Dear Parents... Ada artikel menarik nih dari ketua AIMI... Sangat
bermanfaat buat saya dan semoga bisa bermanfaat juga utk semua... Thanks...



Salam,

Arianti

http://lollypop-kidz-shop.blogspot.com



"Semua Ibu bisa menyusui, kalau ibu MAU, dan CUKUP ILMU."

**************************************************************************************************

Bayi Sering Menangis - Apakah Ini Tandanya ASI Tidak Cukup?
By      Mia Sutanto on February 17th, 2009
Jujur saja, selama pengalaman saya sebagai seorang konselor laktasi, inilah 
yang paling ditakuti oleh seorang ibu menyusui; bayinya nangis terus padahal 
baru saja disusuin selama 1 jam, bayinya nangis terus padahal sudah sering 
disusuin setiap setengah jam sekali, baru saja diletakkan ditempat tidur, 15 
menit kemudian sudah bangun lagi dan minta disusuin. Haduh, apakah ini tandanya 
ASI tidak cukup ya…?!
Mungkin yang perlu pertama kali diingat adalah, bayi belum bisa berbicara. 
Satu-satunya cara seorang bayi berkomunikasi dengan orangtuanya adalah melalui 
tangisan. Makanya para pakar sepakat bahwa apabila orangtua langsung menanggapi 
dan merespon tangisan bayinya, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan sang 
bayi, hal tersebut tidak akan membuat si bayi menjadi manja, justru sebaliknya, 
bayi akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri karena dia 
merasa selalu ’didengar’ oleh orangtuanya.
Bagaimana caranya bayi memberitahukan ibu bahwa ia sedang lapar…? Ya tentu 
melalui tangisan. Tetapi apakah berarti setiap kali bayi menangis tandanya ia 
sedang lapar…? Belum tentu. Yuk, kita simak satu persatu apa kiranya yang 
menyebakan seorang bayi menangis, terutama dalam kaitannya dengan pemberian ASI 
dan masa menyusui.

Bayi Baru Lahir Butuh Penyesuaian

Setelah 9 bulan didekap dengan hangat dan lembut dalam rahim bunda, diiringi 
dengan kedamaian suara detak jantung bunda…tiba-tiba harus lahir ke dunia yang 
terang benderang, berisik, ramai, dingin, penuh dengan orang-orang yang tidak 
dikenal…gak heran ya bayi yang baru lahir langsung nangis sekencang-kencangnya.
Disinilah salah satu manfaat dilakukannya IMD (inisiasi menyusu dini), ternyata 
bayi akan berhenti menangis apabila langsung diletakkan diatas dada ibunya, dan 
tingkat hormon stresnya akan menurun sebesar 50%.
Bayangkan kita harus tinggal di negara lain, belum pernah kesana, tidak kenal 
siapa-siapa, tidak bisa berbahasa setempat, belum biasa (cocok) dengan makanan 
setempat…belum lagi terdapat perbedaan musim dan waktu (disini siang, disana 
malam).
Begitulah kira-kira apa yang dialami seorang bayi baru lahir, semua serba 
asing, serba baru, serba belum bisa. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan 
adalah dengan berkomunikasi…melalui tangisannya.

Bayi Baru Lahir Butuh Rasa Aman dan Nyaman

Mama… aku gak nyaman nih, aku abis pipis/pup…

panas bunda, kipas anginnya kurang kencang…
ibu, AC-nya dikecilkan dong, aku kedinginan nih…

wah, aku digigit nyamuk lagi bunda, gatal…
mama, bajuku kasar…

ibu, aku pegal tidur diposisi ini terus…
aduh, sakit bunda, tanganku kepentok pinggiran tempat tidur…

ummi, aku bosan disini terus, gendong ya…
ibu, perutku kembung nih…

mama, aku lapaaaaarrr…!!!Semua itu dia komunikasikan melalui tangisan. Belum 
lagi seorang bayi baru lahir sangat butuh perasaan aman, dan itu hanya dia 
dapatkan dari dekapan hangat penuh cinta bundanya, terutama pada saat-saat 
menyusui. Wah, gak heran ya seorang bayi sering menangis.

