Beberapa hari yang lalu saya menerima imel yang isinya berisi 
informasi bagaimana memberikan pertolongan pertama pada orang yg terkena stroke 
(dengan cara menusuk ujung jari dengan jarum dan menarik2 telinga). Awalnya 
saya percaya sampai saya membaca artikel kesehatan di majalah tempo.
 
Mungkin ada juga yg pernah menerima imel yg sama.
Untuk itu saya merasa perlu untuk menyampaikan artikel kesehatan yang lebih 
bisa dipercaya dan jelas sumbernya.
 
 
Ini adalah artikel Kesehatan dari majalah Tempo 
Edisi 3-9 November 2008 (di halaman 50) 
 
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/11/03/KSH/mbm.20081103.KSH128654.id.html
 
Abdurahman, 43 tahun, pernah punya kebiasaan menyiapkan jarum di dekat tempat 
tidurnya. Dia bukan sedang menjalankan ”laku” untuk mendalami ilmu tertentu. 
Jarum itu adalah alat pertolongan pertama. ”Jika terserang stroke, saya atau 
istri siap bertindak,” katanya. Tapi itu dulu. 
 
Rahman pernah terpengaruh berita yang luas beredar di mailing list mengenai 
pertolongan pertama pada stroke. Di dalam tulisan yang tak ketahuan asalnya itu 
dinyatakan, bila terkena serangan stroke, segera tusukkan jarum ke 10 ujung 
jari tangan. Titik penusukan kira-kira satu sentimeter dari ujung jari. Gunanya 
agar darah keluar dan penderita serangan stroke segera pulih kembali. 
 
Sepintas, cara ini masuk akal. Sebab, jika orang terkena stroke, terjadi 
pembekuan darah ke otak. Nah, tusukan itu mengakibatkan reaksi dari pembuluh 
darah, sehingga kembali lancarlah aliran darah. 
 
Pengertian stroke adalah hilangnya sebagian fungsi otak secara mendadak atau 
tiba-tiba akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. ”Nah, jika 
serangan stroke karena pembuluh darah pecah, penusukan justru mempercepat 
kematian,” kata dokter ahli stroke, Salim Harris. Dengan kata lain: jangan 
percaya pada saran tak berdasar seperti itu. Risikonya terlalu besar. 
 
Lalu Salim, yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang 
Jakarta, menunjukkan cara penanganan stroke sebelum pasien dibawa ke dokter. 
Pertama, pasien diletakkan dalam posisi tidur telentang dan diberi bantal 
hingga kepala membentuk sudut elevasi sekitar 30 derajat. Ini memberikan 
kesempatan agar aliran darah balik ke arah bawah tubuh. Setelah sekitar 30 
menit, baru si pasien dibawa ke rumah sakit. 
 
Justru si penderita jangan didudukkan atau digerakkan bagian tubuh 
lainnya—seperti saran di milis. Sebab, bila itu dilakukan, si pasien akan makin 
kekurangan oksigen. ”Karena tiap gerakan membutuhkan oksigen. Sedangkan saat 
terserang stroke, tubuh sedang kekurangan oksigen,” ujar Salim. 
 
”Jangan diberi minum, termasuk air gula. Walaupun bisa, jangan dibiarkan jalan 
atau duduk di mobil,” ujarnya. Minuman dikhawatirkan merusak organ tubuh 
lainnya, dan jika masuk ke paru-paru malah bisa berakibat infeksi. Pokoknya, 
posisi yang terbaik adalah terbaring dengan bantal di kepala seperti disebut di 
atas. 
 
Larangan lain adalah memberikan obat-obatan darah tinggi. Menurut Salim, 
tekanan darah yang ekstrem tinggi ataupun rendah sama bahayanya bagi penderita 
serangan stroke. 
 
Karena itu, jika pasien terserang stroke, harus dilihat dulu penyebabnya secara 
keseluruhan. ”Saya saja sebagai dokter harus melihat hasil CT scan untuk 
mengambil langkah atau terapi yang tepat. Tak bisa dengan cara ditusuk-tusuk 
jari atau telinganya,” ujarnya. Pemindai (CT scan) merupakan pemeriksaan 
standar terbaik (baku emas) untuk stroke. 
 
Dalam serangan stroke terkenal istilah ”time is brain” dan ”the golden hour”. 
Makin cepat pengobatan makin meminimalkan gejala sisa dari stroke. Masa jeda 
penyelamatan, yang dikenal dengan istilah jendela terapi (therapeutic window) 
stroke, adalah enam sampai delapan jam setelah serangan. Penanganan dini yang 
benar setidaknya akan mengurangi angka kecacatan penderita serangan stroke 
hingga 30 persen. 
 
Memang wajar jika stroke menjadi momok bagi banyak orang. Sebab, stroke bersama 
penyakit jantung koroner termasuk penyakit kardiovaskuler pembunuh nomor satu 
di dunia. Diperkirakan setiap tiga menit satu orang meninggal akibat penyakit 
tersebut. Ganasnya penyakit ini menjadi penyebab utama kecacatan pada orang 
dewasa. 
 
Pada penderita stroke akan terjadi penurunan kualitas hidup sangat besar. 
Penderita juga sangat bergantung pada keluarga atau orang di sekitarnya. 
Kecacatan yang terjadi bisa bersifat permanen sehingga menimbulkan masalah lain 
yang tidak kalah peliknya. 
 
Ahmad Taufik


      

Kirim email ke