ASI adalah Emas yang Diberikan Gratis
from http://www.hypno-birthing.web.id/

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta (58) menggambarkan betapa 
berharganya Air Susu Ibu (ASI) dengan menyamakannya dengan logam mulia emas.

"ASI itu sebenarnya ibarat emas yang diberikan gratis oleh Tuhan, karena ASI 
adalah cairan hidup yang dapat terus menyesuaikan kandungan zatnya terhadap 
kebutuhan bayi. Seperti komputer yang dapat mengatur kebutuhan tubuh bayi," 
kata Meutia seusai membuka Gerak Jalan Masal dalam perayaan Pekan ASI di 
Jakarta, Sabtu (6/8) pagi.

Perempuan kelahiran Yogjakarta itu menyayangkan kurangnya pengetahuan 
masyarakat mengenai manfaat ASI tersebut. Padahal, demi perkembangan fisik dan 
intelektualnya, semua anak harus memperoleh ASI Esklusif selama miniman enam 
bulan.

"Kita harus mendorong mereka, ibu-ibu itu supaya bisa memberikan ASI Esklusif 
pada bayi hingga usia enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih 
dengan tambahan makanan pendamping," jelasnya.

Anak seorang proklamator Indonesia itu mengatakan, minimnya pengetahuan 
masyarakat akan pentingnya ASI, antara lain karena ada perubahan sosial budaya 
yang menganggap ASI tidak penting lagi.

"Karena orang ingin modern, selalu ada dorongan untuk menjadi modern, kemudian 
ada kesalahan persepsi bahwa modern itu juga berarti mengkonsumsi apa yang 
dianggap modern. Dan sayangnya itu tidak dibarengi dengan mempertahankan apa 
yang sudah ada," kata perempuan berkacamata itu.

Kerena keinginan mengikuti modernitas itu pula, banyak ibu berpaling pada susu 
formula yang merupakan produk modern, dan meninggalkan ASI yang dinilai 
ketinggalan zaman.

ASI yang merupakan emas berharga, menurut Meutia, adalah jawaban terhadap 
masalah kekurangan gizi yang dihadapi bangsa Indonesia.

Balita yang mengalami gizi buruk dan kurang gizi meliputi seperempat dari 
jumlah balita yang ada di Indonesia, sekitar 27 persen.

"Tentunya kita tidak mengharapkan dari sekitar 6,5 juta balita itu, 
seperempatnya kurang gizi, bahkan 1,5 juta mengalami gizi buruk. Sekarang kita 
ubah pola pikir yang ada selama ini mengenai ASI. harus kita tanamkan bahwa asi 
esklusif itu merupakan satu-satunya jalan kaluar bagi mengatasi gizi buruk," 
tutup Meutia. (Ant/OL-1)

Kirim email ke