Renungan yg bagus. Minta ijin juga aku posting di blogku ya
http://www.keluargaruslan.blogspot.com


Pada tanggal 23/09/08, wonk yudy <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
>    Terima kasih atas bahan renungannya.
> Sekalian mohon izin renungannya aku masukan ke blog rumah Baca Zhaffa
> lihat di http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com
>
> Thanks
> Yudy
> Rumah Baca Zhaffa
> Jl. Menara Air VII Rt. 07/01 No. 43
> Manggarai - Tebet, Jakarta Selatan
> phone- 081314728814
> http://rumahbaca-zhaffa.blogspot.com
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: riena rachma <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Monday, September 22, 2008 15:48:36
> Subject: Re: [parentsguide] Telaga Hati
>
>    Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk
> bekerja...
> Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...
>
> Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan
> kesempatan membaca email ini.
>
> Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah
> lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
> Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan
> kematian akan menjemput kita???
>
> berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
> hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal
> menunggu waktunya,
>
> semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah.... amien....
>
>
> Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
> dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang
> dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam
> shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama,
> apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
>
> Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :
>
> 'Alangkah sabarnya mereka...setiap hari begitu...benar- benar
> mengherankan!
>
> 'Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah
> shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk
> munajat kepada Allah.
>
> Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
> matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat
> selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari
> pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.
>
> Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung
> beban sebagai orang terasing.
>
> Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi
> suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup
> sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku
> ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga
> keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
>
> Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan
> semangat dan dedikasi tinggi.
>
> Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan
> sering melamun sendirian .. banyak waktu luang ... pengetahuanku
> terbatas.
>
> Aku mulai jenuh .. tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku
> sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan
> orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.
>
> Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah
> peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
>
> Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos
> jalan.
>
> Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan
> yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil
> bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
> Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
> Kejadian yang sungguh tragis.
>
> Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya
> segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami
> cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas
> dengan amat mengerikan.
>
> Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.
> Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah
> 'Laailaaha Illallaah .. Laailaaha Illallaah ..' perintah temanku.
> Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu.
> Keadaan itu membuatku merinding.
>
> Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ...
>
> Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku
> tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah
> menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti
> ini.
>
> Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
>
> Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
>
> Tak ada gunanya .. Suara lagunya terdengar semakin melemah .... lemah
> dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang
> kedua.
>
> Tak ada gerak ... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa
> mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.
>
> Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
>
> Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat
> kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk).
>
> Ia berkata 'Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
>
> Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya
> selama di dunia.
>
> 'Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang
> diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana
> seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara
> lahir batin.
>
> Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
> kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa
> kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa
> ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat
> khusyu' sekali.
>
> Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
> pada kebiasaanku semula .. Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang
> menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi
> sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya
> lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.
>
> Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua
> orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.
>
> Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian
> menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai
> mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
> terowongan menuju kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang
> kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep,
> tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah
> belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
>
> Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama
> cepat-cepat menuju tempat kejadian.
>
> Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit
> agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya
> begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik,
> sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika
> kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang
> keluar dari mulutnya.
>
> Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah.
>
> 'Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat
> melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh
> pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi
> seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya
> yang merdu.
>
> Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu.
> Dalam batin aku bergumam sendirian 'Aku akan menuntunnya membaca
> syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu ... apalagi
> aku sudah punya pengalaman.' aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan
> kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang
> merdu itu.
>
> Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke
> setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.
>
> Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya
> terkulai, aku melompat ke belakang.
>
> Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa.
> Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku
> menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.
>
> Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak
> kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus
> menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul
> sangat mengharukan. .Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di
> sana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa
> menjelang kematiannya yang menakjubkan.
>
> Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit
> yang meneteskan air mata.
>
> Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri
> jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk
> tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan
> dishalatkan. . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada
> jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.
>
> Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut
> mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. .
>
> Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya
> almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia
> lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda,
> anak yatim dan orang-orang miskin.
>
> Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,
> buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa
> membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk
> dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa
> permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.
>
> Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada
> satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi
> kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan
> pertaubatan.
>
> Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan
> amal-amal yang nyata : 'memperbaiki diri dan mengajak orang lain '
>
> Allah Swt berfirman: 'Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
> sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang
> siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh
> ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
> yang memperdayakan. ' (QS. Al-Imran:185)
>
> Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, 'Barangsiapa yang
> lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.'
>
> Saudaraku, siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita
> menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah
> SWT.
>
> Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian
> dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan
> untuk menghadapinya.
>
> Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang
> terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.
>
> Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau
> tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau
> mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu
> berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia
> akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.
>
> Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku
> seiman pada umumnya.
>
> Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian.
>
>
>
> ------------------------------
> New Email addresses available on Yahoo!
> <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
> Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
>
> 
>

Kirim email ke