- Yusri - at 22/02/2008 11:37 wrote: >Setelah dikasuskan ke pengadilan thn 90an, hanya diganti dengan >rumah yg gak ada harganya (baik lokasi maupun modelnya) >Yg ada kerugian bertambah, selain rugi materi.......waktu.....dan emosi.....
***Juga mo ikutan ah,... Perusahaan kita punya piutang ke sebuah perusahaan BUMN. Cukup banyak sekitar 400 juta-an. Memang kondisi perusahaan lagi kembang kempis. Ini memang benar, karena gaji karwayannya sampai diutang, itu yang lalu cuma dibayar separuh. Surat-surat lengkap. Kita sudah datangi baik-baik, tapi ya memang kondisinya begitu. Jadinya kita ikhlaskan. Bukan kita hilangkan, tapi kita pending. Nanti kalau perusahaan itu baik, kita akan nagih. Kalau main tuntut, hanya habis sumber saya tanpa hasil. Untuk teman karib, saya berprinsip pantang untuk ngutangi. Kalau ada yang utang, lebih baik saya kasih saja. Tapi tentu tidak sebesar dia ingin hutang, dan semampunya. Kita senang, dia juga senang terbantu. Karena pengalaman dari yang lain, kalau ada masalah keuangan ini bikin hubungan yang baik menjadi tidak baik. Bahkan sama saudara sekalipun. Bagaimana kalau sudah terjadi ? Kita tagih sebaik mungkin ? Masih ngemplang,... Ya sudah, kita ikhlasin. Saya percaya Tuhan tidak tidur. Pasti ada implikasi dari ini semua. Kadang meski begitu, kita tidak jadi miskin. Bahkan kita semakin kaya. Tapi sebaliknya dengan dia. Maaf, tidak beli jawaban debt collector. Terima kasih M.Yusuf.web.id --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung. - [QS: Yunus: 62-64] - ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

