Maaf ya Moms, saya baru sempat buka milis lagi. Duh, saya terima kasih banget dengan semua masukannya. Sampai saat ini saya belum kembali ke DSA yang bilang anak saya perlu test mantoux. Saya memang beberapa kali ganti DSA, belum ada yang cocok. Dulu anak saya pernah divonis untuk operasi tonsil oleh seorang spesialis THT, bayangkan umurnya belum ada dua tahun saat itu. Dulu hidungnya tersumbat hampir sebulan. Tapi saya ragu n cari second, third, fourth opinion. Hasilnya, anak saya cuma alergi. Sekarang malah ga diapa-apain Al Fatih makin berkurang alerginya dan jarang banget pilek lebih dari 3 hari. Pengalaman itu membuat saya selalu mencari info lain ketika seorang dokter mengatakan sesuatu tentang anak saya.
Apakah berat badan anak itu memang selalu faktor genetik ya? Saya dan suami sama-sama punya bakat overweight. Masa kecil kami juga termasuk ga pernah kurus. Tapi memang Al Fatih dengan TB 87 dan BB 11 kelihatan kurus. Meskipun begitu badannya sekel dan enerjik sekali. Tapi sudah dua DSA yang bilang anak saya underweight karena dilihat kurva perkembangannya tidak bertambah sejak satu tahun lalu. Tapi hanya 1 DSA yang bilang Al Fatih perlu test mantoux. Saya bilang DSA sebelumnya tidak menyarankan itu. Dia sempat terkejut karena menurutnya test mantoux itu standar untuk tahu penyebab BB tidak bertambah dalam periode tertentu. Saya juga katakan orang-orang di sekitar anak saya sacara kasat mata semua sehat. Tapi sungguh saya masih tetap khawatir dengan perkembangan Al Fatih. Mogok makan sebentar saja, langsung terlihat lebih kurus dari biasanya, meski enerjinya seperti tidak pernah habis. Bayangkan Moms, DSA itu bilang makanan yang dimakan anak saya hanya cukup untuk hidup, tapi tidak untuk tumbuh. Padahal kalau tidak dalam keadaan sakit, dia melahap semua makanan yang ditawarkan. Tidak pernah dalam jumlah banyak sih, karenanya kami menyiasatinya dengan sering-sering memberinya makanan yang variatif. Intinya, meski sedang dalam periode gampang sekali makan, badannya ya tetap segitu-segitu aja. Saya bertanya-tanya, apakah bijak melakukan test ini itu terhadap anak saya, padahal jelas-jelas dia sehat dan enerjik? Lama-lama saya pikir itu hanya keegoisan kami sebagai orang tua yang ingin putranya terlihat tidak kalah dibanding anak-anak lain. Anyway, thanx a lot untuk semua masukannya. Benar-benar sudah membuat Kami bisa menimbang dengan lebih bijak. Love, Indri ________________________________ From: joyceturangan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, 31 December, 2008 22:45:19 Subject: [parentsguide] Re:Test Mantoux, anakku BB kurang. Dear Bu Cristiana, Saya setuju dengan pendapat ibu, "Tidak selalu tubuh gemuk itu sehat dan juga tak selalu tubuh kurus itu penyakitan" Banyak orang lain, sebut saja, teman kita, mertua, kakak ipar atau bahkan dokter anak yang 'asal' selalu menilai kondisi anak dari tampilan fisik bahwa kurus adalah tidak sehat, gemuk adalah sehat.. Apalagi kalau sudah membanding2kan anak kita dengan anak lain...wahhh sakit hati mendengarnya, seoalah anak kita tuh paling jelek dan kita tidak pandai merawat anak kita. Padahal, yang penting adalah seorang anak itu tumbuh dan berkembang. BB dan TB nya ada pertumbuhan, dan kecerdasannya berkembang. Anak saya pernah disuruh tes TB, karena batuk 3 minggu tidak sembuh, padahal BB tidak ada masalah, TB tidak ada masalah, di sekitar rumah tidak ada yg terdeteksi TBC, bahkan sekolah pun juga belum, hampir setiap hari selalu di rumah kecuali weekend, rumah kamipun tidak dalam kondisi tanpa sinar matahari tapi cenderung luas dan udara maupun sinar matahari selalu