fyi,
dari milis sebelah

Salam ASI
http://asiku.wordpress.com

Ada yg perlu digaris bawahi :

QUOTE :

""Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa
baru aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai,
sementara DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase
karena DHA/AA pada dasarnya adalah asam lemak," ungkap Tiwi. " ( artikel ada
di paling bawah)

Dan ini dari artikel terbaru

"Memang, beberapa susu formula sudah memasukkan komposisi ini. Cuma, menurut
ahli gizi Universitas Indonesia Susianto, kandungan gizi dalam susu formula
seringkali tidak stabil karena adanya perubahan suhu. Maklum, biasanya,
kandungan DHA dan AA dalam susu formula diambil dari ikan. "Kalau kandungan
gizi di ASI pasti stabil," katanya."

Kandungan ASI Lebih Stabil ketimbang Susu Formula
Selasa, 20 Januari 2009 | 10:23 WIB
MUNGKIN tak ada susu apapun di dunia ini yang kandungannya bisa menyamai air
susu ibu (ASI). Kelengkapan gizi dan nutrisi yang dimilikinya memungkinkan
si bayi bisa bertahan hidup, tanpa harus mengasup makanan pendamping
lainnya.

Salah satu kandungan penting dalam ASI adalah kolostrum. Zat ini berfungsi
melindungi bayi dari berbagai penyakit. Dalam kolostrum terdapat protein,
vitamin A, karbohidrat, dan lemak rendah yang berguna bagi bayi di hari-hari
pertamanya.

Selain kolostrum, ASI juga mengandung taurin, decosahexanoic acid (DHA), dan
arachidonic acid (AA). Ketiga kandungan tersebut sangat diperlukan untuk
pembentukan sel-sel otak bayi.

Memang, beberapa susu formula sudah memasukkan komposisi ini. Cuma, menurut
ahli gizi Universitas Indonesia Susianto, kandungan gizi dalam susu formula
seringkali tidak stabil karena adanya perubahan suhu. Maklum, biasanya,
kandungan DHA dan AA dalam susu formula diambil dari ikan. "Kalau kandungan
gizi di ASI pasti stabil," katanya.

Kelebihan utama ASI lainnya yang tak dimiliki oleh susu lainnya adalah zat
imunologik. ASI mengandung zat antiinfeksi yang bersih dan bebas
kontaminasi. Zat imun itu ada pada immunoglobulin, sekretori, dan
laktoferin.

Zat immunoglobulin yang terdapat dalam kolostrum berfungsi mencegah
terjangkitnya penyakit pada bayi. Lalu, zat sekretori yang dapat melumpuhkan
bakteri patogen e-coli serta berbagai virus pada saluran pencemaan.
Sementara laktoferin, sejenis protein, merupakan komponen zat kekebalan yang
berfungsi mengikat zat besi di saluran pencemaan.

Meski kandungan gizi dalam ASI-begitu banyak, zat-zat tadi bakal mudah
terserap tubuh bayi. Kandungan protein whey memudahkan penyerapan lebih
besar dibandingkan susu sapi atau susu formula.

Menurut Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic, komposisi gizi yang ada di ASI
sebenarnya tak akan berbeda antara ibu yang satu dengan ibu yang lainnya.
Tapi, apa yang dikonsumsi oleh sang ibu memang akan memberi pengaruh, baik
ke kualitas gizi maupun rasa ASI itu sendiri.

Makanya, ibu yang tengah menyusui sangat disarankan untuk menjaga pola
makannya. Artinya, jangan sampai kurang dan harus bergizi. Selain itu,
makanan dengan citarasa yang kuat seperti asam atau pedas juga sebaiknya
dihindarkan dulu.

