Dear Ibu2,

Mau ikutan nimbrung. Beberapa bulan lalu ketika menemani Ody untuk assesment di 
sebuah TK Islam Swasta di Depok, aku sempet ngobrol2 dengan Ibu Kepseknya. 
Beliau bilang bahwa sekolah TKnya nggak/blm mengajarkan siswa TK untuk membaca. 
Karena menurut beliau, dalam standar yang ditetapkan Pemerintah melalui 
Depdiknas, tidak pernah ada ketentuan atau persyaratan kalo masuk SD sudah 
harus bisa membaca. Di TK Ody, anak2 tidak diwajibkan untuk belajar membaca, 
dan dikembalikan lagi pada kemampuan masing2 anak, nggak disamaratakan untuk 
semua. Misalnya jika 1 orang udah bisa baca, trus yang lain juga "dipaksa" spy 
bisa baca. Intinya, sekolah memfasilitasi saja. Jika anak udah ada kemauan dan 
kemampuan untuk (belajar) membaca, maka sekolah memberikan stimulasi2 melalui 
berbagai aktivitas2 & permainan untuk merangsang kemampuan anak untuk membaca. 
Jika belum, maka ia akan diarahkan ke aktivitas lainnya yang menarik minatnya.

Menurut Ibu Kepala Sekolah tersebut, karena sistem pendidikan di sekolah mereka 
yang spt itu, kadang ada ortu murid yang kaget, dan malah memindahkan (nggak 
jadi menyekolahkan) anaknya, dan pindah ke TK lain yang mengajarkan membaca. 
Sehingga, dari jauh2 hari pihak sekolah sudah menjelaskan sistem pendidikan 
mereka pada orang tua murid.

Kesimpulan yang aku dapat adalah, adanya TK yang mengajarkan membaca mungkin 
juga hanya merespon keinginan/demand orang tua murid yang menginginkan agara 
anaknya diajar membaca. Kayaknya, lagi2 hukum ekonomi "demand creates its own 
supply" berlaku. Sebab ada tipe ortu yang gini, "Ngapain gw bayar mahal2 tapi 
anak gw cuma diajarin nyanyi2". Akhirnya, anak menjalani menjalani proses 
pembelajaran yang merupakan refleksi dari keinginan dan harapan orang tua, 
ingin seperti apa anaknya. Jadi di sini penting banget untuk menyelaraskan  
keinginan kita dengan  sistem pendidikan di sekolah. Demikian juga akhirnya, 
hal ini terbawa ke jenjang SD, di mana pihak SD pun kadang kurang paham, 
sehingga dengan anggapan bahwa semua anak TK udah diajarin baca, akhirnya 
kemampuan calistung menjadi satu2nya indikator yang menentukan apakah anak 
diterima atau tidak.

Aku sendiri memperhatikan, tahapan tiap2 anak beda2. Jangankan kemampuan 
membaca, menulis, berhitung, atau menggambar, ketika ia mulai belajar 
merangkak, berjalan tertatih, jalan dengan seimbang, dan bicara pun, masing2 
anak kemampuan dan waktunya beda. Percayalah, bahwa anak kita memiliki 
prosesnya sendiri2, jangan terlalu panik, dinikmati sambil terus diarahkan 
adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, dibandingkan 
"memaksa" anak menjadi produk proses pembelajaran yang blm pada waktunya. Dan 
terakhir, stop  comparing our own kids to another 'coz every kids are unique.

Mohon maaf kalo kepanjangan dan ada yang kurang berkenan. 

Salam,
Emaknya Odisseus
my blog: www.deanisaja.blog.com
my online gallery: www.excellagallery.com (currently still under development)


      

Kirim email ke