Saya juga sering bingung, bagaimana saya bisa percaya pada obat2an yang 
diberikan? Ada juga dr yang selalu memberikan antibiotik, tanpa peduli apa 
penyakitnya. Mungkin seharusnya ada pengawasan ketat dari pemerintah (badan 
POM?) pada RS2 dan dr2 yang mengeluarkan resep obat. Sehingga kita para 
konsumen RS dan dr merasa aman....

--- On Wed, 21/1/09, Shinta Wahyuni <[email protected]> wrote:
From: Shinta Wahyuni <[email protected]>
Subject: [parentsguide] Hindari Obat Irasional
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Wednesday, 21 January, 2009, 1:56 PM










    
            Dear Smart Parents,

Ada artikel menarik di Media indonesia... .Halaman 15.
Selamat membaca ya.....semoga bermanfaat.

Salam Sehat,

Shinta
(aih tenyata ada mas Gendi dan Mba Ria).



http://anax1a. pressmart. net/mediaindones ia/MI/MI/ 2009/01/21/ index.shtml


( ada di Halaman 15 )

HINDARI OBAT IRASIONAL
Sering Kali tidak Menyasar Sumber Penyakit 

Konsumsi obat kerap
dibutuhkan untuk
mengatasi penyakit.
Namun perlu
diwaspadai, pemakaian
obat berlebih dapat
menimbulkan gangguan
ginjal dan hati.B
 EBERAPA tahun lalu, Gendi
memeriksakan anaknya,
Pasha, yang berusia sepuluh
bulan ke dokter langganan

 keluarga. Kepada dokter, ayah muda
itu mengungkapkan kekhawatirannya karena Pasha terlihat kurus. Saat
mendengar keluhan yang disampaikan Gendi, sang dokter yang bergelar
profesor itu langsung curiga Pasha
terkena tuberkulosis (Tb).   Namun, setelah dilakukan uji mantuk kepada Pasha, 
hasilnya negatif.
Dokter kemudian menyarankan Pasha dirontgen. Didapati ada bercak
putih di paru-paru Pasha. Atas dasar
itu, dokter langsung menyimpulkan
Pasha terkena Tb dan diresepkan obat
anti-Tb (OAT) yang harus dikonsumsi
selama enam bulan.   Setelah konsumsi obat berlangsung
tiga bulan, Gendi membawa Pasha
kembali ke dokter untuk evaluasi.
Saat itu, tanpa melihat kondisi Pasha
lebih jauh, dokter menyarankan konsumsi OAT diteruskan sampai genap
enam bulan.   Sebulan kemudian, Gendi membawa Pasha kembali ke dokter yang
sama. Tujuannya sekadar untuk
pemeriksaan rutin. Saat itulah Gendi
merasa ada yang tidak beres dengan
dokter tersebut.   "Setelah melihat rekam medis
(medical record) Pasha, dokter bertanya
apakah Pasha masih mengonsumsi
OAT. "Padahal, sebulan lalu ia sendiri
menyarankan OAT harus diteruskan
sampai enam bulan," kisah Gendi
kepada Media Indonesia di Jakarta,
Senin lalu (17/1).   Karena merasa ada yang tidak beres,
laki-laki asal Pejaten itu membawa Pasha ke dokter anak lain untuk mencari
second opinion. Betapa kagetnya Gendi
ketika hasil konsultasi dokter anak
tersebut dengan koleganya yang ahli
paru menyatakan Pasha sebenarnya
tidak pernah terkena Tb.   Selain Gendi, pengalaman 'buruk'
serupa juga dikisahkan Trinovi Riastuti. Sekitar dua tahun silam ibu
yang akrab disapa Ria itu memeriksakan bayinya, Nathan, ke dokter.
Penyebabnya, pagi-pagi Nathan
muntah-muntah setelah malamnya
sempat jatuh dari tempat tidur.   Berdasar cerita Ria, dokter curiga
Nathan mengalami cedera otak dan
disarankan melakukan CT scan. Ia
juga meresepkan obat vitamin otak

 untuk membantu memulihkan Nathan. Beruntung, Ria tergolong ibu
yang rajin mempelajari pengetahuan
tentang kesehatan anak.  ''Saya tidak percaya dokter begitu
saja. Dari melihat cara muntahnya Nathan serta dari tukar pengalaman di
milis kesehatan anak, saya justru curiga
masalah Nathan ada di saluran cernanya,'' kisah ibu asal cengkareng itu.  Ria 
semakin yakin Nathan bermasalah dengan saluran cernanya

 ketika selain muntah Nathan juga
diare. Karena itulah Ria mengurungkan niat men-CT-Scan Nathan dan
tidak jadi menebus vitamin otak yang
diresepkan dokter.   "Terlebih hasil browsing di internet
menyatakan efek samping vitamin
otak itu bagi bayi cukup berbahaya.
Dengan menggencarkan pemberian
ASI, Nathan pulih,'' kata Ria.   Kisah Gendi dan Ria cukup memberi gambaran 
bahwa dokter juga

