Hi mom, 
ini address sinshenya...
sorry ya kelamaan :)
toko obat cap bintang (tay seng hoo)
jl. pancoran no 28. Glodok
no telp 021-6903172 dan 021 6912213

 
Best Regards,
 
Jovita Roland
http://www.onlinemilkyway.com
'milkyway, your nursing fashion solution'
 



----- Original Message ----
From: Silvi Yeni <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, May 16, 2008 5:49:30 AM
Subject: Re: [parentsguide] obat ASMA dari sinshe!


Hi mom, alamat sinshe/ no.tlpnya udah ketemu? Saya jadi tertarik. Soalnya anak 
saya Rakha & Radhi (kembar, 2 thn 8bln), dua2nya asma, sampai skrg mereka jadi 
tergantung sama uap & obat. Saya sebenernya kawatir sekali, sebentar-bentar 
obat, tapi gimana lagi, kalo sedang kumat, kasihanan sekali, sesak nafas.
 
Thanks ya mom infonya.
 
 
 
--- On Thu, 8/5/08, j roland <jovitaroland@ yahoo.com> wrote:

From: j roland <jovitaroland@ yahoo.com>
Subject: [parentsguide] obat ASMA dari sinshe!
To: parentsguide@ yahoogroups. com
Date: Thursday, 8 May, 2008, 9:16 AM



 Hi mom Nadya,
 
Mudah2an bisa membantu nih...
 
Ada saudaraku juga yang pernah kena asma, dia kedokter mana mana gak sembuh, 
trus mamanya coba ajak ke sin she, cuma disuruh makan jamur (warnanya putih, 
kering, kalo dimasak ngembang kayak agar) yang beli di hero itu(namanya lupa, 
nanti kalo jalan2 aku coba cari tau namanya ya). cara makan jamurnya juga gak 
ribet, karena jamur ini kayak agar, jadi dimakannya pake simple syrup atau 
syrup biasa aja....
Puji Tuhan sepupuku itu jauuuhh membaik dari pada makan obat dokter.. trus 
teman suamiku yang asma berat aku kasih tau hal yang sama, dia rajin makan 
jamur itu Puji Tuhan sampe sekarang hampir gak pernah kumat...
 
Atau kalau mau konsul ma sinshe itu japri aku ya, aku masih punya no telpnya 
lagi mejeng di kulkas hehehehe...
 
Mohon koreksi bagi yang punya info lebih.
Best Regards,
 
Jovita Roland
http://www.onlinemi lkyway.com
'milkyway, your nursing fashion solution'
 



----- Original Message ----
From: Nadya Tehupuring <tehupuringsirait@ yahoo.co. uk>
To: parentsguide@ yahoogroups. com
Sent: Wednesday, May 7, 2008 7:06:14 PM
Subject: Re: [parentsguide] say no to puyer & ASMA!


Aduuuh sereeem juga yaaa ngebacanya secara anak2 kita kan kebanyakan selalu 
dapat puyer dari dokter ya.
Anak ku yang ke 2 yang kebetulan asma juga selalu dapat puyer dari dokternya, 
dan setelah beberapa kali kembali ke dokter tersebut selalu mendapatkan obat yg 
sama yg hanya di ulang2 saja dengan kadar pemakaian yg dirubah sedikit 2 
menjadi 4 atau sebaliknya. Aku sudah mempertanyakan hal tsb ke dokter yg 
bersangkutan & jawaban beliau kurang memuaskan hatiku sebagai orang tua, oleh 
karenanya aku memutuskan utk tidak kembali lagi ke dokter tersebut.
 
Nah sekalian aku mau bertanya nih, kira-kira dari teman-teman ada yang dapat 
menyarankan nggak ya untuk penyembuhan asma. Anakku yang ke dua ini baru 
berumur 2.5thn tetapi sudah terlalu sering kambuh. Saran dari dokternya sudah 
aku coba se maximal mungkin diikuti, tetapi secara hidup di Jakarta kan ya 
pastinya masih aja ada debu dll.
 