Karena, makanan jenis itu akan membuat rasa ASI tidak enak untuk bayi.
Meminum banyak air putih dan susu bagi ibu menyusui juga sangat dianjurkan.
Selain demi menjaga asiupan ASI terhadap bayi, makanan jenis itu sangat
berguna untuk menjaga kesehatan sang ibu sendiri. (Epung Saepudin, M.D.
Novita)

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/20/10231380/kandungan.asi.lebih.stabil.ketimbang.susu.formula

Sama-Sama Sehat Berkat Air Ajaib
Selasa, 20 Januari 2009 | 10:13 WIB
ERLI senang bukan kepalang saat dinyatakan positif hamil oleh dokter.
Maklum, bersama suami sudah lama dia mendambakan buah hati. Tapi, di balik
kebahagiaan yang dirasakannya, tepercik sedikit kekhawatiran. Seperti
kebanyakan ibu muda, ia juga khawatir tubuhnya bakal melar pasca melahirkan
nanti.

Memang, bagi mereka yang bertubuh melar pasca persalinan, olahraga dan diet
bisa menjadi sebagai solusi. Namun kedua jalan itu agak berisiko bagi ibu
yang baru saja melahirkan. Pasca bersalin, seorang ibu membutuhkan gizi dan
tenaga yang besar.

Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic memberikan tips termudah melangsingkan
badan lagi. "Beri bayi ASI eksklusif selama enam bulan, berat badan si ibu
dijamin kembali langsing," katanya. Ya, ASI atau air susu ibu, memang
memberikan manfaat ganda buat ibu dan anak.

Buat si upik, ketahanan tubuhnya terhadap serangan penyakit akan lebih
bagus. Bahkan, penelitian membuktikan, selama rentang usia enam bulan dia
bakal terlindung dari infeksi. Sebab, dalam ASI terdapat zat pelindung
imunoglobulin yang berfungsi untuk kekebalan tubuh.

Makanya, bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya jarang terkena asma,
diabetes anak atau infeksi. Khasiat ASI sudah mumpuni tanpa perlu campuran
apa-apa lagi. Oleh sebab itu, menurut Susianto, ahli gizi dari Universitas
Indonesia, selama enam bulan bayi cukup diberi ASI.

Adapun manfaat buat ibu, selain melangsingkan, menyusui juga bisa
meningkatkan hubungan emosional dengan si kecil, mengurangi risiko cacat
payudara, cacat indung telur, serta pendarahan pasca persahnan.

Tubuh ibu bisa langsing lewat menyusui karena komponen utama ASI adalah
lemak. Dengan menyusui, berarti ibu menyalurkan lemak-lemak di tubuhnya
kepada sang bayi. "Menyusui bisa membakar lemak hingga 3.000 kalori," tambah
Dokter Mulyadi.

Isapan mulut bayi pada puting payu dara ibunya juga bakal menghasilkai
hormon oksitosin yang bisa menghasilkan rangsangan ke syaraf. Selanjutnya,
rangsangan tadi akan memberi kan kontraksi di otot-otot tubuh ibu Jadi, otot
yang kendur juga bisa kem bali kencang.

Inisiasi menyusu dini

Besarnya manfaat ASI mendorong pemerintah aktif menggalakkan gerakan yang
satu ini sejak lama. Bahkan, mulai pertengaban 2008 lalu, pemerintah membuat
gerakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Dengan mengikuti program IMD, bayi
langsung dibiarkan menyusu ibunya begitu lahir. Ini beda dengan kebiasaan
menyusui pasca kelahiran yang berlangsung setelah selang beberapa waktu dari
saat si bayi pertama kali menghirup udara.

Dengan IMD, bayi yang baru lahir langsung diletakkan di dada ibunya. Si bayi
sendiri yang harus merayap mencari puting ibunya. IMD dilakukan langsung
tanpa ada jeda waktu untuk menimbang atau mengukur panjang bayi, seperti
biasa dilakukan.

Bayi juga tak boleh dibersihkan, kecuali dikeringkan tangannya. Tujuannya,
sentuhan pertama antara kulit bayi dan kulit ibunya bisa membuat hubungan
emosional keduanya semakin dekat. Biasanya, bayi akan menemukan puting
ibunya dalam satu jam.

