Dear Mama Rafe dan mama yang lain, kebetulan saya psikolog yang belakangan banyak ngurusi anak-2...
Sebetulnya kalau anak mulai sekolah sejak umur dini, yang terjadi adalah anak tersebut akan “mencari dan mengejar” ketinggalannya dia pada waktu-waktu yang “terpakai” untuk belajar. Karena di usia dini yang terpenting adalah main dan main dan main. Bukan belajar. Namun demikian, masa usia dini adalah masa keemasan / golden age untuk “memasukkan” berbagai informasi berguna sebagai bekal anak dikemudian hari. Lalu bagaimana menyelaraskan dua hal ini ? Jika memang ingin “menyekolahkan” anak di usia dini, carilah sekolah yang mengakomodasikan kebutuhan anak untuk bermain sambil tetap mendapat stimulus yang sesuai dengan taraf perkembangan usianya. Selalu diingat bahwa anak belajar ketika dia bermain. Jangan pernah menganggap enteng melihat hewat, memanjat tangga perosotan, mencoret kertas dengan spidol, dst, karena itu adalah “lahan” belajar anak. Mungkin bagi kita, semua itu mudah saja, tapi untuk mereka, bahkan untuk memegang spidolnya saja sudah suatu usaha besar. Belum lagi berada di lingkungan baru (sekolah), melihat orang-2 baru (teman dan guru) plus terpisah dari anda dan rumah, merupakan suatu prestasi sendiri. Saya sendiri punya anak balita. Anak saya sekolah sejak usia 2 tahun. Mulai bulan kemaren anak saya ikut “les” english dan agama. Tapi semuanya yang mengutamakan bermain. Sekolah anak saya sangat sangat menghargai kebutuhan anak untuk bermain. Saya lihat sendiri bagaimana mereka belajar bahasa Inggris sambil duduk di kereta mainan yang ditarik gurunya keliling sekolah. Sangat Fun. Kalau di rumah anak hanya nonton tv (sinetron pulak) dengan mbaknya yang sibuk SMS, tentu perlu dipertimbangkan “menyekolahkan” dia ke “sekolah” yang fun dan penuh stimulus berguna . Tapi, kalau anak disekolahkan di sekolah yangtidak tepat mengajarkan stimulus (tidak sesuai dengan tahapan perkembangan seorang anak, misalnya di usia TK sudah harus baca tulis, di Play group anak harus duduk manis dan mendengarkan guru), lebih baik anak di rumah main dengan keluarganya. Semoga penjelasan ini berguna. Kalau perlu info lagi, boleh japri. R/ Dian Psikolog yang sering nulis ttg anak dan kerjaannya ngurusi anak J