Ada yang bisa bantu nggak ya?
sebelum dan sesudahnya terima kasih ya & Eva thank you ya untuk infonya.
 
 
--- On Wed, 7/5/08, Eva Julia <ticklegiggle@ yahoo.co. id> wrote:

From: Eva Julia <ticklegiggle@ yahoo.co. id>
Subject: [parentsguide] say no to puyer
To: "Milis Parentsguide" <parentsguide@ yahoogroups. com>, "MUMSKIDS" 
<mumsandkidsclub@ yahoogroups. com>
Date: Wednesday, 7 May, 2008, 5:17 PM


 Subject: Say NO to Puyer!!


May 5, '08 10:20 AM
Say NO to Puyer!

Sabtu kemarin, tanggal 3 Mei 2008, aku
ikut seminar kesehatan, dengan tema : Seminar dan Diskusi Pakar :
Puyer,
Quo Vadis? Sepintas, nggak ada yang aneh sama judulnya.. kelihatannya
cuma
'oohh tentang puyer'. Siapa sih nggak kenal puyer? Dari jaman kita
masih kecil, sampe sekarang kita punya anak, dokter kan sering
meresepkan
puyer buat kita. Jadi, kenapa musti dibuat seminar khusus??


Menilik para pembicara... hmmm...

1. Prof. Dr. dr. Ria nto Setiabudi, Sp.FK
(Departemen Farmakologi FKUI)

2. Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Departemen
Farmasi FKUI)

3. Dr. Moh Shahjahan (WHO)

4. dr, Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K),
MMPed (Yayasan Orang Tua Peduli)

Kemudian ada diskusi yang diikuti para
panelis dari YLKI, IDI Jakarta, Pembicara, Majelis Kode Etik
Kedokteran, Dirjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes.

Jelas ini seminar penting. Pesertanya
lumayan banyak, ada dari mahasiswa FKUI, dokter2, apoteker2, dan juga
masyarakat awam. Pesertanya sekitar 300 orang. Makin penasaran, hal yang begitu
biasa diseminarkan, dengan dihadiri para ahli pula??

Dari seminar ini, aku lumayan terhenyak
dengan penjelasan dari Prof Ria nto. Sebenernya aku udah tau sih, puyer
itu polifarmasi, yang akan meningkatkan efek samping obat, yang
dosisnya jadi nggak jelas, yang meningkatkan risiko interaksi obat, de el el.
Tapi penjelasan Prof Ria nto lebih membuka mata terhadap risiko puyer yang
nggak main-main. Apa aja sih risiko pemberian puyer itu :

1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa?
karena obat-obatan yang dicampur tersebut punya kemungkinan
berinteraksi satu sama lain.

2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai sasaran krn proses
penggerusan. Ada obat yang sedemikian rupa dibuat, karena obat tersebut akan 
hancur
oleh asam lambung. Karena misalnya, obat itu ditujukan untuk infeksi
saluran pernapasan atas, maka obat tersebut harus dibuat sehingga terlindung
dari asam lambung. Nah, kalo digerus jadi puyer, ya obat itu akan segera
hancur kena asam lambung. Lebih buruk, obat itu bisa jadi malah akan melukai
lambung.

3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin apal sama setiap
merek obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter meresepkan 2 merek obat yang
berbeda, namun kandungan aktifnya sama.

4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek samping - karena
berbagai obat digerus jadi satu (Prof Ria nto menyebutkan, ada dokter
yang meresepkan sampai 57 obat dalam 1 puyer!!!), dan terjadi reaksi efek
samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak obat mana yang menimbulkan
reaksi, lha wong obatnya dicampur semua...

5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi tulisan dokter bisa jadi
nggak kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat salah peracikan (Prof
Ria nto mencontohkan pasien asma diberi obat diabetes karena apoteker
salah baca tulisan dokter. Alhasil pasien seketika pingsan, dan saat sadar,
fungsi otaknya sudah tidak bisa kembali seperti semula).

