Halo semua... Cuman mau nambahin and nanggepin. Pembelajaran bahasa asing sebagai bahasa kedua itu sebenarnya bisa dilakukan kapan aja ketika anak dan orang tuanya siap. Dalam arti jika model pembelajarannya kaku seperti yang dilakukan di sekolah2 konvensional dimana anak2 dikonfrontasi hanya dengan form bahasa tersebut, itu yang tidak dianjurkan. Kalau anak2 melakukannya dengan senang hati misalnya sewaktu dia bermain, nonton TV atau baca buku, hal ini malah jadi nilai plus lho,soalnya masa emas anak untuk belajar bahasa itu menurut teori adalah sampai umur ABG kira2 12-13 tahun (Critical Hypothesis Period). Nah kalau anak sama sekali dieskpos dengan bahasa baru justru pada saat masa kritis dia akan berakhir saya rasa akan terlambat sekali ya. Satu tambahan lagi.. makanya untuk mereka yang ingin anaknya menguasai lebih dari satu bahasa, harus dipikirkan juga lho tanggung jawab dan konsekwensinya. Misalnya jika orang tua ingin anak menguasai bahasa Inggris dari kecil, ya paling ngga ortu harus konsisten mengajari dan menggunakan kapan pun dan dimana pun dan ngga hanya menyerahkan pembelajaran di sekolah saja. Jadi si anakpun ngga merasa terbebani dalam belajar bahasa karena dia tahu bahwa bahasa ini toh juga digunakan di rumah dan dimanapun (model bilingual). Kalau bingung dengan penjelasan saya, coba tengok ke belakang dulu, saat kita kecil dan diajarin bahasa daerah selain bahasa Indonesia. Mulanya dari bahasa lisan aja, lalu form kita dapatkan saat kita di SD. Hasilnya?Misalnya saya.. saya cukup bangga lho waktu SD bisa menguasai bahasa Indonesia dan Jawa dibandingkan orang Amerika misalnya, yang kebanyakkan hanya menguasai bahasa Inggris saja (meski sekarang pemerintahya ngegalakin penguasaan bahasa lebih dari 1ke rakyatnya). Intinya, usahakan kita belajar bahasa itu karena memang bahasa itu dipakai di lingkungan kita. Jadi mau ngga mau kita ya pasti menguasai dan apa yang kita kuasai akan berkembang terus. Canangkan ini jika kita ingin membekali bahasa asing ke anak2 kita. Tentang bahasa daerah.. disarankan juga nih.. kita ngga melupakannya. Bagaimanapun ini adalah kekayaan budaya kita dan disamping itu kita juga bisa membekali anak supaya menjadi at least bilingual kids (jika kita ngga bisa berbahasa asing, hanya bahasa Indonesia dan daerah aja). Karena mengasah kemampuan anak berbahasa lebih dari 1 itu juga bisa mengasah kecerdasan otak dan kemampuan berpikirnya. Jadi.. kalau orang tua siap , anak2 siap.. mengapa kita takut mengajari bahasa ke anak2 kita sedini mungkin? Tentang kebanyakan ortu yang meninggalkan pembelajaran bahasa daerah ini, saya malu dengan pakar bahasa Jawa George Quinn yang orang Aussie tapi fasih sekali berbahasa Jawa, dari krama inggil, sampe ngoko . Bahkan hanacaraka aja excellent. Maka jangan mau kalah ah sama orang asing.. Kita harus menang di negeri sendiri....(hehhe jadi meluas sarannya ). Ika Rebecca dan Deborah's mom www.myrummagesale.multiply.com

