Dear Mbak Dewi dan parents yang lain, maaf saya baru mereply sekarang, dari kemaren-kemaren sebenarnya sudah ingin membantu memberikan masukan, tapi saya ingat hari ini PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua) di Surabaya membahas tentang TBC pada anak, jadi saya tunda postingannya supaya sekaligus bisa dilengkapi dengan ilmu baru yang saya dapatkan dari seminar hari ini.
Pertama, seringkali dokter tidak terang-terangan sama kita mengenai TBC pada anak, lebih sering menyebutnya 'flek pada paru'. Saya sekedar ingin menginformasikan pada teman-teman semua bahwa yang dimaksud dengan istilah FLEK PARU = TBC PARU (Kuman TB bisa menyerang organ lain selain paru-paru, makanya mesti spesifik menyebut TB Paru, red.) Negara kita ini memang endemik TB, jadi sangat wajar kalo anak kita terpapar. Mbak Dewi, sebenarnya apa sih yang bikin Mbak ke dokter dan memeriksakan anaknya? Apakah anaknya demam berkepanjangan, batuk-batu kronik, atau ada orang dewasa di dekatnya yg positif TB? Apakah gara-gara menurut Mbak Dewi BB Alya kurang? Just for your information, anak saya Wina, pas usia 11 bulan BB nya 7.8kg, sekarang 17 bulan BB nya 9.2kg, berarti lebih kurus dari Alya dong? ^_^ Makan juga banyak, minum ASI pol-polan, tapi tingkahnya juga kayak kuda, kalo ga lari-larian sampai keringetan, basah kuyup sekujur tubuh, bukan Wina namanya he he. Maaf ya intermezo. Saya tanya begini karena seringkali ada salah kaprah soal diagnosa TB pada anak ini, dan belakangan banyak banget dokter yang memvonis anak TB sebelum dilakukan pemeriksaan menyeluruh karena diagnosa TB butuh alat diagnosa gabungan. Diagnosa TB pada anak itu sulit lho, dan mesti hati-hati sekali karena pengobatannya butuh waktu lama dan obat-obatannya SANGAT BERESIKO merusak fungsi liver anak. Saya ga mungkin tulis semuanya, saya buatkan garis besarnya aja ya. Diagnosa TB pada anak yang paling logis, menurut kelompok kerja TBC anak (IDAI, DEPKES & WHO 2004), adalah dengan sistem skoring. Orang tua bisa melakukan sendiri kok dalam menghitung skornya, ada 8 parameter sebagai berikut : 1. Kontak dengan penderita TB (tidak jelas = 0 poin, hanya laporan keluarga atau kontak dengan penderita yg sudah berobat = 1 poin, kontak dengan penderita TB aktif = 3 poin) 2. Uji Tuberkolin/ Tes Mantoux (negatif = 0 poin, positif = 3) 3. Berat badan anak berdasarkan KMS (dibawah garis merah atau riwayat BB turun atau tidak naik 2bln berturut-turut = 1 poin, secara klinis gizi buruk = 2 poin) 4. Demam tanpa sebab jelas (tidak ada = 0 poin, lebih dari 2 minggu = 1 poin) 5. Batuk berkepanjangan (< 3minggu = 0 poin, > 3 minggu = 1 poin) 6. Pembesaran kelenjar di sekitar leher (ukuran lebih dari 1 cm, jumlah lebih dari 1 buah, tidak nyeri saat di tekan = 1 poin) 7. Pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut (bila ada pembengkakan = 1 poin) 8. Foto rontgen (normal = 0 poin, suspect/curiga = 1 poin) Anak dikatakan positif TB bila skor dari ke-8 parameter di atas adalah MINIMAL 6 POIN. Jadi silahkan dihitung sendiri berdasarkan pengamatan masing-masing. Soal LED Alya yang tinggi sudah saya tanyakan pada Dr. Wati, beliau mengatakan bahwa LED bisa saja tinggi akibat infeksi biasa, bahkan orang yang habis kena radang tenggorokan LED nya bisa tinggi. Jadi LED bukan indikasi TB. Gejala Umum (non spesifik) TB Anak : - demam lama/berulang > 2minggu tanpa sebab yang jelas (singkirkan dulu kemungkinan ISK, tifoid, malaria,dll), bisa disertai keringat di malam hari. Umumnya demamnya tidak terlalu tinggi. - anoreksia/nafsu makan menurun disertai gagal tumbuh, penurunan BB, atau BB tidak naik sama sekali 2 bulan berturut-turut - batuk lama > 3 minggu dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain (kalo batuk berulang kemungkinan asma, batuk flu juga bisa lama tergantung daya tahan tubuh) - diare kronik/tidak sembuh-sembuh (sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI) Rumit kan ya? Kesimpulannya: 1. Diagnosa TBC anak itu susah 2. Banyak kerancuan pada kasus TBC anak. Seringkali sebab-akibat dibolak-balik dan jadi kacau. Anak kurus belum tentu TBC. Anak ga doyan makan atau nafsu makan menurun, belum tentu TBC, bisa aja ibunya kurang kreatif bikin makanannya jadi anaknya bosan dan males makan he he. Nah apalagi katanya Alya makan dan minumnya banyak, jadi coba pertimbangkan faktor-faktor lainnya. 