dari http://ParentingIslami.wordpress.com
---

Dulu pertama kali si kecil berbicara, kata "Mama" yang pertama kali keluar
dari mulut mungilnya. Kami begitu senang dan pengennya nunjukkin ke neneknya
bahwa si kecil sudah berbicara "Mama". Si Nenek senang sekali mendengarnya,
karena dari dulu nenek pengennya memang dipanggil "Mama" oleh si kecil. Dan
tentu saja, kakek si kecil tidak mau ketinggalan. Ketika si kecil di bawa ke
sana, tak henti-hentinya si kakek mengajari si kecil mengucapkan kata
"Papah" walaupun ternyata tidak mudah. Pada saat itu, kata "Papah" tidak
keluar dari mulutnya. Setelah satu bulan kemudian kira-kira, baru kata
"Papah" akhirnya keluar.

Setelah itu, si kecil semakin mahir berbicara. Pada umur 1 tahun 4 bulan, si
kecil sudah memanggil kami "Bii.. Mi..", dua bulan berikutnya, si kecil
sudah bisa mengucapkan dua suku kata menjadi "Abi" dan "Umi" setelah kata
"Abi" dan "Umi" selalu kami gunakan ketika kami berkomunikasi dengannya.

Kalau dimati sih, yang pertama, si kecil lebih mudah mengucapkan kata yang
suku katanya berulang. Seperti misalnya "Mama", "Papa", "Kupu-Kupu", "Pipi",
dsb. Sehingga biasanya kata-kata yang seperti itu yang pertama kali muncul
dari si kecil.

Yang kedua, ternyata pada awal belajar, si kecil biasanya mengucapkan suku
kata terakhirnya saja. Jadi kalau katanya adalah "Abi" maka yang pertama
kali dia bisa sebutkan adalah "Bi". Begitu juga untuk kata-kata yang
panjang. Nah, sebagai orang tua, kami ingin sekali muncul kalimat thayyibah
atau doa dari mulut si kecil. Kemudian, kami coba latih dengan pancingan
kata. Misalnya ketika mau makan kami pancing dengan "Bismil??", kemudian si
kecil berkatan "ah". Di lain waktu ketika selesai makan kami pancing
"Alhamduli", kemudian si kecil menjawab "ah". Kami juga coba untuk membentuk
konsep dirinya dengan pancingan kata yang lain misalnya "Aa Fatih anak
Sho??", kemudian dia menjawab "Leh". "Aa Fatih anak Pin??", dia jawab "Tang"
dengan gaya cadelnya. Terus saja seperti itu, sedikit sedikit, alhamdulillah
si kecil bisa mengucapkan kata yang lebih kompleks. Sekarang, sekali
dicontohin, si kecil langsung bisa menyebutkan suku kata terakhirnya, bahkan
katanya secara utuh.Dan sekarang si kecil sudah bisa membentuk suatu kalimat
sederhana, "Aa Jatoh, sakit", celotehnya ketika dia terjatuh.

Yang ketiga, walaupun si kecil belum mampu mengucapkan kata, tapi sering
kali dia tahu apa yang kita maksud. Ketika saya tanya, "meja yang mana Aa?",
dia bisa menunjukkan benda yang kami maksud walaupun pada saat itu si kecil
belum bisa mengucapkannya.

Yang keempat, konsistensi penyebutan kata-kata sangat penting untuk
memudahkan si kecil belajar bicara dan mengingatnya. Kata pertama yang kita
ucapkan untuk memperkenalkan suatu benda, pekerjaan, sifat pada si kecil,
itu yang akan diingatnya. Misalnya sampai sekarang si kecil menyebut
aktivitas sholat dengan "Aoh". Di sudah mengasosiasikan aktivitas tersebut
dengan sebuah kata tertentu.

Yang kelima, suatu saat saya mencoba untuk mengajari si kecil mengucapkan
"Allahu akbar". Ternyata susah sekali. Sampai akhirnya saya coba
mengucapkannya sambil menggerakan tangan seperti orang sedang takbiratul
ihrom. Ternyata berhasil. Si kecil bisa mengucapkan "Allahu akbar".

Yang keenam, kami menyimpulkan anak adalah peniru luar biasa. Apapun dia
tiru. Termasuk masalah ucapan. Baik ataupun buruk kata yang sering
diperdengarkan oleh orang-orang di sekitarnya, kira-kira seperti itu pula
kata yang akan si kecil sebutkan. Jika tante si kecil adalah anak "ABG"
seumuran SMA atau kuliahan, maka jangan heran kalau tiba-tiba si kecil
berkata "Cape Deeehhh".

[MOHON MAAF kalau ke send 2x]

Kirim email ke