keluar masuk dengan leluasa. Akhirnya karena saya yakin anak saya tidak ada masalah TB saya konsul ke dokter lain, disana, beliau menjelaskan proses penularan TBC dan gejala serta pemeriksaan apa saja untuk sampai pada kesimpulan TBC. Puji Tuhan saya bahkan dianjurkan menunda tes TB, dan diberikan obat pengencer dahag saja, dan terbukti dalam 3 hari setelah sampai di rumah, anak saya sembuh, batuk lama anak saya hanya dikarenakan alergi saja, ditambah selama batuk, kami harus ke luar kota selama 1 minggu, sehingga tidak memungkinkan untuk mengontrol makanan sehari-harinya yang lebih banyak jajan makanan restoran yang mayoritas cenderung menggunakan MSG ataupun minyak jelantah. Mungkin tes mantoux diperlukan agar kita tidak kecolongan, tapi kalau masalahnya hanya BB kurang, drpd tes TBC, lebih baik konsul ke ahli gizi dan benar... coba lihat ortu nya gemuk atau kurus? ortunya susah atau gampang makannya?, kecuali memang disertai gejala TBC atau berada dekat dengan penderita TBC dalam jangka waktu yang lama (katanya sih TBC tidak bisa langsung menular dalam 1 hari apalagi tidak berdekatan dgn si penderita tp saya tidak tahu juga benar atau tidak) Semoga membantu, karena begitu diharuskan tes mantoux... pasti... kita sebagai orang tua... deg deg an... cemas dan takut... Salam... Obet's Mom. --- In parentsguide@ yahoogroups. com, "Cristiana Ratna Sari Dewi" <mamalidwina@ ...> wrote: > > Pak, nuwun sewu ya... > memeriksakan mantoux karena BB kurang? Indikasi ke TB apa ya? > Mantoux itu sakit dan traumatik lho, pak. apa anaknya batuk2 berkelanjutan? Ato ada orang dewasa di sekitarnya yg dicurigai TB? BB nya turun ato stagnan? Sudah di plot di growth chart perkembangan BB dan TB nya sejak lahir sampe sekarang? > Kalo boleh tau, postur bapak dan ibunya bagaimana? Apa tinggi besar atao malah imut2 kayak anaknya? Karena postur sebagian besar genetik lho, pak. > Kalo saya jadi bapak, saya ga akan sembarangan memeriksakan kemungkinan TBC pada anak. Karena diagnosa TB pada anak sangat rumit dan butuh banyak banget pemeriksaan. Belum lagi kalo salah diagnosa, mesti minum obat TB selama 6 bulan berturut2 dan obat2an itu berpotensi merusak fungsi liver si anak. > Rontgent pada anak tidak mendukung pemeriksaan paru secara significan, karena anak2 tidak bisa diminta menahan napas saat difoto. Padahal tahan napas itu penting banget supaya paru mengembang sempurna dan tak bergerak saat difoto sehingga gambaran tidak blur. Gambaran yg blur akhirnya selalu didiagnosa sebagai bronkitis dan parahnya TB (tapi selalu ditulisnya 'suspect', which mean dokter radiologinya sendiri ga yakin 100%). > Anak saya juga imut, perempuan 2 tahun BB 10.8kg, TB 87cm. Tapi saya ga kuatir karena -seperti kata bapak sendiri- anak saya sehat, ceria, ga gampang sakit dan perkembangan motorik serta kognitifnya semua baik. Usut punya usut biarpun sekarang saya dan suami, meskipun ga gendut, lumayan gede, dulunya ya segitu2 juga.. Lha kalo mama papanya aja imut, mau minta anak gede dari mana? ^_^ > Kalo boleh saran.. kalo memang dicurigai ada penghambat pertumbuhannya, coba tes yg lebih aman, periksakan urinenya. Karena pada anak2 silent ISK (infeksi saluran kemih) lebih dominan daripada TB. Mintakan kultur urine, hasilnya agak lama sih sekitar 4-7 hari. Tapi kalo dari hasil itu masih baik2 aja, gak ada ISK, berarti tinggal mengatur menunya lagi untuk mengejar ketinggalan BB nya. > > Ini sekedar masukan aja ya. Tidak selalu tubuh gemuk itu sehat dan juga tak selalu tubuh kurus itu penyakitan. Mohon maaf kalo kata-kata saya ada yg kurang berkenan. > > Regards, > > Ratna, Mama Wina >

