Ga pa2 kali ya...tulisan ini juga aku dapat dari adeku dan waktu kubaca aku 
sampe nangis, yach aku pengen teman2 yang lain juga bisa baca jadi sedikit 
banyak bisa menjadi bahan refleksi buat kita sebagai orang tua agar bisa 
mendengar keluh kesah anak2 kita- thanx
  ----- Original Message ----- 
  From: siswanti neli 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, October 14, 2008 2:22 PM
  Subject: Re: [parentsguide] Fw: Nice Reflection for Parents...


        tulisannya bagus banget, mohon izin yah tuk aku masukin ke blog aku..

        thx ya

        Neli Siswanti
        PT. Transpacific Insurance Broker
        Rukan PUNDI BUNCIT MAS Blok C3
        Jl. Mampang Prapatan Raya No. 108 
        Jakarta 12760 / POBOX. 1744/JKS
        Telp. (62-21) 794 6338, Fax. (62-21) 794-6368 / 69

        --- On Tue, 10/14/08, zik shop <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: zik shop <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: Re: [parentsguide] Fw: Nice Reflection for Parents...
          To: [email protected]
          Date: Tuesday, October 14, 2008, 8:19 AM


          mengharukan, thanks ya.


          Pada tanggal 13/10/08, Viddy H Novita <marketing_cinere@ ag.co.id> 
menulis: 

            ----- Original Message ----- 
            From: YASINTA NIRMALA SARI 
            To: undisclosed- recipients: 
            Sent: Wednesday, September 17, 2008 8:19 AM
            Subject: Nice Reflection for Parents...

             
            Untuk para mama dan papa
               
            Tahun 2005 yang lalu saya harus  mondar-mandir ke SD Budi Mulia 
Bogor.
            Anak sulung kami yang  bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. 
Waktu
            itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala 
sekolah.
            Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala  sekolah, Dika yang
            duduk di kelas unggulan, tempat  penggemblengan anak-anak 
berprestasi
            itu, waktu itu justru  tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat
            saya tanyakan  apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
            menanyakan  apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
            murung  dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
            untuk melamun.
            Prestasinya kian lama kian 
            merosot.

            Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:  "Apa yang kamu 
inginkan
            ?"
            Dika hanya menggeleng. "Kamu  ingin ibu bersikap seperti apa ?" 
tanya
            saya.
            "Biasa-biasa 
            saja" jawab Dika singkat.
            Beberapa kali saya berdiskusi  dengan wali kelas dan kepala sekolah 
untuk
            mencari  pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada  kemajuan.
            Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan  seorang psikolog.
            Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah,  Dika meninggalkan sekolah 
untuk
            menjalani test IQ. Tanpa  persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal 
demi
            soal dalam  hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang  
tampil
            bersahaja namun penuh keramahan itu segera  memberitahukan hasil 
testnya.

            Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) 
dimana
            skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang,  abstraksi, 
bahasa, ilmu
            pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 
- 160.
            Namun ada satu  kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya  
tidak
            lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
            Perbedaan yang  mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda
            itulah
            yang  menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut.  
Oleh
            sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya  untuk 
mengantar
            Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.  Menurutnya Dika perlu 
menjalani
            test  kepribadian.

            Suatu sore, saya menyempatkan diri  mengantar Dika kembali mengikuti
            serangkaian test  kepribadian. Melalui interview dan test tertulis  
yang
            dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik  benang merah yang
            menurutnya menjadi salah satu atau  beberapa faktor penghambat 
kemampuan
            verbal Dika.  Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
            Jawaban
            yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu  membuat saya 
berkaca
            diri,
            melihat wajah seorang ibu yang  masih jauh
            dari ideal.

            Ketika Psikolog itu menuliskan  pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
            Dika pun menjawab :  "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
            saja"
            Dengan beberapa pertanyaan
            pendalaman, terungkap  bahwa selama ini saya
            kurang memberi kesempatan kepada Dika  untuk bermain bebas.

            Waktu itu saya berpikir bahwa  banyak ragam permainan-permainan 
edukatif
            sehingga saya  merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, 
 kapan
            waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain  basket, kapan 
waktunya
            membaca buku cerita, kapan waktunya  main game di komputer dan 
sebagainya.
            Waktu itu saya  berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa 
depannya,  Dika
            perlu menikmati permainan-permainan secara merata di  sela-sela 
waktu
            luangnya yang memang tinggal sedikit karena  sebagian besar telah
            dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti  berbagai kursus di luar 
sekolah.
            Saya selalu pusing  memikirkan jadwal kegiatan
            Dika yang begitu rumit.
            Tetapi  ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan
            bermain
            sesuka hatinya, menikmati masa  kanak-kanaknya.

            Ketika
            Psikolog menyodorkan kertas 
            bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...."
            Dika pun menjawab  dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira 
artinya
            "Aku  ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku  
melakukan
            sesuatu".

            Melalui beberapa pertanyaan  pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak 
mau
            diajari atau  disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan 
itu.  Ia
            hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap  hari, 
seperti apa
            yang diperintahkan kepada Dika. Dika  ingin ayahnya bangun pagi-pagi
            kemudian membereskan tempat  tidurnya sendiri, makan dan minum 
tanpa harus
            dilayani  orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri 
koran
            yang
            habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
            Sederhana  memang, tetapi hal-hal seperti itu
            justru sulit dilakukan  oleh
            kebanyakan orang tua.

            Ketika Psikolog  mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
            Maka Dika  menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal
            sayamerasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja  keras, 
disiplin,
            hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang  saya inginkan itu 
merupakan
            sikap yang paling baik dan  bijaksana. Hampir-hampir saya ingin 
menjadikan
            Dika persis  seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua  lainnya
            seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy  diri kita atau 
bahkan
            beranggapan bahwa anak adalah orang  dewasa dalam bentuk sachet 
kecil.

            Ketika Psikolog  memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak :  
.."

            Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan  orang lain. Tidak
            mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan  kecil yang aku buat adalah 
dosa"

            Tanpa disadari, orang  tua sering menuntut anak untuk selalu 
bersikap 
            dan
            bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi  tempat kepadanya 
untuk
            berbuat kesalahan. Bila orang tua  menganggap bahwa setiap kesalahan
            adalah dosa yang harus  diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan 
memilih  untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah  dibuatnya 
dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena  orang tua tidak tahu kesalahan 
apa yang telah dibuat anak,  sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami 
lakukan  untuk mencegah atau menghentikannya.

            Saya menjadi sadar  bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi 
kesempatan
            untuk  berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari  
kesalahannya.
            Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang  salah adakalanya bisa 
menjadi
            pelajaran berharga supaya di  waktu-waktu mendatang tidak membuat
            kesalahan
            yang  serupa.

            Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku  berbicara tentang
            ....."
            Dika pun menjawab
            "Berbicara  tentang hal-hal yang penting saja".
            Saya
            cukup kaget karena  waktu itu saya justru menggunakan kesempatan 
yang
            sangat  sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal  
yang
            menurut saya
            penting, seperti menanyakan pelajaran dan  PR yang diberikan
            gurunya. Namun ternyata hal-hal  yang
            menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting  untuk anak 
saya.
            Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur  itu saya diingatkan bahwa
            kecerdasan tidak lebih penting  dari pada hikmat dan pengenalan akan
            Tuhan. Pengajaran  tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan  ilmu
            pengetahuan.

            Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku  berbicara tentang .....", Dika 
pun
            menuliskan "Aku ingin  ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan 
nya.
            Aku ingin  ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak
            pernah
            berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui  kesalahannya dan meminta 
maaf
            kepadaku".

            Memang 
            dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai  manusia,
            orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika  sebenarnya 
sederhana,
            yaitu ingin orang tuanya sportif, mau  mengakui kesalahnya dan kalau
            perlu
            meminta maaf atas  kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang  
tua
            kepadanya.

