Subject: [Indonesia NLP Society] NLP for Parenting #10 Pengasuh menjadi
Jimat Anak. How? Why?



NLP for Parenting #10 Pengasuh menjadi Jimat Anak. How? Why?

Suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya ke saya, "Minta tipsnya, dong
hal apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan di Jakarta di hari Senin
pagi?"

Karena pertanyaan ini, saya jadi mulai agak mengerti dengan tag line "I Hate
Monday". Ternyata sulit juga mencari hal yang menyenangkan untuk dilakukan
di hari Senin pagi yang dapat diterima sahabat saya. Apalagi ketika saya
mengatakan, "Bergaul dan bercengkerama dengan anak-anak usia batita di
kelas." Loh?

Setiap Senin pagi sejak bulan lalu ada ritual baru bagi saya yaitu nongkrong
bareng dengan anak bayi baru gede. Berada dalam lingkungan ini serasa
kembali lagi ke masa kecil. Mengamati bagaimana tingkah pola mereka seperti
dihadapkan kembali pada pelajaran tentang kejujuran.

Pada hari itu ada sebuah kejadian yang sangat menarik dan membuat saya
bertanya-tanya. Ketika semua anak-anak yang baru memiliki pengalaman pertama
masuk sekolah sudah terbiasa dengan lingkungan barunya, mengapa masih
tersisa satu anak yang tetap menangis? Tetapi bila ada pengasuh di
sampingnya, anak ini menjadi begitu tenang. Ada apa gerangan?

Bedakan How, "Why" dan 'Why'

Kedua kata ini jika diletakan pada awal sebuah kalimat tanya dapat
memberikan jawaban yang berakhir pada sebuah cara memecahkan solusi, atau
alasan-alasan yang tidak berujung pangkal atau. sebuah awal dari sebab.

Saya masih ingat ketika masa-masa awal belajar NLP. Saya sangat tergila-gila
berburu dan mengoleksi jurus-jurus metode dan teknik NLP. Jika ketemu kasus,
kalimat tanya yang diajarkan untuk digunakan pertama sekali adalah How.
Bagaimana CARAnya mengatasi kasus ini?

Karena metode dan teknik NLP yang begitu asyik dan efektif, sampai-sampai
tidak terpikirkan untuk mencari tahu 'Why' nya memakai metode dan teknik
untuk kasus ini atau kasus itu. Ditambah lagi ada beberapa jurus terapi yang
seolah mengharamkan menanyakan "Why" pada pasien. Dan ini adalah jurus
pamukas saya, yang selain membuat pasien merasa nyaman karena tidak perlu
cerita; juga membuat terapis seolah-olah menjadi paranormal.

Sampai suatu ketika saya berhadapan pada sebuah kasus yang tidak dapat
diatasi oleh berbagai jurus yang saya kuasai. Jurus-jurus yang dipakai
bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah masalah baru. Dalam
kebingungan yang amat sangat, munculah kata 'Why' di depan pertanyaan saya.
Kali ini 'Why' nya memberikan makna baru. Kata 'Why' yang bukan memancing
banyak alasan yang berujung pada pembenaran yang semakin kuat, melainkan
penemuan awal dari sumber masalah.

Pengasuh menjadi tombol kenyamanan bagi Sang Anak

Jika guru memulai pertanyaan dengan "How" dalam mengatasi kasus tersebut,
maka cepat atau lambat akan muncul perasaan frustasi. Apalagi jika
menggunakan sebuah metode yang menyarankan untuk memisahkan Si Anak dengan
Sang Pengasuh sampai Si Anak terbiasa dengan lingkungan; yang belum tentu
cocok diterapkan pada kasus ini. Pertanyaannya adalah mau sampai berapa lama
Si Anak dibiarkan menangis terus menerus dan malah memperkuat perasaan tidak
nyaman tersebut?

Ketika guru memulai dengan pertanyaan 'Why' - Mengapa Si Anak terlihat
mengalami perubahan sikap yang drastis hanya dengan munculnya Sang Pengasuh?
Maka para guru mulai mencari tahu apa yang kira-kira terjadi di rumah Si
Anak sehingga munculnya perilaku tersebut.

Tidaklah mengherankan bagi guru ketika mengetahui gaya komunikasi antar
orangtua dari Si Anak yang menyebabkan anak menjadi tidak nyaman. Dan secara
kebetulan Sang Pengasuhlah yang muncul sebagai "pelindung" serta memberikan
rasa aman dan nyaman.

Ketika kita mengetahui 'Why' yang berlandaskan pada Attitude, maka "How"
yang mewakili Metode dan Teknik akan muncul dengan sendirinya. Mungkin
metode dan teknik tersebut tidak akan Anda temukan di buku NLP yang best
seller sekalipun. Why? Because you understand THE ATTITUDE!

Pertanyaan :

  1.. Manakah yang lebih baik; anak lengket dengan pengasuh atau dengan
kedua orangtuanya? Jika orangtua belajar rahasia dari pengasuh yang berhasil
membuat lengket anaknya, dapatkah orangtua melakukan hal yang sama?


artikel lain dapat dilihat di www.superparenting.org


Adi Putera Widjaja


Kirim email ke