Dear all,
Alhamdulillah hari ini Asih sudah diperbolehkan pulang. Terima kasih atas doa & 
dukungan dari teman-teman semua.

Kesimpulannya tentang Yayasan Citra Kartini ini adalah:
1. Tidak mempunyai hati nurani. Yang dipikirkan hanyalah uang, uang dan uang.
2. Sangat tidak bertanggung jawab. Karena lepas tangan begitu saja saat salah 
satu BSnya dirawat di RS dengan keadaan yang cukup menghawatirkan. Bahkan tidak 
menanyakan perkembangan BS dan menengok satu kalipun.
3. Memperlakukan BSnya tidak manusiawi. Dalam keadaan sakit di RS yang bisa 
mengancam nyawa BS, hanya memberi tanggapan "klo BSnya sudah tidak bisa kerja, 
kembalikan saja ke yayasan". Memangnya BS itu barang?
4. Tidak terjamin kualitas pekerjanya. Memberi pekerja yang sakit. Karena 
menurut dokter penyakit seperti ini harusnya sudah diketahui sejak lama. Jika 
di Yayasan ini ada cek kesehatan pasti sudah diketahui bahwa BS tsb sakit.

Saya mengambil suster infal pada Yayasan Citra Kartini pada tanggal 30 Agustus 
2008, dengan membayar admin Rp. 750.000 dan Gaji suster 1 bualn dibayar dimuka 
Rp. 1.100.000. Singkat cerita pada tanggal 3 September 2008 suster tersebut 
(Asih) jatuh sakit sehingga harus saya larikan ke RS Pertamina karena sakit 
perut sampai menangis dan teriak2 dan pingsan. Saya tiba di UGD sekitar pukul 
15.30, setelah keadaan tenang saya menghubungi pihak Yayasan, untuk meminta 
pihak Yayasan datang untuk melihat kondisi Asih. Pihak yayasan tidak menanggapi 
dan hanya dijawab dengan “Jika susternya sudah tidak bisa bekerja dikembalikan 
saja ke yayasan bu”. 
Karena Asih harus di infus dan hasil darah baru bisa keluar satu stengah jam. 
Saya minta bantuan tenaga dari yayasan untuk menunggui Asih karena saya masih 
mempunyai bayi berusia 3 minggu yang harus saya susui. Telp kedua ini diangkat 
oleh bapak Joko, dia menjawab sedang dibicarakan dengan atasan. 
Kira2 1 jam saya baru dihubungi kembali oleh pihak Yayasan dan mereka akan 
mengirimkan baby sitter untuk menunggui Asih, saya merasa keberatan karena saya 
ingin pihak yayasan yang datang. Mereka menolak. Saya minta berbicara dengan 
pemilik yayasan Bapak Eddy. Setelah saya jelaskan masalahnya Bapak Eddy malah 
bilang “Kami akan megirimkan orang untuk menunggu Asih (sesama BS) tetapi ibu 
harus mengganti Rp. 50.000 perhari untuk membayar org yang menunggui tsb”. Saya 
merasa keberatan masa saya harus membayar lagi untuk org yang menunggu. Dengan 
dalih ada pasal “BERKEWAJIBAN MEMBERIKAN PENGOBATAN PENUH APABILA TENAGA KERJA 
SAKIT, TERKECUALI TINDAKAN OPERASI DITANGGUNG OLEH KELUARGA” Yayasan merasa 
tidak perlu bertanggung jawab dalam bentuk apapun dalam hal ini.
Yang saya minta bukanlah bantuan materi, melainkan bantuan untuk duduk sama2 
dan membicarakan bagaimana penyelesaiannya mengingat kondisi Asih cukup 
memprihatinkan.
Setelah hasil lab keluar dokter mengatakan Asih menderita Pangkreatitis akut 
yang dapat menyebabkan pangkreasnya dapat pecah sewaktu-waktu, dan kemungkinan 
harus dirawat di ICU. Karena sudah terlanjur kesal dengan Yayasan saya hanya 
memberi kabar lewat sms dan minta no telp keluarga Asih yang bisa dihubungi. 
Sms ini hanya dijawab “keluarga sedang dihubungi”.
Sampai Asih dipindah keruang perawatan pihak yayasan belum memberi kabar. Saya 
menghubungi sendiri pihak keluarga Asih, dan pada saat saya menghubungi mereka 
belum menerima kabar dari yayasan.

Hal ini membuat saya banyak bertanya-tanya? Apakah begini pelayanan di Yayasan 
sebesar Citra Kartini yang sanggup memasang iklan hampir disetiap edisi majalah 
Ayahbunda? Dimana pertanggungan jawabnya terhadap saya sebagai konsumen? Dimana 
pertanggungan jawabnya terhadap Asih sebagai salah satu anggotanya? Dimana 
tanggung jawabnya kepada keluarga Asih? Selama percakapan saya di telp tidak 
ada satu patah katapun dari pihak yayasan yang menanyakan bagaimana keadaan 
Asih, yang mereka ributkan hanyalah masalah administrasi. Seakan-akan mereka 
takut harus membayar biaya pengobatan Asih dan mereka mau lepas tangan. Dimana 
hati nuraninya? Nyawa manusia dipertaruhkan, bagaimana saya bisa mengembalikan 
ke yayasan dalam keadaan seperti ini? Apakah saya kembalikan dengan ambulance? 
Yayasan ini menganggap enteng semuanya, manusia disamakan dengan barang. 

Saya tidak minta yayasan untuk membiayai pengobatan Asih, saya hanya minta 
pihak yayasan untuk duduk bersama, melihat kondisi Asih, dan mencari 
penyelesaiannya.

Sampai hari ini baru tadi pagi pihak yayasan menghubungi saya menanyakan 
kondisi Asih yang sepertinya juga basa-basi, karena tidak ada respon apapun 
setelah saya menyatakan kondisi Asih yang cukup memprihatinkan, makan & minum 
melalui selang dihidung, diinfus, menggunakan kateter dan salah satu obatnya 
harganya 1,3jt perhari, hanya untuk satu obat, belum termasuk biaya RS, dokter, 
dll…

Saya hanya ingin mengingatkan kepada teman2 untuk lebih berhati-hati dalam 
memilih yayasan, dan mereview setiap perjanjian yang akan ditanda tangan, 
dengan pasal diatas pihak yayasan merasa bisa lepas tangan, padahal saya 
memperjakan Asih hanya sebagai infal dan dia baru bekerja dirumah saya selama 4 
hari…



 
Irarosa Ardhi Boediono


      

Kirim email ke