6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender, sehingga akan
ada sisa obat yg menempel di alatnya. Berarti, puyer yang diberikan ke
pasien, dosisnya sudah berubah - jadi.. kalo yang diresepin itu AB, tetep akan
ada kemungkinan resistensi dong ya, kan dosisnya udah di bawah dari
yang diresepin dokter?

7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril, istilahnya harus dibuat
dalam ruangan yang jumlah kumannya sudah disterilkan (istilah kerennya
sterile room) - lha waktu proses pembuatan puyer di apotek... hmmm di
dalem sterile room kah? Apotekernya pake sarung tangan kah? Sisa obat lain yang
sebelumnya digerus, sudah dibersihkan dengan benarkah? Kalo itu semua
jawabannya tidak (atau salah satu aja jawabannya tidak), means, obat yang 
digerus
sudah tercemar.

Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja dibuat slow release,
artinya dalam 1 tablet yang diminum, itu akan larut sedikit demi
sedikit di dalam tubuh. Kalo sudah digerus jadi puyer, obat itu akan seketika
larut. Kebayang kan , berarti akan ada efek dumping... mampukah tubuh kita
menahan efek itu? Sementara, yang biasa dikasih puyer kan bayi dan anak-anak...
mampukah tubuh kecil mereka menahan efek ini..??

Lebih terhenyak lagi, saat Dr. Moh Shahjahan
dari WHO menceritakan bawa untuk Asian Region, cuma Indonesia yang
masih pake puyer. Even Bangladesh , yang miskin itu, sudah lama meninggalkan
puyer, karena dinilai terlalu banyak risks nya ketimbang benefitnya.

Sayang, dari seminar tersebut, para
dokter sendiri masih pro dan kontra mengenai puyer. Kebanyakan yang pro
puyer, hanya menyoroti soal murah dan mudah ( kan pasien kecil susah
minum obat)... tapi kalo sudah membahayakan jiwa... masihkah bisa berlindung
di balik alasan2 tersebut??

So far, yang bisa dilakukan hanyalah
menyadari konsumen yang bijak. Bukan dokter yang akan menanggung efek
sampingnya.. .tapi anak-anak kita.. jadi bijaklah dalam memutuskan apapun yang 
harus
diminum oleh anak...

dr. Purnamawati menyarankan:
1. tanya diagnosa dalam bahasa medis,
setiap kali kita berkunjung ke dokter (ternyata radang tenggorokan itu
bukan diagnosa, tapi gejala... hiks..), supaya kita bisa browsing di
internet mengenai penyakit tersebut

2. tiap kali diberi obat (atau resep)
tanyakan nama obatnya, kegunaan obat tersebut, dan efek sampingnya.
Usahakan, sebelum ditebus, browsing dulu di internet, supaya kita benar2 tahu 
apa
kandungan aktif dari obat tersebut dan apa efek sampingnya.

Selama kita masih bisa ke dokter, dan dokter masih sempet nulis resep, artinya 
keadaan belum emergency. Jadi sempatkan untuk browsing dan/atau cari 2nd 
opinion. Kalo keadaan
emergency, pasti dokter gak akan nulis resep, tapi akan segera merujuk ke RS,
bukan?

Soal obat, aku punya pengalaman, dikasih
obat penahan rasa sakit sama dokter (saat itu aku menderita abses
peritonsillar
- di dokter ke 3 baru berhasil dapetin diagnosa ini, 2 dokter
sebelumnya cuma bilang radang tenggorokan) , yang ternyata efek sampingnya :
penurunan kesadaran, halusinasi, pendarahan lambung... Jadi, ndak usah ditebus
aja lah... masih bisa kok nahan sakit sebentar lagi.

Semoga, berawal dari seminar ini, dunia
kesehatan Indonesia bisa lebih berbenah diri, demi anak-anak Indonesia .

Regards,
Uci mamaKavin+Ija
________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers  

________________________________
Sent from Yahoo! Mail. 
A Smarter Email. 
________________________________
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.  

________________________________
Sent from Yahoo! Mail. 
A Smarter Email.  


      

Kirim email ke