 bisa melakukan kesalahan dalam
menangani pasiennya. Penting bagi
para orang tua untuk membekali diri
dengan pengetahuan tentang kesehatan anak agar tidak terkecoh.   Terlebih, 
sebagian dokter di Indonesia belum menerapkan konsep penggunaan obat secara 
rasional (rational
use of drug/RUD). Mereka, sadar atau
tidak, justru masih menerapkan konsep penggunaan obat yang irasional
(irrational use of drug/IRUD).                          Polifarmasi
   Spesialis anak dr Purnamawati S
Pujiarto, SpA(K), MMPed, mengungkapkan hal itu pada sebuah
seminar tentang bahaya obat irasional
yang digelar di Kemang Medical
Care, beberapa waktu lalu. ''Menurut WHO, pengobatan yang rasional
adalah pemberian obat yang sesuai
kebutuhan pasien, dalam dosis yang
sesuai dan periode waktu tertentu,
serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya,'' 
jelas dokter yang juga
duta WHO untuk penggunaan obat
rasional ini.   Dokter yang akrab disapa Wati ini
menambahkan, pola pengobatan yang
rasional juga bukan pengobatan yang
tergopoh-gopoh mengobati gejala,
melainkan mencari akar permasalahan. Misalnya, mengapa batuk, mengapa diare.. 
"Bukan memberi resep
obat batuk atau obat mampat diare,"
tutur Wati yang juga Direktur Medis
Kemang Medical Care itu.   Menurut Wati, perlu diketahui bahwa kasus demam, 
batuk, pilek, radang
tenggorok, dan diare akut tanpa perdarahan yang kerap dialami anakanak, 
sebagian besar disebabkan virus
dan bisa sembuh sendiri tanpa perlu
obat. Namun di masyarakat, kerap terjadi pada kasus-kasus tersebut dokter
meresepkan beberapa jenis obat.   Pemberian obat berlebihan (polifarmasi) kata 
Wati, merupakan salah satu
bentuk penggunaan obat irasional
yang lazim ditemui. Dalam kasus
tersebut biasanya pengobatan bersifat
simtomatis atau pengobatan terhadap
gejala, bukan pada sumber penyakit.   "Contohnya, ketika menghadapi
pasien dengan lima keluhan dokter
memberi lima jenis obat. Pasien pun
senang karena semua keluhannya
sirna. Namun, hal itu justru potensial
menciptakan kondisi dengan diagnosis tetap mengambang, bahkan bisa
terlambat dideteksi," jelas Wati.   Selain polifarmasi, bentuk penggunaan obat 
yang irasional antara lain,
pemberian antibiotik, steroid, dan suplemen berlebihan serta peresepan obat
bermerek padahal ada generiknya. 
"Minimnya informasi terkait dengan obat-obat yang diresepkan juga
termasuk praktik penggunaan obat
irasional. "Biasanya informasi sebatas,
ini obat radang, ini untuk dahak, ini
untuk mulas," terang Wati. (S-6)
e...@mediaindonesia. com 

Tips menghindari resep obat irasional:

1. Pelajari penyakit-penyakit 'harian' seperti demam, batuk pilek,
diare, dan sakit kepala. Biasakan browsing di internet dari situs yang
tepercaya, seperti Mayoclinic, AAP, RCH, Kidshealth, CDC, WHO, BMJ, dan
NEJM.

2. Ketika ke dokter, pahami, tujuannya adalah berkonsultasi, bukan
sekadar meminta secarik resep. Berdiskusilah, mintalah diagnosis dalam
bahasa medis sehingga bisa digunakan saat mencari informasi tambahan di
inter net atau sumber lain, mintalah penjelasan penyebab timbulnya
masalah, diagnosis, dan rencana penanganannya.

3. Ketika diberi resep, hitung jumlah barisnya. Jika lebih dari dua,
alarm kecurigaan terhadap praktik polifarmasi harus dipasang.

4. Tanyakan baris per baris obat ke dokter (dan farmasis), meliputi
kandung an aktifnya, mekanisme kerja, indikasi, kontra indikasi, dan
risiko efek samping.

5. Resep jangan langsung dibeli, cari informasi tambahan mengenai obat
obatan yang diresepkan. Tidak perlu khawatir kondisi akan memburuk se
bab apabila kita berada dalam kondisi gawat darurat, tentu akan
langsung dirujuk rawat inap dengan berbagai intervensi segera
(pemberian oksigen, pasang infus).

6. Mintalah resep obat generik.


EMAIL
e...@mediaindonesia. com








-- 
Mari Kita belajar lebih jauh tentang kesehatan anak di Pesat 2 Tangerang
Mau Daftar  : hubungi : 0812-8215795 (Rita), 0816630188 (Mela), 0813-8746656 ( 
shinta)
atau email ke daftar.pesat2tanger a...@gmail. com Subject : PENDAFTARAN


http://swahyuni. multiply. com


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke