[ Kamis, 13 November 2008 ]
Waspadai Rubela Kongenital


Muncul Lagi setelah 10 Tahun Menghilang

SURABAYA - Sindrom rubela kongenital, penyakit yang sudah lebih dari sepuluh 
tahun terakhir jarang ditemui, belakangan muncul kembali. Penyebabnya, 
ditengarai banyak ibu yang tidak mau memberi anaknya vaksin infeksi campak 
dan gondongan atau MMR (mumps, measles, rubella).

Dokter Connie Untario SpA dari Rumah Sakit Mitra Keluarga, misalnya, 
menemukan tiga kasus penderita sindrom rubela dalam tiga tahun terakhir. 
Padahal, dia terakhir menemui sindrom penyakit yang biasa menyerang 
anak-anak itu pada 1990-an saat masih kuliah di FK Unair. ''Saya heran, kok 
sekarang muncul lagi ya. Ada apa?'' ujarnya.

Dia menjelaskan, sebetulnya infeksi rubela pada anak-anak merupakan penyakit 
ringan. Gejala yang tampak dari luar adalah munculnya bercak-bercak merah 
yang tidak permanen dan tidak tahan lama. Tapi, penyakit itu menjadi 
bermasalah jika menyerang ibu hamil. Terutama saat awal kehamilan. Bila tak 
segera ditangani, bayi bisa meninggal atau mengalami kecacatan saat lahir.

Efek lain, otak si anak bisa sangat kecil (mikrosevali). Lalu, timbul 
katarak kongenital (lahir sudah katarak) dan jantung bocor. Menurut Connie, 
penyebab utama munculnya lagi sindrom itu adalah orang tua takut memberikan 
vaksin MMR kepada anak-anaknya. Padahal, vaksin tersebut terbukti ampuh 
membendung virus rubela.

Ketakutan tersebut, kata Connie, merupakan ekses sebuah kasus yang 
menyiarkan bahwa MMR mengandung zat berbahaya (merkuri) yang bisa 
menyebabkan anak menjadi autis. ''Padahal, kasus itu hanya menimpa satu 
orang, tapi gembar-gembornya sangat keras,'' katanya tanpa menyebut rinci 
kapan kasus itu muncul.

Menurut dia, MMR sangat penting diberikan kepada anak-anak. Sebab, sejatinya 
vaksin tersebut merupakan kombinasi pencegahan terhadap virus rubela, 
campak, serta gondongan sekaligus. Jika pemberian pada ibu hamil tepat, 
potensi penularan sindrom rubela terhadap janin tidak akan terjadi. Jika 
diberikan kepada balita, penyakit campak juga akan terbendung.

Bahaya campak, kata Connie, bisa menyebabkan anak terkena infeksi pada 
telinga, peradangan paru-paru, hingga mengalami kematian. Anak juga bisa 
terkena gondong. Penyakit jenis itu akan membuat kelenjar patoris pada anak 
membesar. Yang paling gampang dilihat, anak akan mengalami demam dan sakit 
kepala hebat.

Menurut dia, vaksin MMR bisa diberikan kepada anak yang sistem kekebalan 
tubuhnya sudah berkembang. ''Ya antara usia 12-18 bulan lah,'' katanya. 
(nur/ari) 

Kirim email ke