            Ketika Psikolog menyodorkan tulisan  "Aku ingin ibuku setiap hari
            ....."
            Dika berpikir sejenak,  kemudian mencoretkan penanya dengan lancar 
"Aku
            ingin ibuku  mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
            memeluk
            adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika  yang hampir 
setinggi
            saya sudah tidak pantas lagi  dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. 
Ternyata
            saya salah,  pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
            dibutuhkan
            supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu  itu saya tidak 
menyadari
            bahwa perlakukan orang tua yang  tidak sama kepada anak-anaknya 
seringkali
            oleh anak-anak 
            diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau  pilih
            kasih.

            Secarik kertas yang berisi pertanyaan  "Aku ingin ayahku setiap hari
            ...."
            Dika menuliskan sebuah  kata tepat di atas titik-titik dengan satu 
            kata
            "tersenyum".

            Sederhana memang, tetapi  seringkali seorang ayah merasa perlu 
menahan
            senyumannya  demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya  
senyuman
            tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan  melunturkan wibawanya, 
tetapi
            justru bisa menambah simpati  dan energi bagi anak-anak dalam 
melakukan
            segala sesuatu  seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

            Ketika  Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin  
ibuku
            memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin  ibuku memanggilku
            dengan
            nama yang bagus" Saya tersentak  sekali! Memang sebelum ia lahir 
kami
            telah
            memilih nama  yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika  
Ekaristi
            Kurniawan. Namun sayang,
            tanpa sadar, saya selalu  memanggilnya dengan
            sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa  diambil dari kata "Lanang" 
yang
            berarti  laki-laki.

            Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang  berbunyi "Aku ingin
            ayahku
            memanggilku ..." Dika hanya  menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama
            Asli".
            Selama ini suami  saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
            karena
            sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia  atau Bahasa Sunda
            dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo,  tukang sayur keliling" kata
            suami
            saya.

            Atas  jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi  
malu
            karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang  membela dan
            memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak  orang saya kampanyekan
            pentingnya penghormatan hak-hak anak  sesuai dengan Konvensi 
Hak-Hak Anak
            Sedunia. Kepada  khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To
            Respect
            Child Rights is an Obligation, not a
            Choice" sebuah  seruan yang
            mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak  adalah
            Kewajiban, bukan Pilihan".

            Tanpa saya sadari,  saya telah melanggar hak anak saya karena  telah
            memanggilnya dengan panggilan
            yang tidak hormat dan  bermartabat.
            Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang  polos dan dalam tingkah 
polah
            anak yang membuat orang tua  kadang-kadang bangga dan juga 
kadang-kadang
            jengkel,  ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
            Seandainya  semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada 
satupun
            anak
            yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak  memang harus 
diajarkan
            untuk menghormati ayah dan ibunya,  tetapi para orang tua tidak 
boleh
            membangkitkan amarah di  dalam hati anak-anaknya. Para  orang tua 
harus
            mendidik anaknya di dalam ajaran dan  nasehat yang baik..



             

PT. BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL TBK. DISCLAIMER:

This email and any files transmitted with it are confidential and
intended solely for the use of the individual or entity to whom they
are addressed. If you have received this email in error please notify
the system manager. This message contains confidential information
and is intended only for the individual named. If you are not the
named addressee you should not disseminate, distribute or copy this
e-mail. Please notify the sender immediately by e-mail if you have
received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your
system. If you are not the intended recipient you are notified that
disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on
the contents of this information is strictly prohibited. 


       



   

PT. BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL TBK. DISCLAIMER:

This email and any files transmitted with it are confidential and
intended solely for the use of the individual or entity to whom they
are addressed. If you have received this email in error please notify
the system manager. This message contains confidential information
and is intended only for the individual named. If you are not the
named addressee you should not disseminate, distribute or copy this
e-mail. Please notify the sender immediately by e-mail if you have
received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your
system. If you are not the intended recipient you are notified that
disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on
the contents of this information is strictly prohibited.

Kirim email ke