Sayang, tak semua rumah sakit sudah menjalankan program yang satu ini. Jadi,
bila berminat mengikuti IMD, pastikan memilih dokter dan rumah sakit yang
mendukung program ini. Meski agak sulit, bayi yang dilahirkan dengan proses
operasi caesarjuga masih bisa mengikuti program ini. (Epung Saepudin, Martha
Dian Novita)

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/20/10132926/sama-sama.sehat.berkat.air.ajaib

Inilah Tips Seputar Pemberian ASI
Selasa, 20 Januari 2009 | 10:40 WIB
Sejatinya, memberi asupan ASI pasta melahirkan bisa menjadi sebuah proses
yang tidak mudah bagi seorang ibu. Tubuh dan psikologis ibu bisa jadi masih
sangat lelah. Oleh karena itu, harus ada dukungan suami. "Dukungan suami
untuk memberi ASI eksklusif sangat diperlukan. Itu juga menentukan sukses
tidaknya memberikan ASI eksklusif," kata Dokter Mulyadi dari Medizone
Clinic.

Jaga makan, jauhi obat pelangsing
Suami disini bisa berperan sebagai partner sang ibu dalam mengurus bayi.
Dengan demikian, ibu bisa mempunyai tenaga dan gizi yang cukup untuk
memberikan ASI. Agar kuat mengalirkan ASI, seorang ibu juga perlu menjaga
pola makannya. Untuk awal-awal bulan, sebaiknya ibu tak terlalu merisaukan
perubahan tubuh. Yang penting, asupan gizi untuk bayi cukup. Bila tak mau
badan melar terlalu besar, sang ibu bisa mengatur jam makan dan jumlah
kalori yang bakal dikonsumsi. Asalkan tetap kenyang.

Yang tak kalah penting, setelah bersalin ada baiknya ibu juga beraktifitas.
Tapi, olahraga ringan baru boleh dilakukan setelah enam minggu. Jauhi obat
pelangsing karena akan memperburuk kualitas ASI.

Makin tegang, makin susah keluar
Banyak orang bilang, proses menyusui akan terjadi secara alamiah. Meski
begitu, Dokter Mulyadi dari Medizone Clinic memberi beberapa tips agar ibu
bisa sukses memberi ASI untuk bayinya. Pertama, tangan ibu harus bersih.
Kedua, ibu harus santai. Kalau sang ibu tegang, ASI akan sulit untuk keluar.

Dokter Mulyadi menyarankan ibu menyusui dengan posisi duduk. Pada hari
pertama dan kedua setelah melahirkan, berikan ASI selama 5-10 menit lewat
setiap payudara. Pada hari selanjutnya bisa ditambah hingga 15-20 menit
untuk setiap payudara. "Secara insting si bayi pasti bisa menemukan puting
susu si ibu," kata Susianto, ahli gizi dari Universitas Indonesia

Cara menyusui yang benar adalah puting susu masuk seluruhnya ke dalam mulut
bayi. Ini juga salah satu cara mencegah puting susu tidak lecet. Bila bayi
sudah kenyang, tekan dagu bayi agar mulut terbuka dan puting susu terlepas.
Atau bisa juga dengan cara memasukkan jari kelingking ibu ke dalam mulut
bayi. Yang pasti, jangan menarik keluar puting dari mulut bayi secara
mendadak.

Konsumsi katuk agar aliran lancar
Kemampuan menyusui setiap ibu itu berbeda-beda. Ada yang kapasitas ASI-nya
begitu banyak, ada pula yang hanya sedikit. Bagi mereka yang kandungan
ASI-nya sedikit tau perlu risau. Ada beberapa tanaman yang bisa mamcu
produksi ASI salah satunya daun katuk.

Daun katuk adalah daun dari jenis tanaman Sauropus adrogynus (L) Merr,
famili Europhobiaceae. Sebutan lain daun katuk adalah memata (Melayu),
simani (Minangkabau), kebing dan katukan (Jawa) serta kerakur (Madura).
Manfaat daun katuk untuk memperbanyak ASI sudah dikuatkan beberapa
penelitian. Seperti sat daun katuk diujicobakan ke kambing betina selama 15
hari, produksi susunya meningkat drastis hingga 1,5 kalinya.

