pak pandu.

sebaiknya bapak tanyakan langsung ke dokter yang bersangkutan. 
atau bapak bisa mencari informasi dengan men-search di situs2 kedokteran.
anak saya sudah menerima vaksin hepatitis B sebanyak 3x. dan sampai sekarang
anak saya sehat, dan tidak ada gejala menderita autis.
sebaiknya bapak mencari informasi yang sebenar2nya.
seperti vaksin MMR yang sempat ramai dibicarakan, setelah saya tanya langsung
ke dokter anak dan dia menjelaskan bahwa vaksin MMR tersebut bukan pencetus 
autis.
tapi jika dalam riwayat keluarga ada yang menderita autis, sebaikknya diwaspadai
karna bisa saja setelah vaksin tanda2 autis tersebut muncul.jadi bukan karna 
vaksinnya.
tapi karna memang ada historis dalam keluarga yang mengidap autis tapi tidak 
ketahuan.
saya juga disarankan kalau anak belum bisa bicara lancar vaksin MMR tersebut 
ditunda 
saja, sampai si anak ini bisa bicara lancar.

semoga info nya membantu
mama hima

--- On Tue, 2/24/09, pandu setiadi <[email protected]> wrote:
From: pandu setiadi <[email protected]>
Subject: [parentsguide] apakah benar Vaksin hepatitis B penyebab AUTIS??
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 24, 2009, 4:36 PM











    
            Dear all, benarkah berita dibawah mengenai vaksin hepatitis B yang 
tercemar oleh Merkuri??
Mohon informasinya terkait berita dibawah, istri saya sekarang sedang 
mengandung dan saya dapat informasi bahwa bayi harus sudah langsung di vaksin 
Hepatitis B dalam waktu 12 jam kelahiran. Saya jadi khawatir setelah membaca 
berita dibawah

Rgds
Pandu S
  


  Vaksin penyebab AUTIS

Buat para Pasangan MUDA. om dan tante
yg punya keponakan... atau bahkan calon ibu ... perlu nih dibaca ttg
autisme.. Bisa di share kepada yang masih punya anak kecil supaya
ber-hati2... ..... 

Setelah kesibukan Lebaran yang menyita
waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku "Children
with Starving Brains" karangan Jaquelyn McCandless , MD yang 
diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo. 

Ternyata
buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,-itu
benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit
setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum
Disorder. Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya
menangis. 
 
Selama  6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001
-Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B,
dan 3 kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 - 55)
ternyata dua macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama
hidupnya itu positif mengandung zat pengawet 
Thimerosal, yang
terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme
Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an. 

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak 
akir tahun 2001. 

Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu 
kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah 
rumahsakit
besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan
harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah "diracuni"
oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi. Beruntung saya masih bisa
memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang
parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet
pantang gluten dan casein, harus terapi ABA , Okupasi,dan nampaknya
harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar
biayanya.

Melalui e-mail ini saya 
hanya ingin menghimbau
para dokter anak di Indonesia , para pejabat di Departemen Kesehatan,
tolonglah baca buku tersebut diatas itu, dan tolong musnahkan semua
vaksin yang masih mengandung Thimerosal. 

Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah 
terjadi)
sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut di ekspor dengan
harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke
puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang
sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan. 

Kepada
para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan
assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut,
cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B
dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal. 

Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, 
agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. 
 
Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak 
penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang 
berpenghasilan
rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi
supplemen, terapi ABA , Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar
tunggunya sampai berbulan-bulan) , yang besarnya sampai jutaaan Rupiah
perbulannya. 
Terakhir,mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan
ribuan teman-teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang
berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme. 
 
"Let's share with others... Show them that WE care!" 
 Regards
Pandu S







      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke