Sekedar saran nih...kalo ngak keberatan lebih baik buat kartu Askeskin or kartu 
Gakin /keluarga miskin untuk Asih... Bisa gratis lho mams biaya pengobatannya...
allow...buat yang tau cara pembuatan kartu Gakin ..or kerja di Dinkes tolong 
kasih tahu Cara buatnya..setahuku buat keterangan tidak mampu RT/RW trus ke 
kelurahan,kecamatan cari tahu dikantor kelurahan or kecamatan mungkin bisa 
bantu mams

--- On Thu, 9/4/08, Irarosa Ardhi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Irarosa Ardhi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [parentsguide] Pengalaman buruk dengan YAYASAN CITRA KARTINI, 
Bintaro...
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, September 4, 2008, 3:10 PM







Dear mods,




Jika diizinkan mohon email ini di release… Email ini bukan bermaksud untuk 
menjatuhkan pihak tertentu, saya sharing pengalaman pribadi saya hanya untuk 
mengingatkan teman2 untuk lebih berhati-hati dalam memilih yayasan dan menetiti 
pasal-pasal perjanjiannya. 

Saya mengambil suster infal pada Yayasan Citra Kartini pada tanggal 30 Agustus 
2008, dengan membayar admin Rp. 750.000 dan Gaji suster 1 bualn dibayar dimuka 
Rp. 1.100.000. Singkat cerita pada tanggal 3 September 2008 suster tersebut 
(Asih) jatuh sakit sehingga harus saya larikan ke RS Pertamina karena sakit 
perut sampai menangis dan teriak2 dan pingsan. Saya tiba di UGD sekitar pukul 
15.30, setelah keadaan tenang saya menghubungi pihak Yayasan, untuk meminta 
pihak Yayasan datang untuk melihat kondisi Asih. Pihak yayasan tidak menanggapi 
dan hanya dijawab dengan “Jika susternya sudah tidak bisa bekerja dikembalikan 
saja ke yayasan bu”. 
Karena Asih harus di infus dan hasil darah baru bisa keluar satu stengah jam. 
Saya minta bantuan tenaga dari yayasan untuk menunggui Asih karena saya masih 
mempunyai bayi berusia 3 minggu yang harus saya susui. Telp kedua ini diangkat 
oleh bapak Joko, dia menjawab sedang dibicarakan dengan atasan. 
Kira2 1 jam saya baru dihubungi kembali oleh pihak Yayasan dan mereka akan 
mengirimkan baby sitter untuk menunggui Asih, saya merasa keberatan karena saya 
ingin pihak yayasan yang datang. Mereka menolak. Saya minta berbicara dengan 
pemilik yayasan Bapak Eddy. Setelah saya jelaskan masalahnya Bapak Eddy malah 
bilang “Kami akan megirimkan orang untuk menunggu Asih (sesama BS) tetapi ibu 
harus mengganti Rp. 50.000 perhari untuk membayar org yang menunggui tsb”. Saya 
merasa keberatan masa saya harus membayar lagi untuk org yang menunggu. Dengan 
dalih ada pasal “BERKEWAJIBAN MEMBERIKAN PENGOBATAN PENUH APABILA TENAGA KERJA 
SAKIT, TERKECUALI TINDAKAN OPERASI DITANGGUNG OLEH KELUARGA” Yayasan merasa 
tidak perlu bertanggung jawab dalam bentuk apapun dalam hal ini.
Yang saya minta bukanlah bantuan materi, melainkan bantuan untuk duduk sama2 
dan membicarakan bagaimana penyelesaiannya mengingat kondisi Asih cukup 
memprihatinkan.
Setelah hasil lab keluar dokter mengatakan Asih menderita Pangkreatitis akut 
yang dapat menyebabkan pangkreasnya dapat pecah sewaktu-waktu, dan kemungkinan 
harus dirawat di ICU. Karena sudah terlanjur kesal dengan Yayasan saya hanya 
memberi kabar lewat sms dan minta no telp keluarga Asih yang bisa dihubungi. 
Sms ini hanya dijawab “keluarga sedang dihubungi”.
Sampai Asih dipindah keruang perawatan pihak yayasan belum memberi kabar. Saya 
menghubungi sendiri pihak keluarga Asih, dan pada saat saya menghubungi mereka 
belum menerima kabar dari yayasan.

Hal ini membuat saya banyak bertanya-tanya? Apakah begini pelayanan di Yayasan 
sebesar Citra Kartini yang sanggup memasang iklan hampir disetiap edisi majalah 
Ayahbunda? Dimana pertanggungan jawabnya terhadap saya sebagai konsumen? Dimana 
pertanggungan jawabnya terhadap Asih sebagai salah satu anggotanya? Dimana 
tanggung jawabnya kepada keluarga Asih? Selama percakapan saya di telp tidak 
ada satu patah katapun dari pihak yayasan yang menanyakan bagaimana keadaan 
Asih, yang mereka ributkan hanyalah masalah administrasi. Seakan-akan mereka 
takut harus membayar biaya pengobatan Asih dan mereka mau lepas tangan. Dimana 
hati nuraninya? Nyawa manusia dipertaruhkan, bagaimana saya bisa mengembalikan 
ke yayasan dalam keadaan seperti ini? Apakah saya kembalikan dengan ambulance? 
Yayasan ini menganggap enteng semuanya, manusia disamakan dengan barang. 

Saya tidak minta yayasan untuk membiayai pengobatan Asih, saya hanya minta 
pihak yayasan untuk duduk bersama, melihat kondisi Asih, dan mencari 
penyelesaiannya.

Sampai hari ini baru tadi pagi pihak yayasan menghubungi saya menanyakan 
kondisi Asih yang sepertinya juga basa-basi, karena tidak ada respon apapun 
setelah saya menyatakan kondisi Asih yang cukup memprihatinkan, makan & minum 
melalui selang dihidung, diinfus, menggunakan kateter dan salah satu obatnya 
harganya 1,3jt perhari, hanya untuk satu obat, belum termasuk biaya RS, dokter, 
dll…

Saya hanya ingin mengingatkan kepada teman2 untuk lebih berhati-hati dalam 
memilih yayasan, dan mereview setiap perjanjian yang akan ditanda tangan, 
dengan pasal diatas pihak yayasan merasa bisa lepas tangan, padahal saya 
memperjakan Asih hanya sebagai infal dan dia baru bekerja dirumah saya selama 4 
hari…

Mudah2an apa yang terjadi pada saya tidak menimpa orang lain. Saat ini Asih 
masih dirawat di RS. Saya mohon doanya agar Asih cepat sembuh. Thx.


Irarosa Ardhi Boediono





 














      

Kirim email ke