Jika ingin alami, sebaiknya daun katuk direbus atau ditumbuk terlebih dahulu
sebelum dikonsumsi. Tapi di zaman modern seperti saat ini, seperti dalam
bentuk minuman sachet dicampur dengan susu, hingga dalam bentuk kapsul atau
pil. Harganya juga cukup terjangkau.

(Kontan/Epung Saepudin)

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/20/10404758/inilah.tips.seputar.pemberian.asi

Reposting :

----- Original Message -----
From: ghozansehat
To: [email protected] <sehat%40yahoogroups.com> ;
[email protected]<annaku%40yahoogroups.com>;
[email protected] <parentsguide%40yahoogroups.com>
Sent: Monday, May 21, 2007 12:49 PM
Subject: [news] Waspadai Promosi Susu Formula

Dear all

""Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa
baru aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai,
sementara DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase
karena DHA/AA pada dasarnya adalah asam lemak," ungkap Tiwi. "

Saya prihatin sekali dengan generasi bangsa yang sejak piyik sudah dicocok
oleh pseudoiklan, pseudoscience...dan sederek kepalsuan lainnya.

Sementara draft rpp pemasaran susu formula yang konon katanya berubah
menjadi Draft Pemberian ASI semakin hari semakin bias dan bahkan tidak jelas
juntrungannya.

Info terakhir dari Pak Agus Pambagyo "Saat ini RPP msh dlm pembahasan antara
Dephukham dan team Depkes. Tgl 3 Mei akan ada mtg lagi tp mmg isinya blm
memuaskan kami para pegiat ASI"

Terus masih mau sampai kapan....

Sampai bangkrut dan ribut rumah tangga gara-gara gajinya hanya cukup buat
beli susu formula anaknya saja.

Bahwa ASI terbaik untuk bayi sampai dengan usia 6bulan masih kalah santer
dengan promosi susu formula untuk anak usia 6bulan yg sudah sanggat
meresahkan...membabi buta......bahkan dengan tipu daya AA/ DHA.......dan
melanggar kode etik internasional....

Ampun dechhhh....

salam prihatin,
bapakeghozan--artikel ini semakin memperpanjang daftar artikel "pembohongan
publik" secara sistemik.

Waspadai Promosi Susu Formula

Dewasa ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula untuk bayi
berusia di bawah enam bulan. Meski begitu, sebaiknya orangtua yang memiliki
bayi pada usia tersebut harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan
memilih susu formula.

Sudah sangat sering diulas oleh dokter anak maupun ahli gizi anak bahwa
satu-satunya makanan terbaik untuk bayi berusia 0 hingga 6 bulan adalah air
susu ibu (ASI). Bahkan para ahli sangat menyarankan agar para ibu memberikan
ASI eksklusif atau tak memberi asupan makanan apa pun kepada bayi kecuali
ASI selama enam bulan pertama sejak bayi lahir.

"Sayangnya, pemberian ASI eksklusif ini belum jadi gaya hidup keluarga di
berbagai lapisan masyarakat. Padahal, menyusui merupakan cara terbaik dan
paling ideal dalam pemberian makanan bayi baru lahir dan bagian tak
terpisahkan dari proses reproduksi," kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia
DKI Jakarta (IDAI Jaya) dr Badriul Hegar SpA (K) (Kompas, 1 April 2006).

Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan para ibu untuk tidak memberikan
ASI eksklusif, misalnya karena sang ibu bekerja sehingga tidak sempat
menyusui bayi secara teratur. "Saya sengaja memberi susu formula sejak awal,
karena nanti setelah cuti hamilnya habis kan saya enggak bisa memberi ASI
secara teratur lagi," ujar Dewi (31), pialang saham, yang baru saja
melahirkan anak pertamanya sebulan lalu.

