Bijak Konsumsi Obat
JAKARTA–Obat-obatan merupakan salah satu
terapi yang digunakan oleh dokter dan ahli medis lain untuk
menyembuhkan pasien. Namun, jika digunakan berlebihan dan tidak tepat
justru dapat mengganggu organ hati (liver)

Sayangnya, masyarakat di Indonesia masih banyak yang menganggap hal
itu sebagai suatu kewajaran. Selain itu, kebiasaan yang berlaku adalah
meminta obat untuk masing-masing gejala penyakit yang timbul.
Misalnya, seorang ibu yang anaknya menderita
diare, dia akan meminta obat untuk mencretnya, lalu obat untuk mualnya,
nafsu makannya, juga obat untuk kepala pusing. Alhasil saat pulang, ibu
bisa membawa lebih dari tiga macam obat untuk anaknya. 
”Padahal untuk penyakit harian seperti
diare, batuk, demam, atau radang tenggorokan tidak perlu sampai lebih
dari dua obat,” kata dr Purnamawati S Pujiarto SpAK MMPed, duta WHO
(Organisasi Kesehatan Dunia) untuk penggunaan obat secara rasional,
dalam sebuah seminar di Kemang Medical Care, Jakarta, belum lama ini. 
Ketika Anda atau keluarga Anda menderita
penyakit harian, mestinya tak perlu panik. Dokter yang akrab disapa
Wati itu mengatakan, penyakit harian akan sembuh sendiri dalam beberapa
hari tanpa bantuan obat. 
Penyakit tersebut merupakan hal alami yang
terus terjadi dalam tubuh manusia. Perlu ditahui, penyakit ringan itu
merupakan cara alami manusia untuk memerangi bakteri atau virus jahat
dalam tubuh. Jadi, jangan terlampau tergantung pada obat. 
Wati mengingatkan, meski obat sangat berguna
bagi kesehatan namun jika digunakan sembarangan akan merugikan
kesehatan itu sendiri. Sangat penting untuk menggunakan obat secara
rasional dan bijaksana, utamanya demi menjaga fungsi hati. 
Wati memaparkan, sebagian besar obat tidak
larut dalam air sehingga perlu diproses di hati agar menjadi komponen
yang larut dalam air. 
”Sehingga jika menggunakan obat terlalu
banyak dan tidak tepat akan merusak kerja hati. Selain itu, ginjal juga
akan kesulitan mengeluarkan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh,”
kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun
1978 itu. 
Dia memberi contoh, obat batuk pilek yang
mengandung dekongestan. Kandungan ini (dekongestan), kata dia, tidak
pernah terbukti efektif menangani batuk pilek. Bahkan di beberapa
negara, dekongestan sudah dinyatakan tidak aman diberikan pada bayi dan
anak kecil. 
Saat Anda batuk, jangan pernah meminum obat
untuk menekan batuk. Pasalnya, batuk berfungsi untuk membantu
membersihkan jalan napas sehingga tidak boleh ditekan. ‘
‘Golongan yang paling rentan terkena efek
tidak baik dari penggunaan obat yang kurang tepat adalah anak-anak dan
manula,” kata Wati, yang pada 1994-2003 menjadi staf pengajar di Sub
Bagian Hepatologi Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI. 
Ada sejumlah jurus yang bisa dilakukan untuk
mencegah penggunaan obat yang tidak rasional. Salah satunya dengan
membangun hubungan baik antara pasien dan dokter dalam sebuah sesi
pengobatan. 
Wati menggambarkan, ketika pasien datang,
dokter harus mengumpulkan data perihal permasalahan, perjalanan
penyakit dam pengobatan yang pernah diperoleh pasien. Dokter lalu
memberikan diagnosis yang tepat dan akurat, dilanjutkan dengan
pemilihan obat yang efektif, aman, cocok, terjangkau dan mudah didapat. 
Dokter juga harus menjelaskan manfaat dan efek samping obat serta tindakan yang 
mesti dilakukan jika terjadi efek samping.

Sebagai pasien, Anda tak harus selalu
menerima atau puas dengan apa yang dilakukan dokter. Anda berhak
menanyakan banyak hal seputar penanganan penyakit. Setelah mendapatkan
obat, selayaknya pasien dapat bertanya, apakah dirinya memang perlu
mendapatkan obat itu, kandungan aktif obat, bagaimana mekanisme kerja
obat, indikasi, kontra indikasi dan efek samping.
Pendek kata, jadilah pasien yang kritis.
”Ini justru dapat memberikan banyak pengetahuan, sekaligus mengamankan
Anda dalam mengonsumsi obat,” kata Wati yang juga menulis buku Q&A
Smart Parents for Healthy Children. 
Pasien juga harus memahami, tidak selamanya
dokter harus memberikan obat. ”Sebuah pelayanan kesehatan yang baik
tidak berarti mengeluarkan obat sebagai hasilnya, melainkan sebuah
konsultasi dan diskusi antara pasien dan dokter tentang penyakit dan
cara penanganannya,” pungkasnya.(c62/ri)Sumber : Republika

http://purnamawati.wordpress.com/2008/12/
---------------

 """  Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan2 dan sebaik-baik perhiasan dunia 
adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)



      

Kirim email ke