Dear Moms and Dads....
Ini aku kutip-in artikel tentang mengajar anak berpuasa
Moga membantu ya...
Lam Maniez,
Bunda Rino
http://ada2317.multiply.com/
Ayo Ajak Anak Berpuasa
Oleh Siti Aisyah Nurmi
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan
Hanya
berhitung hari, Insya Allah kita memasuki bulan penuh Berkah dari Allah
SWT. Bulan yang dinyatakan sebagai penghulu segala bulan, bulan yang
dinanti ummat yang taat dan dibenci ummat yang lalai.
Bulan Ramadhan semestinya senantiasa dirindukan manusia. Di bulan
ini, ampunan dibuka seluas-luasnya sambil keburukan perbuatan dosa
dijauhkan sejauh-jauhnya. Bulan mulia ini merupakan momen pendidikan
penting bagi para pendidik generasi yang akan datang. Banyak sekali
hikmah ibadah Ramadhan yang mengarah pada pembentukan karakter terpuji
bagi anak. Berpuasa melatih kesabaran, keikhlasan, ketulusan, kekuatan,
dan banyak lagi. Termasuk yang terpenting adalah melatih kepekaan
sosial dan kemampuan empati. Untuk memanfaatkan momen penting ini,
sebagai pendidik kita harus mempunyai strategi.
Beberapa kiat berikut ini mudahan-mudahan dapat membantu:
1. Orangtua hendaknya mengetahui dalil-dalil tentang puasa dan Ramadhan,
fadhilah masing-masing ibadah, juga ayat dan hadits rujukannya. Lebih
baik lagi jika di perpustakaan pribadi di rumah kita ada buku rujukan
yang cukup lengkap seperti Fiqh Sunnah karangan Syekh Sayyid Sabiq atau
lainnya dan buku atau clipping artikel yang mengulas hikmah-hikmah
Ramadhan. Dengan mengoleksi referensi yang memadai, jika suatu saat
anak bertanya sesuatu kita memiliki rujukan yang terjangkau.
2. Orangtua mengetahui tabiat dan kekhususan anak dan mengetahui dasar-dasar pendidikan anak menurut Islam.
Mengenai dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam sebelumnya sudah
dibahas singkat dalam rubrik ini. Yang cukup penting diperhatikan
adalah masalah tahapan-tahapan usia anak. Tentang
kekhasan setiap anak, maka ibunyalah yang semestinya paling tahu.
Contoh, apakah si A mudah bangun pagi atau apakah ia susah disuruh
makan? Coba pelajari apakah ada sifat khusus anak yang mungkin
menyulitkannya melaksanakan ibadah Ramadhan. Misalnya anak yang gemar
makan, maka harus dicari kiat yang tepat agar anak tahan tidak makan
selama jam berpuasa. Inilah tugas penting sang ibu.
3. Orangtua mempunyai hubungan yang baik dengan anak/ anak mempunyai keterikatan hati terhadap orangtuanya.
Dalam menyuruh apapun kepada siapapun, sebagian dari keberhasilan
menyuruh adalah karena faktor kedekatan hati antara yang menyuruh
dengan yang disuruh. Kita lihat ada anak yang lebih mudah disuruh
sesuatu oleh ayah atau ibunya. Jika kita sebagai orangtua ingin sukses
menyuruh anak berpuasa, maka sebelumnya bangunlah dahulu hubungan baik
dengan anak.
4. Orangtua siap menjadi teladan/ "role model" bagi anak dalam hal ibadah.
Nah ini adalah faktor terpenting dalam keberhasilan pendidikan. Jika
kita sendiri tak tahan berpuasa, jika kita sendiri malas berpuasa, jika
kita sendiri mencari-cari alasan untuk tidak berpuasa, atau ibadah
lainnya....maka jangan harap anak akan melaksanakan suruhan kita.
Berikan dahulu teladannya, maka barulah anak diberi pengarahan untuk
melakukannya. Khusus bagi kaum ibu yang masih mengalami haid atau
sedang nifas, inilah kesempatan untuk menjelaskan kepada anak tentang
haid dan nifas itu sendiri. By the way, justru ini merupakan bagian
dari Tarbiyah Jinsiyah atau Pendidikan tentang Gender. Beri tahulah
dengan cara sederhana saja, oleh karena itu kita butuh buku referensi
fiqh untuk diulas.
5. Beri pengenalan tentang apa itu puasa dan apa itu Ramadhan.
Berbicaralah sesuai dengan referensi namun dengan bahasa sesuai dengan
pemahaman anak. Jangan lupa menjelaskan batasan puasa, waktu maupun
larangannya. Jangan lupa pula untuk memberitahu batasan usia wajib
puasa dan lain-lain.
6. Perkenalkan secara kongkret apa itu puasa dan bagaimana
cara berpuasa dengan cara kita melaksanakan puasa sunnah dan
menjelaskan pada anak apa yang kita lakukan (3 th ke atas). Menjelaskan dengan lisan saja memang belum cukup, harus diberi contoh kongkrit. Lakukanlah sebelum puasa Ramadhan.
7. Ajak anak merasakan suasana sahur dengan cara
sekali-sekali mengajak/ membiarkan anak yang masih kecil (di bawah 3
th) bangun pada waktu sahur. Namun ini jangan sampai
mengganggu anak yang sudah lebih besar yang sedang sahur. Sebagai
orangtua kita harus pandai-pandai mengatur perhatian sesuai kebutuhan
anak sesuai usianya. Jika kita sedang melatih si kakak untuk sahur,
jangan sampai si adik menjadi perhatian utama padahal ia belum
semestinya diajak puasa.
8. Ajak anak yang masih kecil (di bawah 3 th) ikut merasakan berbuka dan menjelaskan secara sederhana apa itu ifthor. Sama seperti di atas, jangan lupa untuk memperhatikan kebutuhan si kakak yang sedang latihan puasa.
9. Melatih anak yang sedang dilatih puasa untuk menahan
godaan untuk makan dan minum pada saat tengah puasa dan juga menahan
marah dan ngambek pada saat puasa. Kita dapat membuat program
khusus untuk mengalihkan anak dari rasa laparnya, misalnya mengajak
melakukan pekerjaan tangan, mengajak main sandiwara, membacakan cerita
dan lain-lain. Jika anak sudah sangat sulit dikendalikan marah dan
ngambeknya, cobalah periksa, jangan-jangan ia memang sakit sehingga
harus membatalkan puasa.
10. Konsisten untuk mulai menyuruh anak berpuasa pada usia 7 tahun dan menghukum anak yang menolak diajak puasa pada usia 10 tahun.
Hendaknya orangtua tidak memaksakan puasa bagi anak yang belum baligh,
baik yang sanggup maupun apalagi yang sedang sakit atau dalam
pengobatan. Asalkan mereka diberi penjelasan mengapa mereka boleh
berbuka. Juga kita membolehkan anak di bawah usia 7 th untuk mencoba berpuasa dengan bertahap, jika ia sendiri meminta.
Begitulah tips mengajarkan anak berpuasa. Satu hal yang harus selalu
diingat, Islam adalah agama yang kuat referensinya. Tiada amal yang
diterima tanpa ilmu yang mendasarinya. Hendaknya sejak kecilpun anak
sudah mulai berkenalan dengan referensi tanpa memaksakan. Wallahua'lam.
SAN