maap, beberapa kali ada yang nanya ttg perasa terus, ini aku copykan artikelnya 
aja.. (url-nya aku kelupaan copy nih..)

moga2 ngga mengganggu kepadatan milis.. 


Irene


18-Juli-2007

Oleh: dr Handrawan Nadesul 
________________________________________
Makanan bayi tentu saja tidak boleh disamakan dengan makanan orang 
dewasa. Selain saluran pencernaan bayi belum siap menerima segala 
jenis menu orang dewasa, susunan gigi-geligi, dan sejumlah organ yang 
terkait dengan pengolahan (metabolisme) makanan yang dikonsumsi belum 
tentu sudah cukup matang untuk menerimanya. Termasuk segala jenis 
perasa dalam makanan. Masih bolehkah bayi menerimanya? 

KALAU ditanya apakah boleh, jawabannya tentu saja sebaiknya tidak. 
Lebih baik tidak menambahkan segala sesuatu sehingga menambah beban 
tubuh bayi, selain kemungkinan tidak menyehatkan. 

Beban memikul asupan garam dapur (NaCl) yang melebihi kemampuan 
ginjal bayi yang belum kuat memikulnya. Fungsi ginjal bayi belum 
cukup matang untuk menyisihkan kelebihan mineral dalam garam dapur. 
Maka segala jenis menu dengan kandungan garam dapur, apalagi yang 
berlebihan, sebaiknya dijauhkan dari menu harian bayi. 

Natrium sudah mencukupi dari bukan garam dapur
Tubuh memang membutuhkan mineral natrium yang dapat diperoleh dari 
garam dapur. Namun tak perlu mengonsumsi khusus garam dapur jika 
natrium yang terkandung dalam bahan makanan alami sudah mencukupi. 
Hampir semua produk laut, secara alami sudah mengandung unsur 
natrium, tanpa perlu menambahkan garam dapur sekalipun. Maka semakin 
beragam menu bayi (setelah mulai diberikan nasi tim), semakin kecil 
kemungkinan tubuh bayi terancam kekurangan unsur mineral natriumnya. 
Betul. Tubuh tidak boleh sampai kekurangan natrium yang melakukan 
perannya pada otot dan jantung juga. Sama halnya seperti akibat yang 
ditimbulkan pasca diare, tubuh mengalami kekurangan unsur natrium 
yang ekstrim, sehingga bisa saja terjadi renjatan (syok). Maka esktra 
natrium dari larutan gula-garam atau oralit pada kasus diare memang 
suatu keharusan. Kekurangan natrium berpengaruh buruk pada tekanan 
darah juga. Namun kelebihan natrium dalam tubuh, sebagaimana terjadi 
pada budaya makan serba asin, sama tidak menyehatkannya. 

Tubuh rata-rata orang modern, akibat budaya makan asin, cenderung 
kelebihan natrium dalam tubuhnya sehingga berisiko meninggikan 
tekanan darah. Darah tinggi orang dengan budaya makan asin, terjadi 
akibat natrium dalam darah melebihi normal. 

Membentuk bukan lidah asin
Lidah seseorang dibentuk sejak kecil. Jika dari bayi tidak dibiasakan 
mengonsumsi cita rasa asin (banyak takaran garam dapurnya), 
seterusnya lidah tidak terbiasa menerima rasa asin. Ambang asin lidah 
terbentuk lebih rendah, sehingga menolak dan merasa tidak nyaman 
menerima menu yang terlampau asin. 

Sebaliknya apabila sejak bayi lidahnya sudah dibentuk cita rasa asin, 
menu yang dipilih akan cenderung lebih asin dari rata-rata menu 
normal. Keadaan begini yang dinilai tidak menyehatkan karena akan 
terbawa sampai sepanjang hayat. 

Membiasakan bayi cenderung menerima menu yang lebih asin, atau 
membubuhi garam dapur lebih banyak, akan melahirkan orang dewasa yang 
lidahnya menagih asin. Kebutuhan garam dapurnya mungkin tiga atau 
empat kali lipat lebih besar dari orang normal. 

