Mama Rafe, selamat ya atas kehamilan keduanya.
Saya pengen tau, sebenarnya tiap kali menyusi Rafe, apa benar terjadi 
kontraksi? Kalo memang benar, maka Rafe sebaiknya disapih. Tapi kalo baik-baik 
saja, ga ada salahnya kok terus menyusui, bahkan ada yang berlanjut jadi tandem 
nursing, menyusui kakak dan adiknya bersamaan. Mbak Mia Sutanto (Ketua AIMI) 
pernah menulis surat terbuka ke tabloid Femina mengenai masalah ini, berikut 
tulisannya :

----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Mia Sutanto <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Cc: Yeye Andriati <[EMAIL PROTECTED]>; Nia Umar <[EMAIL PROTECTED]>
Terkirim: Selasa, 30 Oktober, 2007 10:45:48
Topik: Tanggapan Atas Rubrik Seks & Ginekolog Yang Berjudul: ”Tandem Nursing, 
Amankah?”

Yth.
Redaksi Majalah Femina

Kami, dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) ingin menyampaikan beberapa 
hal sehubungan dengan jawaban dr. Arman dan dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG dalam 
artikel sebagaimana tersebut diatas, yang dimuat dalam majalah Femina edisi No. 
43/XXXV terbitan 1-7 November 2007, sebagai berikut:

(1) menyusui pada saat sedang hamil (nursing while pregnant – bukan tandem 
nursing), pada umumnya aman dilakukan orang seorang ibu dengan ketentuan bahwa: 
(a) tidak ada riwayat keguguran;
(b) tidak ada riwayat kelahiran prematur;
(c) kondisi kehamilan bagus – beresiko rendah; dan
(d) kondisi kesehatan ibu bagus – tidak mengalami kelelahan.

(2) kadangkala, ada seorang ibu yang sedang hamil dan masih menyusui mengalami 
kontraksi rahim, hal ini biasanya ditimbulkan oleh rangsangan isapan pada 
payudara yang menyebabkan hormon oksitosin untuk bekerja (hormon yang selain 
merangsang refleks pengaliran ASI juga dapat mempercepat kelahiran). Dalam 
situasi seperti ini, ibu sebaiknya berhenti menyusui bila ada kontraksi rahim, 
timbul rasa nyeri di pinggang bagian bawah, terasa ada tekanan di bagian dasar 
panggul, timbul kram, dan keluar lendir, darah atau air ketuban. Namun 
demikian, beberapa penelitian terbaru juga menyimpulkan bahwa tidak ada teori 
yang melatarbelakangi anggapan bahwa menyusui dapat memicu terjadinya keguguran 
atau persalinan sebelum waktunya bila kehamilan ibu yang bersangkutan sehat. Di 
lain pihak, rahim juga memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk mencegah efek 
dari hormon oksitosin yang dilepaskan selama berlangsungnya kegiatan menyusui. 
(kami lampirkan artikel yang
ditulis oleh Prof. dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Bagian Ilmu Kesehatan 
Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta) 

(3) sangat tidak benar bahwa: "...anak anda sudah berumur 15 bulan, sehingga 
kebutuhan gizinya tidak dari ASI lagi...", dan "... sekarang, karena ASI sudah 
tidak terlalu bermanfaat lagi bagi kecukupan gizi bayi anda...", serta 
"...untuk anak usia 1,5 tahun, menyusu lebih untuk kesenangan psikologisnya 
saja ...". Berikut kami sampaikan beberapa rangkuman mengenai berbagai manfaat 
ASI dari segi gizi, nutrisi dan imunologis (kami lampirkan juga berbagai 
artikel sehubungan dengan hal ini):

(a) di tahun kedua kehidupan seorang anak, ASI tetap merupakan sumber asupan 
vitamin C (95%), vitamin A (45%), protein (38%) dan energi (31%), bahkan 
melebihi usia anak 2 tahun, ASI tetap merupakan sumber penting bagi asupan 
protein, lemak, kalsium dan vitamin. 
(b) anak tetap mendapatkan berbagai manfaat imunologi dari ASI, bahkan setelah 
anak berusia 1 tahun, faktor-faktor imunologi dalam ASI justru meningkat, 
sehingga batita yang tetap mendapatkan ASI secara keseluruhan lebih sehat. 
(c) berbagai keunggulan medis dari kegiatan menyusui dan pemberian ASI 
(seperti, misalnya, menurunnya resiko kanker para ibu dan anak, tingkat IQ yang 
lebih tinggi, penurunan resiko obesitas pada anak) sangat tergantung pada dosis 
– artinya, semakin lama menyusui, maka aspek perlindungannya akan semakin 
besar. 
(d) ASI memberikan perlindungan untuk anak-anak yang menderita dan/atau 
mempunyai riwayat alergi. 

WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama 
kehidupan seorang bayi, dan dilanjutnya sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. 
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI esklusif 
selama 6 bulan, dan diteruskan minimal sampai anak berusia 1 tahun atau lebih.

