sama sama mbak .. :))

2008/11/30 Dona Dewi <[EMAIL PROTECTED]>:
> Salam kenal mba...
>
> hiks aku baca nya mpe terharu... mpe meneteskan air mata bahagia bahwa
> ternyata Suami ku sangat teramat mencintai ku & paling mengerti akan diri
> ku....
> thx ya mba sudah menyadar kan hati ku dari cerita mu ini... akan aku sebari
> ke yang lainnya untuk selalu ingat bahwa pasangan kita itu sebenarnya sudah
> yang paling tepat untuk kita agar tidak terdengar lagi peristiwa
> "Perceraian" dimana....
>
> thx ya...
>
> wassalam
> mumukenz
>
> 021 - 996 99 713
> 0816 - 70 9694
>
> [EMAIL PROTECTED] net
> [EMAIL PROTECTED] com
>
> www.mumukenz. blogspot. com
> www.mumukenz. multiply. com
>
> ________________________________
> From: Linda Pickwick <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Cc: parentsguide <[email protected]>
> Sent: Saturday, November 29, 2008 4:23:33 PM
> Subject: [parentsguide] Tidak Selalu Harus Berwujud "Bunga"
>
> Tidak Selalu Harus Berwujud "Bunga"
> by: Unknown Female Author
>
> Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami
> dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika
> saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa
> perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui,
> bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya mencintainya dulu
> telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
>
> Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta
> berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang
> anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya
> dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa
> sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana
> yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan
> saya akan cinta yang ideal.
>
> Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya
> kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
>
> "Mengapa?" tanya suami saya dengan terkejut.
>
> "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya
> inginkan" jawab saya.
>
> Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,
> tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
>
> Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak
> dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan
> darinya?
>
> Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk
> mengubah pikiran kamu?"
>
> Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya
> punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam
> perasaan saya, saya akan mengubah pikiran saya. Seandainya, saya
> menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung. Kita berdua
> tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan
> memetik bunga itu untuk saya?"
>
> Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
>
> Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya,
> dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan
> coret-coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat
> yang bertuliskan. ..
>
> "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan
> saya untuk menjelaskan alasannya."
>
> Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan
> untuk membacanya.
>
> "Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap
> bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki
> kamu yang pegal."
>
> "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu khawatir kamu akan menjadi
> 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di
> rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang
> saya alami."
>
> "Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca
> buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga
> mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong
> mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."
>
> "Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri
> pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
> warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah
> kamu."
>
> "Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di
> tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat
> air mata kamu mengalir menangisi kematian saya."
>
> "Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih
> daripada saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah
> diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu,
> saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain
> yang dapat membahagiakan kamu."
>
> Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi
> kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
>
> "Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika
> kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk
> tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
> sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
>
> "Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya
> masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan
> mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu
> bahagia."
>
> Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan
> pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu
> dan roti kesukaan saya.
>
> Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih
> daripada dia mencintai saya.
>
> Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur
> hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat
> memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu
> sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita
> bayangkan sebelumnya.
>
> Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari
> pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta
> tidak selalu harus berwujud "bunga".
>
> 

Kirim email ke