Normal, dalam budaya makan asin, tubuh menerima kelebihan garam dapur 
rata-rata lebih dari tiga kali lipatnya. Kelebihan garam ini yang 
harus tubuh buang lewat ginjal, selain harus memikul akibat 
meningginya tekanan darah. 

Orang yang berdomisili di pedalaman, suku Eskimo, Indian, Dayak, yang 
menu hariannya tanpa garam dapur, tidak ditemukan kasus-kasus darah 
tinggi. Demikian pula suku-suku berumur di atas seratus tahun 
(centenarian), menu hariannya sepi dari garam dapur. Dan itu yang 
sesungguhnya menyehatkan tubuh. 

Waspadai camilan 
Kita tahu hampir semua camilan dan jajanan cenderung membubuhi garam 
dapur yang melebihi kebutuhan tubuh. Sehari tubuh hanya membutuhkan 
natrium kurang dari 5 gram garam dapur. Kalau dihitung, asupan garam 
dapur rata-rata orang dengan budaya makan asin sekitar 15 Gram 
seharinya. Dan itu berasal dari hampir semua menu di luar rumah. Menu 
restoran, khususnya restoran China, aneka camilan, dan jajanan, garam 
dapurnya cenderung melebihi kebutuhan tubuh. 

Maka seberapa bisa, mengolah menu sendiri di rumah yang ditakar garam 
dapurnya. Pemerintah Singapura membatasi pemakaian garam dapur pada 
semua restorannya, sehingga memang cenderung lebih tawar dibanding 
menu restoran di Indonesia. Dan cara menyehatkan itu yang menjadi 
program nasionalnya. 

Kita tahu garam dapur dalam kecap, kendati namanya kecap manis, 
kandungan garam dapurnya juga melebihi kebutuhan tubuh. Padahal 
kebiasaan makan orang kita cenderung tiada hari tanpa kecap. Maka 
dari itu, jangan mulai membiasakan bayi berkenalan dengan serba kecap 
kalau tidak mau nantinya terbiasa menyukai yang serba asin. Apalagi 
kecap asin. Sekadar saus tomat dan sambal botol pun sudah lebih dari 
sekadar asin. 

Garam sodium rendah
Ya, ada baiknya cita rasa asin, yang memang menambah gurih cita rasa 
makanan, bisa disiasati dengan membubuhi bukan garam dapur (NaCl), 
melainkan memilih jenis garam yang kadar natriun (sodium)-nya rendah 
saja (low sodium salt). 

Gula pasir juga tidak menyehatkan
Ya, selain garam dapur, manis dari gula pasir tidak lebih menyehatkan 
daripada manis dari madu atau gula merah (gula jawa). Maka kalau pun 
perlu diberikan manis juga, biarkan manis itu berasal dari bahan 
alami. 

Air tebu sebagai bahan pembuat gula pasir memang pilihan yang 
menyehatkan. Namun ketika air tebu diolah dan dicampurkan bahan 
kimiawi untuk membentuk kristal gula pasir, itulah yang menjadikannya 
tidak menyehatkan lagi. Maka lebih baik memilih gula merah (dari 
enau, atau kelapa) yang proses pengolahannya tidak menambahkan bahan 
kimiawi apa pun, selain lebih baik memilih madu. 

Soal kaldu, sebetulnya tidak mengapa kalau diberikan untuk bayi. 
Namun mitos hebatnya kaldu untuk bayi harus dihapus, oleh karena 
kandungan kaldu hanyalah didominasi oleh kandungan lemak. 
Lebih penting memberikan daging ayam, atau daging sapinya ketimbang 
hanya memberikan kaldu ayam, atau kaldu daging sapinya. Tidak juga 
cukup hanya memberi ceker ayam, yang juga karena mitos, anak 
kehilangan kesempatan mendapat protein dari daging ayamnya. Ceker 
ayam hanya berisi urat dan lemak belaka, kecil saja proteinnya. 
Padahal yang bayi butuhkan justru protein pada dagingnya.






Kirim email ke