Kami sangat mengharapkan Majalah Femina dapat lebih berhati-hati di lain 
kesempatan apabila memuat artikel, ataupun memuat jawaban para ahli medis yang 
sekiranya dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Dalam hal ini, perlu kami 
sampaikan bahwa banyak sekali para anggota kami yang juga merupakan pelanggan 
setia Majalah Femina, yang merasa sangat terganggu dengan masalah ini. 

Terima kasih atas perhatiannya, dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. 

Salam ASI!
ASOSIASI IBU MENYUSUI INDONESIA (AIMI)
Mia Sutanto (Ketua)


Selain itu, ada juga email yang disampaikan Mbak Mia untuk member milis sebelah 
yang juga sedang menghadapi persoalan yang sama, sebagai berikut :

Dear Ririe,

selamat ya atas kehamilannya yang ketiga ini...memang rasanya luar biasa 
bahagia setiap kali kita dikasih amanah sama Allah SWT.

Mengenai hubungan antara menyusui dan keguguran pada suatu kehamilan, berikut 
adalah informasi yang saya ketahui:

(1) ibu boleh tetap menyusui, asalkan: (a) tidak ada riwayat keguguran pada 
kehamilan sebelumnya, (b) tidak ada riwayat kelahiran prematur, (c) kondisi ibu 
sehat (tidak kecapekan, tidak sedang menderita sakit, dll), dan (d) kondisi 
kandungan sehat;

(2) tidak ada bukti scientific bahwa menyusui dapat menyebabkan 
keguguran...memang beberapa wanita mengalami kontraksi pada saat sedang 
menyusui, tetapi tidak ada bukti bahwa kontraksi inilah yang 
menyebabkan keguguran...karena rahim sebenenarnya memiliki mekanisme pertahanan 
tersendiri terhadap jenis2 kontraksi yang bersifat non-labor induced (kontraksi 
yang bukan karena akan melahirkan), seperti saat sedang menyusui atau akibat 
berhubungan (maaf) seks.

Kalau saya baca ceritanya Ririe, sepertinya memang Ririe kecapekan ya...sama 
seperti para moms lainnya disini, saya sarankan untuk bedrest total selama 
beberapa hari...pekerjaan rumah tangga sementara bisa ditinggalkan...dan obat 
penguat janin bisa terus dikonsumsi...

Mengenai saran dsog untuk STOP MENYUSUI, sebelumnya mohon maaf apabila ada 
keluarga dsog tersebut yang ikutan milis ini...tetapi setahu saya dsog tersebut 
memang tidak pro-ASI dan kurang paham mengenai hubungan antara menyusui dan 
keguguran...sayangnya lagi, karena usia kandungan masih sangat muda (8 minggu) 
kondisi janin belum bisa terlihat secara jelas.

Dulu waktu hamil anak 1 saya juga mengalami pendarahan pada trimester 
pertama...jadi total bedrest selama beberapa minggu...alhamdulillah kehamilan 
kedua ini (17 minggu) so far tidak ada masalah (bahkan bayinya cenderung 
"preman"...hehehe...diajak ngapain aja OK...). Dsog saya selalu menerangkan 
bahwa pada trimester 1, keguguran terjadi karena faktor janinnya...artinya, 
keguguran disebabkan karena there's something wrong with the baby...bukan 
karena apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh ibunya.

Apabila bila Ririe masih ingin menyusui Hilmi, berikut beberapa tips yang bisa 
dilakukan:

(1) menyusui sambil tiduran/rebahan...jadi sekalian bedrest, karena pengertian 
bedrest adalah total di tempat tidur dan keluar dari tempat tidur hanya untuk 
mandi, BAB dan BAK saja;
(2) pelan2 dibatasi frekuensi dan lamanya menyusui;
(3) terus memantau kondisi fisik diri sendiri...apabila tiba2 terjadi kontraksi 
atau pendarahan semakin hebat (seperti menstruasi biasa) langsung ke dsog;
(4) minta tolong suami dan anggota keluarga untuk membantu mengurus pekerjaan 
rumah tangga dan membantu mengurus anak2.

Mudah2an saran saya bisa membantu...yang penting ibunya jangan stress, 
berpikiran positif dan ihklas.

Salam ASI!
Mia Sutanto
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)
Menyusui: Anak Sehat, Keluarga Bahagia


Semoga email2 dari Mbak Mia yang saya teruskan ini bisa menjadi bahan 
pertimbangan untuk memutuskan apa yang terbaik buat Refa dan mamanya. Yang 
penting Mama Refa berpikiran positif dan tenang, kalopun terpaksa menyapih juga 
harus dengan keikhlasan penuh supaya tidak muncul perasaan bersalah. Dan 
sedikit masukan dari saya, ada baiknya dikomunikasikan dengan baik ke Rafe dan 
curahi dia dengan kasih sayang dan perhatian yg lebih banyak supaya dia tidak 
merasa terasingkan karena kehadiran adiknya.

Semoga membantu dan maaf kalo ada yg kurang berkenan.

Regards,

Ratna, Mama Wina

Kirim email ke