Sibolangit, 2 Agustus 2008

Anakku tersayang, 
Azzura Anandaffa
Di
Padang

Nak, hari ini ayah membaca Natsir yang ditulis Majalah Tempo edisi
14-20 Juli 2008.  Entah mengapa, setiap ayah membaca kisah-kisah para
tokoh pergerakan kemerdekaan, ayah selalu merasa haru, sedih, bahagia,
senang, benci, sakit hati dan jengkel, semuanya menjadi satu.

Natsir, seoraang pembesar yang ikut melahirkan negeri ini. Diusianya
yang belia, ia telah merasai semua tantangan hidup.  Sekolahnya
terkatung-katung, tapi ia tak pernah berhenti belajar.  Tempat
tinggalnya  berpindah-pindah,tapi ia tak pernah berhenti mencintai
kampung halamannya.  Guru dan temannya terdiri dari berbagai macam
manusia, tapi tak pernah menyurutkan idealismenya.

Anakku, Seorang Natsir tumbuh dimasa negeri ini dilanda gelombang dan
pekik kemerdekaan.  Ia telah menjadi lawan politik yang berat, tapi
sekaligus sahabat yang hangat.  Sementara itu pula, ia tetap menjadi
seorang suami dan ayah bagi istri dan anak-anaknya.

Natsir hidup dengan kemuliaan dan kehormatan.  Dalam karir puncaknya
dipemerintahan, ia tak malu dengan kemiskinan yang mendera.  Ketika ia
tak lagi terlibat dalam pemerintahanpun, ia dan keluarganya dapat
hidup dalam kesahajaan.  Dialah teladan anakku, banyak teladan lain
yang dapat kita petik dari pahlawan semacam dia.

Kini, 100 tahun Natsir telah mengguncang negeri dengan berbagai
pemberitaan media.  Komentar dan hasil riset diramu dalam
tulisan-tulisan panjang dan pendek.  Tapi apakah semua itu hanya
sebuah acara peringatan saja? mengenang saja? atau memungut 'berlian
hikmah' yang telah ditebar Natsir sepanjang hidupnya?

Setelah membaca Natsir, ayah menjadi haru.  Haru karena kegigihan
sikap dan perjuangannya tak dapat terbantahkan.  Namun sikap dan
perjuangannya itu terus berkobar tanpa pamrih.  Sementara sekarang,
orang-orang negeri ini, jangankan bersikap, punya niat bersikap saja
sudah tak mampu.  Apalagi berjuang.

Ayah menjadi sedih, anakku.  Sedih lantaran diusia tiga tahunmu, ayah
tidak menjadi siapa-siapa.  Ayah hanyalah seorang ayah bagimu, tapi
belum buat negeri ini.  Tapi, diantara kesedihan itu, ayah masih bisa
berbahagia.  Bahagia karena menjadi ayah bagimu, adik yang saat ini
tengah dikandung bundamu dan menjadi suami bagi bundamu.  Bahagia
karena kalian terus-menerus menjadi inspirasi dan spirit.  Itu saja
sudah teramat membahagiakan.

Sementara itu, ayah masih diliputi perasaan benci lantaran membaca
tulisan tentang Natsir itu.  Ayah kemudian tersadarkan lagi betapa
negeri ini tak penah lepas dari ikatan perselingkuhan dengan
penjajahnya.  Sepertinya hal ini adalah perselingkuhan abadi.
Bagaiamana mungkin akan berakhir bila pengurus negeri sibuk memikirkan
untung pribadinya masing-masing.  Barangkali Natsir dan pahlawan lain
di dalam kuburnya meratap sejadi-jadinya demi melihat perselingkuhan ini.

Ayah menjadi sakit hati dan jengkel, anakku.  Sakit hati dan jengkel
karena kebanyakan manusia di negeri ini berperilaku seperti binatang.
 Hukum berkuasa atas yang lemah saja, sementara yang kuat semakin
kebal.  Subsidi diperuntukkan bagi yang kaya saja, sementara si miskin
semakin melarat.  Korupsi meraja lela, sementara pemimpin bangsa tak
berani berbuat apa-apa.

Anakku, ketika ayah membaca tulisan tentang Natsir, ayah membayangkan
engkau.  Membayangkan kau tumbuh besar dan menjadi dewasa diatas
sistim yang kapitalistik.  Kau menjadi manusia diantara kebuasan sesamamu.

Karena itu anakku, jadilah manusia merdeka.  Merdeka dalam menjalankan
hidup duniawimu, pendapat-pendapatmu, keyakinan spiritualmu, sikapmu,
intelektualmu dan merdeka atas dirimu sendiri.  Tapi anakku, dalam
proses kemerdekaanmu, landasilah dengan kekuatan yang bersumber hanya
dari Allah SWT. Seperti Natsir melandasi dirinya untuk memperjuangkan
segala kemerdekaannya.

Anakku tersayang, dalam kegalauan pikiran ini, hanya sepucuk surat ini
yang dapat ayah tulis.  Ayah menulis diantara hiruk-pikuk persiapan
organisasi masyarakat di Sibolangit.  Sementara ayah menulis, mereka
tengah sibuk merumuskan strategi dan rencana.  Strategi dan rencana
mereka untuk terbebas dari penindasan dan menjadi manusia merdeka.

Hampir dua tahun ini, ayah dan kawan-kawan memfasilitasi
kelompok-kelompok kecil masyarakat di Sumatera Utara.  Banyak sekali
pelajaran disini, ada juga banyak teladan.  Namun masih banyak
pengkhianat berkeliaran.  Pengkhianat ini hanya mengatas-namakan
masyarakat untuk memperoleh keuntungan pribadi.  Ya, barangkali kami
masih mencari sosok seperti Natsir.

Bagi ayah, tak perlu memusuhi para pengkhianat.  Mereka layak
dijadikan teman untuk memupuk semangat.  Kadang terpikir, bila mereka
tak ada, bagaimana mungkin kita bisa hidup? toh kita tidak sedang
berada di surga. Barangkali Natsir juga tak akan bisa menjadi tokoh
besar bila tak ada perbedaan antar manusia.

Nak, Natsir saat ini terbujur kaku dalam kuburnya, tapi semangat yang
ia kobarkan akan terus menggelegak di dalam jiwa kita.  Peringatan
ulang tahunmu dan ulang tahun negeri ini takkan mampu memeredam
semangat itu.

Anakku, tulisan ini ingin ayah hadiahkan pada ulang tahunmu 27 Agustus
nanti.  Ayah tahu kau tak kan mampu mengerti, bahkan untuk mengeja
kata-kata saja kau masih kesulitan.  Apalagi bicara soalseorang
Natsir.  Walaupun ayah tahu bahwa semua huruf dalam tulisan ini mampu
kau sebutkan satu per satu.

Ayah masih bisa berbangga karena kau dan ibumu tidak menjadi bagian
dari orang-orang munafik.  Kita hidup dengan keringat kita sendiri
tanpa harus korupsi dan menindas, kecuali pinjaman untuk cicilan rumah
kita.   Satu lagi yang membuat ayah bangga padamu, bahwa cukup kita
berempat (aku, kau, bakal adikmu dan bunda) serta sebuah kue yang kau
minta untuk ulang tahunmu kali ini.

Peluk cium,
Ayah

Sources:
http://syafrizaldi.multiply.com/journal/item/33/Sepucuk_surat_untuk_kado_ulang_tahun



Kirim email ke