganti karena hal tersebut > artinya > antibiotik yang lama sudah tidak efektif membunuh kuman seratia tersebut). > Urine anak saya juga mulai ada darahnya, sehingga akhirnya dokter ahli > darah > menyatakan anak saya harus diberi obat hibernin yang harganya ± Rp 4 > juta/ampul. Menurut dokter ahli darahnya, obat tersebut berguna untuk > mencegah pendarahan di dalam. Jumlah trombosit anak saya juga mengalami > penurunan, namun dokter masih belum dapat memastikan apakah penurunan > trombosit dikarenakan adanya infeksi, ataukah disebabkan karena telah > terjadi pendarahan di dalam yang oleh dunia medis disebut sebagai CDI. > > Sampai dengan hari ini, dokter masih terus memantau perkembangan/ efek dari > pemberian antibiotik yang baru (tiennam) maupun pemberian obat hibernin, > yang harganya setinggi langit itu. > > Saya terus berharap dan memohon bantuan doa dari Moms and Dads agar obat > yang terakhir diberikan dokter tersebut adalah benar-benar obat yang tepat > untuk membunuh kuman seratia tersebut, dan tidak ada kuman lagi ditemukan > selain kuman seratia tersebut. > > Seandainya ada di antara peserta milis adalah dokter spesialis, saya juga > mau bertanya apakah penanganan dokter terhadap anak tersebut sudah tepat > atau belum ?Apakah dokter pernah menangani kasus maningitis serupa dengan > yang anak saya alami ? Apakah memang gejala-gejala yang menyertai > maningitis > seperti gula darah tinggi, hipertensi, dan suhu tubuh yang terkadang > dingin > (< 36 C) normal diketemukan pada pasien penderita maningitis ? > > Demikian sharing dari saya. Sekedar informasi saja (hanya informasi saja > perlu diwaspadai tapi tidak boleh terlalu takut yang penting berserah > kepada > Tuhan) bahwa di Bandung sudah sering ditemukan anak-anak yang awalnya > hanya > menderita batuk, pilek, demam, maupun sakit perut biasa yang tak kunjung > sembuh, dan ternyata buntut-buntutnya adalah terkena penyakit maningitis. > Jadi saran saya, jika memang anak Moms and Dads ada yang mengalami gejala > serupa, segeralah untuk memeriksakan darahnya secara lengkap, sehingga > dapat > segera diketahui apakah hal tersebut suatu yang normal atau tidak. > > Brgds, > > Hasan > > ::BCA:: mudah-mudahan bermanfaat jazakallah bil jannah Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh Olivia Damarani Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how. Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage. ________________________________________________________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

