Dear all.....
Special For Mba Ning... mba makasih ya sudah menulis tulisan yang begitu indah, 
dengan rendah hati saya mohon maaf apabila tersebarnya tulisan mba ini kurang 
berkenan di hati mba Ning, jujur saya tidak memiliki maksud apapun, karena saat 
itu saya begitu tersentuh dengan tulisan yang saya baca ( Pesan Yang Tak 
Terucapkan / Nice Reflection for parents...) dimana saya mendapatkan kiriman 
tulisan tersebut dari orang lain juga. Perasaan yang timbul itulah yang membuat 
saya ingin berbagi dengan teman2 di milis ini ..... Mba mudah2an akan makin 
banyak tulisan2 mba atau tulisan2 lain yang dapat membangkitkan kesadaran kita 
sebagai orang tua untuk dapak berfikir dan bertindak secara bijaksana dalam 
membimbing anak2 kita- Terima kasih banyak.
  ----- Original Message ----- 
  From: Lusiana 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, October 16, 2008 9:30 AM
  Subject: [parentsguide] Pesan Yang Tak Terucapkan (was : Nice Reflection for 
Parents...)



  Dear,

  Berikut tulisan asli dari penulisnya langsung, saya attach ya.
  Untuk ijinnya, sudah dapat ijin tuh dari penulisnya,
  asal jangan diganti judulnya & juga disertakan nama penulisnya ya.
  Semoga menjadi berkat buat semua.
  Thanks.

  -Lusy-




------------------------------------------------------------------------------
  From: Mundhi Sabda Hardiningtyas [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: 16 Oktober 2008 9:14
  To: Lusiana
  Subject: Re: [parentsguide] Fw: Nice Reflection for Parents...


  Betul ! Itu tulisan saya, yang sudah diterbitkan oleh Kairos Books Yogyakarta 
th 2005 dalam buku "Tangan Yang Menenun". Sayang....sepertinya ada orang yang 
iseng/jahil main ganti judul. Tolong ingatkan teman-teman, kalau mau pakai, 
silakan saja, tanpa mengganti judulnya. Ini saya kirimkan tulisan aslinya.

  Salam hangat,
  Ning
    ----- Original Message ----- 
    From: Lusiana 
    To: Mundhi Sabda Hardiningtyas 
    Sent: Thursday, October 16, 2008 8:18 AM
    Subject: FW: [parentsguide] Fw: Nice Reflection for Parents...


    Dear Mbak Ning,

    Saya ingin menanyakan apakah ini tulisan mbak Ning?
    Soalnya teman2 di milis parentsguide sangat diberkati dengan tulisan ini,
    dan ada bbrp di antaranya yang ingin memasukkannya di blog pribadi mereka,
    tapi mereka tidak tahu harus minta ijin ke siapa, karena tidak ada nama 
penulisnya.
    Kalau tidak salah ini tulisan mbak Ning kan ya?
    Please inform aku ya, mbak.
    Thanks. GBU :)

    Lusy

    ________________________________

    From: [email protected] [mailto:[email protected] 
<mailto:[email protected]> ] On Behalf Of Viddy H Novita
    Sent: 13 Oktober 2008 16:44


    Untuk para mama dan papa
     

    Tahun 2005 yang lalu saya harus  mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
    Anak sulung kami yang  bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
    itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
    Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala  sekolah, Dika yang
    duduk di kelas unggulan, tempat  penggemblengan anak-anak berprestasi
    itu, waktu itu justru  tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat
    saya tanyakan  apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
    menanyakan  apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
    murung  dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
    untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

    Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:  "Apa yang kamu inginkan?"
    Dika hanya menggeleng. "Kamu  ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
    "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
    Beberapa kali saya berdiskusi  dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk
    mencari  pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada  kemajuan.
    Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan  seorang psikolog.
    Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah,  Dika meninggalkan sekolah untuk
    menjalani test IQ. Tanpa  persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi
    soal dalam  hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang  tampil
    bersahaja namun penuh keramahan itu segera  memberitahukan hasil testnya.

    Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
    skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang,  abstraksi, bahasa, ilmu
    pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
    Namun ada satu  kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya  tidak
    lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
    Perbedaan yang  mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
    yang  menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut.  Oleh
    sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya  untuk mengantar
    Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.  Menurutnya Dika perlu menjalani
    test  kepribadian.

    Suatu sore, saya menyempatkan diri  mengantar Dika kembali mengikuti
    serangkaian test  kepribadian. Melalui interview dan test tertulis  yang
    dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik  benang merah yang
    menurutnya menjadi salah satu atau  beberapa faktor penghambat kemampuan
    verbal Dika.  Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.
    Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu  membuat saya 
berkaca diri,
    melihat wajah seorang ibu yang  masih jauh dari ideal.

    Ketika Psikolog itu menuliskan  pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
    Dika pun menjawab :  "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"
    Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap  bahwa selama ini saya
    kurang memberi kesempatan kepada Dika  untuk bermain bebas.

    Waktu itu saya berpikir bahwa  banyak ragam permainan-permainan edukatif
    sehingga saya  merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar,  kapan
    waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain  basket, kapan waktunya
    membaca buku cerita, kapan waktunya  main game di komputer dan sebagainya.
    Waktu itu saya  berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,  Dika
    perlu menikmati permainan-permainan secara merata di  sela-sela waktu
    luangnya yang memang tinggal sedikit karena  sebagian besar telah
    dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti  berbagai kursus di luar sekolah.
    Saya selalu pusing  memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
    Tetapi  ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain
    sesuka hatinya, menikmati masa  kanak-kanaknya.

    Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...."
    Dika pun menjawab  dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya
    "Aku  ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku  melakukan 
sesuatu".

    Melalui beberapa pertanyaan  pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
    diajari atau  disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu.  Ia
    hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap  hari, seperti apa
    yang diperintahkan kepada Dika. Dika  ingin ayahnya bangun pagi-pagi
    kemudian membereskan tempat  tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus
    dilayani  orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang
    habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
    Sederhana  memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan  oleh
    kebanyakan orang tua.

    Ketika Psikolog  mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
    Maka Dika  menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal
    sayamerasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja  keras, disiplin,
    hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang  saya inginkan itu merupakan
    sikap yang paling baik dan  bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan
    Dika persis  seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua  lainnya
    seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy  diri kita atau bahkan
    beranggapan bahwa anak adalah orang  dewasa dalam bentuk sachet kecil.

    Ketika Psikolog  memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak :  .."
    Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan  orang lain. Tidak
    mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan  kecil yang aku buat adalah dosa"
    Tanpa disadari, orang  tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
    bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi  tempat kepadanya untuk
    berbuat kesalahan. Bila orang tua  menganggap bahwa setiap kesalahan
    adalah dosa yang harus  diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih
    untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah  dibuatnya 
dengan jujur.
    Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa
    yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa
    yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

    Saya menjadi sadar  bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan
    untuk  berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari  kesalahannya.
    Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang  salah adakalanya bisa menjadi
    pelajaran berharga supaya di  waktu-waktu mendatang tidak membuat
    kesalahan yang  serupa.

    Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku  berbicara tentang ....."
    Dika pun menjawab "Berbicara  tentang hal-hal yang penting saja". Saya
    cukup kaget karena  waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang
    sangat  sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal  yang
    menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan  PR yang diberikan
    gurunya. Namun ternyata hal-hal  yang menurut saya penting,
    bukanlah sesuatu yang penting  untuk anak saya.
    Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur  itu saya diingatkan bahwa
    kecerdasan tidak lebih penting  dari pada hikmat dan pengenalan akan
    Tuhan. Pengajaran  tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan  ilmu
    pengetahuan.

    Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku  berbicara tentang .....", Dika pun
    menuliskan "Aku ingin  ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.
    Aku ingin  ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah
    berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui  kesalahannya dan meminta maaf
    kepadaku".

    Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai  manusia,
    orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika  sebenarnya sederhana,
    yaitu ingin orang tuanya sportif, mau  mengakui kesalahnya dan kalau perlu
    meminta maaf atas  kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang  tua
    kepadanya.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan  "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
    Dika berpikir sejenak,  kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku
    ingin ibuku  mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
    adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika  yang hampir setinggi
    saya sudah tidak pantas lagi  dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
    saya salah,  pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
    supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu  itu saya tidak menyadari
    bahwa perlakukan orang tua yang  tidak sama kepada anak-anaknya seringkali
    oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau  pilih
    kasih.

    Secarik kertas yang berisi pertanyaan  "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
    Dika menuliskan sebuah  kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
    "tersenyum".

    Sederhana memang, tetapi  seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
    senyumannya  demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya  senyuman
    tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan  melunturkan wibawanya, tetapi
    justru bisa menambah simpati  dan energi bagi anak-anak dalam melakukan
    segala sesuatu  seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

    Ketika  Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin  ibuku
    memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin  ibuku memanggilku dengan
    nama yang bagus" Saya tersentak  sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah
    memilih nama  yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika  Ekaristi
    Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu  memanggilnya dengan
    sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa  diambil dari kata "Lanang" yang
    berarti  laki-laki.

    Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang  berbunyi "Aku ingin ayahku
    memanggilku ..." Dika hanya  menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
    Selama ini suami  saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena
    sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia  atau Bahasa Sunda
    dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo,  tukang sayur keliling" kata
    Suami saya.

    Atas  jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi  malu
    karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang  membela dan
    memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak  orang saya kampanyekan
    pentingnya penghormatan hak-hak anak  sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak
    Sedunia. Kepada  khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect
    Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah  seruan yang
    mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak  adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

    Tanpa saya sadari,  saya telah melanggar hak anak saya karena  telah
    memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan  bermartabat.
    Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang  polos dan dalam tingkah polah
    anak yang membuat orang tua  kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
    jengkel,  ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
    Seandainya  semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak
    yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak  memang harus diajarkan
    untuk menghormati ayah dan ibunya,  tetapi para orang tua tidak boleh
    membangkitkan amarah di  dalam hati anak-anaknya. Para  orang tua harus
    mendidik anaknya di dalam ajaran dan  nasehat yang baik..





   

PT. BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL TBK. DISCLAIMER:

This email and any files transmitted with it are confidential and
intended solely for the use of the individual or entity to whom they
are addressed. If you have received this email in error please notify
the system manager. This message contains confidential information
and is intended only for the individual named. If you are not the
named addressee you should not disseminate, distribute or copy this
e-mail. Please notify the sender immediately by e-mail if you have
received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your
system. If you are not the intended recipient you are notified that
disclosing, copying, distributing or taking any action in reliance on
the contents of this information is strictly prohibited.

Kirim email ke