berbahagialah bagi yang masih punya orang tua....

--- In [email protected], "ANDREANNE BERNINA CHRISTIE S" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sedikit perenungan....
> 
> 
> Buat yg orangtuanya jauh, sering2lah telepon, biar
> hanya suara akan sangat menghibur :) 
> Buat yg dekat, usahakan utk rutin mengunjungi, 
> Buat yg serumah, jagalah komunikasi & suasana hati.
> 
> ORANG TUA JUGA MEMBUTUHKAN KASIH SAYANG
> 
> Saya selalu berpikir bahwa orang tua juga harus sama
> seperti kita, bisa menyesuaikan diri dengan
> perkembangan yang terjadi di dunia; teknologi
> baru, informasi baru, system pengelolaan keuangan
> baru.
> Sampai pada beberapa tahun terakhir ini saya baru
> menyadari bahwa mereka juga berusaha mengejarnya
> dengan susah payah. Kebanyakan system remote-control
> yang rumit, istilah-istilah teknis yang tidak
> dimengerti, sampai pada pengelolaan keuangan yang
> masih asing bagi mereka. 
> Akhir-akhir ini saya baru menyadari bahwa tidak jarang
> orang tua saya menahan untuk tidak
> membicarakan apa yang mereka ingin tanyakan, atau apa
> yang ingin mereka lakukan, hanya karena takut
> mengganggu kami.
> 
> Jika bukan karena perjalanan jauh kali ini, saya yang
> bodoh ini pasti tidak akan mengetahuinya. Papa mama
> yang sudah merawat kami tanpa pamrih
> selama ini, terutama Papa yang sudah pensiun belasan
> tahun yang lalu, tanpa terasa menua begitu cepat. Kami
> lima bersaudara, tetapi hanya tiga
> yang bisa berkumpul, memutuskan untuk menemani Papa
> Mama pergi jalan-jalan ke Singapore.
> 
> Dalam perjalanan sebelum maupun di atas pesawat,
> selama 4 jam Papa tidak pergi ke toilet. Meskipun kami
> sudah berusaha membujuknya, tetapi ia tetap tidak
> bergeming. 
> Setiap kami sampai ke suatu tempat wisata, ia pun
> hanya masuk toilet kalau sudah terpaksa sekali.
> Suatu kali, Papa masuk ke toilet lama sekali. Setelah
> keluar dan tidak melihat kami, ia melihat kesana
> kemari. 
> Sampai pada tahap ini saja, Papa juga tidak membuka
> mulutnya untuk berteriak sehingga membuat kami
> anak-anaknya kehilangan muka. Papa hanya berdiri
> kebingungan di tengah kerumunan orang-orang asing,
> tetapi tetap tenang dan sabar menunggu
> kemunculan anak-anaknya.
> Akhirnya saya mengerti mengapa Papa tidak mau
> ke toilet saat jalan- jalan.
> 
> Dulu, masih kecil dan belum mengerti... Sering
> menertawakan Nenek yang sudah berumur 80 tahun lebih,
> mengancingkan baju sendiri saja tidak bisa. Lamban dan
> bodoh sekali! 
> Pekerjaan yang begitu sederhana, mengapa orang tua
> tidak bisa mengerjakannya dengan baik? Kita belum
> mengalaminya, tentu sulit untuk memahaminya...
> Usia makin lanjut, terkadang kaki dan
> tangan ini tidak dapat diajak kompromi, tidak menuruti
> kemauan kita.
> Saya masih berpikir bahwa antara Papa dengan Nenek ada
> perbedaan waktu yang cukup lama, ternyata siapa tahu
> kalau tanpa terasa Papa sudah sampai di
> tahap itu juga. Setelah itu, saya tidak berani
> bermain-main lagi.
> 
> Setiap saya melihat ada perubahan pada raut muka Papa,
> pasti saya akan berkeras untuk mengantarkannya ke
> toilet, dan saya sendiri akan berdiri menunggu
> di depan pintu. Awalnya Papa merasa agak kurang
> nyaman, tetapi pelan-pelan akhirnya terbiasa. 
> Saat saya menemani Papa untuk pergi ke
> toilet dalam perjalanan pulang di atas pesawat,
> tiba-tiba ia berbisik mengatakan, "Sebenarnya saya
> tidak bisa mengunci pintu WC dalam pesawat."
> 
> Saya menepuk-nepuk bahunya dan berkata, "Tidak
> apa-apa." walaupun hati terasa pilu dan air mata
> rasanya mau tumpah seketika.
> Ingin sekali memberitahukan adik-adik saya yang ikut
> agar dalam perjalanan berikutnya juga membawa suami
> masing-masing, supaya bisa lebih memperhatikan orang
> tua selain sekedar anak2 mereka sendiri.
> 
> Dan juga ingin mengatakan kepada kakak yang tidak ikut
> dalam perjalanan ini bahwa uang masih bisa
> dicari kembali, tetapi rejeki yang paling besar adalah
> orang tua yang masih sehat dan masih bisa diajak untuk
> perjalanan jauh. Setelah masalah
> mengenai toilet ini sudah terselesaikan, kelak kita
> bisa melakukan perjalanan ke tempat yang lebih jauh
> lagi.
> 
> Satu perjalanan ini banyak memberikan hikmah bagi
> saya, sehingga saat sudah diatas kereta api, tanpa
> terasa saya meneteskan air mata. mungkin
> karena perasaan yang terlalu sensitive, atau juga
> karena mengkhawatirkan keadaan Papa Mama. Karena
> tadinya kurang memperhatikan, menjadi kaget
> melihat Papa Mama yang sudah menjadi tua dan lemah;
> tidak mempunyai 'bahu yang tegap dan kuat' untuk
> 'tempat perlindungan yang hangat'
> seperti dulu lagi. 
> 
> Ternyata manusia super yang selalu membantu saya
> untuk mengangkat langit diatas kepala, juga bisa
> menjadi tua.
>


Kirim email ke