Belum terbiasanya masyarakat memberikan ASI eksklusif kepada bayi ini
menjadi celah pemasaran yang bisa dimanfaatkan produsen susu formula. Selain
itu, para produsen juga memberi iming-iming berbagai vitamin dan zat gizi
tambahan ke dalam produk mereka, seperti DHA dan AA, yang sering diklaim
dapat membantu perkembangan otak bayi.

Ada dalam ASI

Menurut dr IG Ayu Pratiwi Surjadi SpA,MARS, anggota Satuan Tugas ASI IDAI
Jaya, DHA (docosahexaenoic acid) dan AA (arachidonic acid/asam arakidonat)
memang sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun pertama
perkembangannya. "Otak manusia sebenarnya sudah terbentuk 90 persen saat
lahir. Setelah kelahiran kemudian terjadi mielinisasi dan sinaptogenesis
dalam otak," papar dokter yang akrab dipanggil Tiwi ini.

Proses mielinisasi adalah pembentukan selaput mielin atau selimut serabut
saraf yang membutuhkan laktosa atau zat gula dari susu. Sementara proses
sinaptogenesis adalah proses pembentukan susunan sistem saraf pusat yang
membutuhkan DHA dan AA.

"Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa
baru aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai,
sementara DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase
karena DHA/AA pada dasarnya adalah asam lemak," ungkap Tiwi.

Tiwi menambahkan, baik laktosa maupun DHA/AA hanya hadir lengkap dengan
enzim-enzimnya dalam ASI. "Susu formula jenis apa pun, semahal apa pun,
meski dibuat semirip mungkin dengan ASI, tetap saja tak ada enzimnya. Jadi,
satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi memang hanya ASI," katanya.

Tiwi menambahkan, akibat gencarnya promosi susu formula, banyak anggota
masyarakat yang mengira DHA/AA tak terkandung dalam ASI. "Jadi, tolong
tekankan DHA/AA yang terbaik itu justru ada di dalam ASI. Komponen apa pun
yang dipromosikan ada di dalam susu formula, semuanya sudah ada di ASI,"
kata Tiwi.

Mitos dan promosi

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husna Zahir juga mengatakan,
pihaknya sama sekali tidak merekomendasikan pemberian susu formula kepada
bayi.

"Susu formula hanya diberikan dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat
darurat. Di luar itu, pemakaian susu formula hanya pemborosan belaka,"
tandasnya.

Husna juga mengungkapkan adanya mitos bahwa bayi sehat adalah bayi yang
gemuk. Sementara bayi yang diberi ASI eksklusif memang cenderung tidak
menjadi gemuk. "Mereka kemudian menambahkan susu formula agar bayinya gemuk.
Padahal, bayi sehat tidak harus gemuk. Itu cuma mitos," ujar Husna.

Husna mengingatkan, kondisi bayi baru lahir masih sangat rentan sehingga
harus ekstra hati-hati saat memberi zat makanan dari luar.

"Klaim-klaim dari produsen bahwa susu formulanya dapat memberi berbagai
dampak positif bagi bayi perlu dipertanyakan lebih lanjut. Misalnya,
informasi dosis atau jumlah yang tepat supaya dampak tersebut akan terjadi.
Selama ini banyak orang merasa aman apabila sudah mengonsumsi susu tersebut
karena termakan promosi," tambah Husna.

Di atas semuanya, ia juga menyarankan agar masyarakat waspada terhadap
penawaran-penawaran susu formula di tempat-tempat pelayanan kesehatan.
"Sekarang ini banyak rumah bersalin yang menawarkan susu formula kepada
orangtua bayi yang baru lahir. Itu sebenarnya melanggar kode etik," katanya.


Kode etik yang dimaksud Husna adalah Kode Internasional Pemasaran Produk
Pengganti ASI (International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes)
yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 lalu.

"Pemasaran produk susu formula untuk bayi berusia di bawah enam bulan
seharusnya diatur secara tegas. Kalau perlu ada pelarangan promosi susu
formula di tempat-tempat pelayanan medis resmi," ujarnya tegas.

Sumber: Kompas

[Non-text portions of this message have been removed]

 

Kirim email ke