3. Rontgen pada anak kurang terlalu mendukung diagnosa TB. Saya kebetulan lulusan Radiologi, 6 tahun berkecimpung di bidang ini (1997-2003). Melakukan foto rontgen pada anak tidak bisa seperti orang dewasa. Kalo orang dewasa bisa diminta tarik napas panjang, menahan napas 2-3 detik untuk difoto (yang pernah rontgen pasti tau kan ya?). Paru-paru selalu bergerak kalo kita bernapas, padahal hampir tidak mungkin menyuruh anak menahan napas kecuali anaknya sudah 4 tahun ke atas. Jadi me-rontgen paru anak dilakukan dengan 'mencuri' momen saat dia sedang menarik napas, supaya bisa didapatkan gambaran paru yang mengembang. Tapi karena anak tidak dalam posisi menahan napas, pastinya gambaran fotonya pun sedikit blur/kabur (gampangnya bandingkan saat kita memotret anak yang duduk manis dengan anak yang sedang berlari, bukan dengan kamera sony cybershot ^_^) Kalo gambarnya blur, otomatis ga 100% akurat kan diagnosanya? Makanya butuh ditunjang dengan diagnosa yang lain. 4. Kalo anak positif TB, langkah pertama adalah CARI orang dewasa di sekitarnya yang positif TB. Karena anak cuma korban, hampir tidak ada anak TB yang menularkan TB pada anak lain, kecuali usia di atas 12 tahun. Jadi anak dan sumber penularnya HARUS diobati bersama-sama supaya penyakitnya tuntas. 5. Pengobatan harus dilakukan secara rutin dan teratur sampai anaknya (dan sumber penularnya) benar-benar sembuh. Jangan distop sepihak karena merasa dah baikan. 6. Jangan panik, asal behavior anak masih baik, gunakan kesempatan untuk mencari 2nd, 3rd, bahkan 4th dan 5th opinion. Itu cuma sebagian yang saya dapatkan hari ini dari banyak ilmu lain di PESAT. Sebagai sesama orang tua yang sayang anak, saya cuma menyarankan teman-teman lebih aware lah dengan kesehatan anak. Kita mesti kritis kalo berhadapan dengan dokter, supaya dokter-dokter kita juga tambah pinter ^_^ Saran saya, ikut deh PESAT di kota-kota Anda. Pengumumannya selalu ada di web sehat (www.sehatgroup.web.id), atau di milis sehat. Yang saya baca barusan ini nih : PESAT MAKASAR (membahas common problems in pediatrics dan menggunakan obat secara rasional) *Rabu, 21 Mei 2008* Makassar Golden Hotel 10 Wita Hub: Ibu ITA 0411 4662672 or Ibu Aliyah 0816 253 003 PESAT JAKARTA Sesi V – Sabtu, 14 Juni 2008 - 08:30 s.d 13:00 Topik 1 : TBC Pada Anak Topik 2 : Superbugs dan Bombastisnya Tren Antibiotika Topik 3 : Penggunaan Obat Secara Rasional (Rational Use Of Medicines/RUM) hubungi [EMAIL PROTECTED] untuk informasi lebih lanjut. (cek dulu, kayaknya quota dah mepet ^_^) PESAT ACEH (26-27 Juli 2008) Training Center Building - Rumah Sakit Permata Hati Banda Aceh - Nanggroe Aceh Darussalam Topik 1 : Best Health Care Topik 2 : Common Problem in Children and Rational Use of Medicines (RUM) Topik 3 : Demam dan Kejang Demam Topik 4 : Apa yang orangtua perlu tahu tentang tata laksana bayi baru lahir (newborn)? & ASI (Air Susu Ibu) Topik 5: Imunisasi Dan Penyakit Yang Dicegahnya Topik 6 : Kegawat Daruratan & Kapan harus ke dokter Mengenai Pendaftaran, Biaya, dan lain – lain akan di informasikan lebih lanjut atau hub [EMAIL PROTECTED] PESAT TANGERANG (belum ada info lebih lanjut, tapi sepertinya segera) Hub Panitia Pesat Tangerang [EMAIL PROTECTED] Yang kota lain, nanti saya forwardkan infonya kalo ada kabar lagi. Saya salah satu yang merasakan manfaat besar dari seminar ini. Gak rugi kok meluangkan 2 weekend untuk belajar bersama dan mencoba menjadi orang tua yang lebih bijaksana dalam menyikapi kesehatan anak. Semoga masukan ini bermanfaat ya. Kalo ada yang kurang jelas, monggo, boleh japri atau via milis. Kita kan sama-sama belajar menjadi dan mencari yang terbaik buat anak-anak kita. Mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan. Regards, Ratna, Mama Wina.