Menyusui: Memenuhi Rasa Haus, Lapar dan Comfort


Hal yang seringkali tidak disadari oleh para orangtua adalah, bayi menyusu 
bukan saja karena lapar tetapi terkadang bayi hanya haus, dan di lain waktu 
bayi menyusu karena membutuhkan rasa nyaman dari dekapan sang bunda 
(http://www.kellymom.com/store/handouts/newborn/sleep.pdf).
Bagaimana bila bayi sedang dalam fase tumbuh gigi, atau sedang dalam proses 
pencapaian salah satu milestone-nya, atau bayi sedang sakit dan tidak enak 
badan? Semua itu dia komunikasikan melalui tangisannya, dan semua itu dapat 
menyebabkan seorang bayi menjadi sangat membutuhkan rasa nyaman yang diperoleh 
pada saat sedang menyusu.

Kapasitas Perut Seorang Bayi

Kenapa kolostrum diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit (setiap kali bayi 
menyusu pada hari-hari pertama, hanya minum 1-2 sendok teh kolostrum)..? Ini 
dikarenakan pada hari pertama kapasitas lambung seorang bayi baru lahir 
hanyalah sebesar 5-7ml setiap kali minum.
Iya, ukuran lambungnya hanya sebeser kelereng (gundu), dan dinding lambungnya 
tidak bisa melar untuk menampung lebih banyak cairan. Makanya bayi baru lahir 
HANYA membutuhkan kolostrum, kualitas dan kuantitasnya secara sempurna memenuhi 
kebutuhan sang bayi (http://www.llli.org/images/InfantStomach.jpg).
Pada hari ke-3, ukuran lambung bayi membesar menjadi seukuran bola bekel, atau 
seukuran kepalan tangannya, sehingga sekali minum lambung sudah bisa menampung 
22-27ml (biasanya pad ahari ke-3 ini, kolostrum mulai berubah menjadi ASI 
transisi dan volumenya juga bertambah).
Pada hari ke-7, lambung kembali membesar seukuran bola pingpong, dan bayi mulai 
bisa minum 45-60ml setiap kali menyusu. Hari ke-10, ukuran lambung bayi kurang 
lebih sama dengan telur ayam yang besar, dan kapasitasnya bertambah menjadi 
sekitar 60-81ml sekali minum (makanya pada usia sekitar 10-14 hari, bayi 
mengalami percepatan pertumbuhan yang pertama – lihat keterangan dibawah ini).
Kalau sudah tahu gini, jangan kaget ya kalau ternyata bayi anda menyusu setiap 
1-1,5 jam atau bahkan kurang dari itu. Ternyata ukuran lambung bayi memang 
sangat kecil, jadi hanya bisa menampung sedikit setiap kali menyusu sehingga 
bayi perlu SERING menyusu.

ASI Sangat Mudah Diserap dan Dicerna

Selain faktor ukuran lambung bayi yang memang kecil, ternyata ASI sangat mudah 
diserap dan dicerna oleh tubuh bayi. Semua nutrisi yang terkandung dalam ASI 
sangat cocok dan mudah diserap oleh pencernaan seorang bayi manusia, dan ASI 
mengandung enzim-enzim pencernaannya sendiri 
(http://www.enotalone.com/article/3606.html).
Jadi bayangkan, begitu masuk kedalam lambung, ASI langsung dicerna dan diserap 
secara sempurna oleh tubuh bayi, ditambah dengan ukuran lambung bayi yang masih 
sangat kecil. Tidak heran kan kalau bayi ASI lebih cepat dan mudah merasa lapar 
kembali.

Produksi ASI: Supply and Demand

Memang betul, selama periode menyusui, produksi ASI sangat ditentukan oleh 
prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering payudara diisap dan 
dikosongkan, maka semakin sering dan semakin banyak ASI akan diproduksi.
Namun, hal tersebut tidak berlaku pada hari 1-3 setelah kelahiran bayi 
(http://www.kellymom.com/bf/supply/milkproduction.html), pada saat-saat 
tersebut produksi ASI lebih ditentukan oleh kerja hormon prolaktin. Tapi bayi 
tetap perlu sering menyusu untuk mendapatkan kolostrum secara maksimal, 
mengingat ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil.
Pada saat kolostrum berubah menjadi ASI transisi (sekitar hari ke-2 atau ke-3), 
maka mulailah prinsip supply and demand tersebut dan di masa-masa awal ini, 
terkadang antara supply dan demand belum cocok. Misalnya: demand bayi sudah 
besar, tetapi supply ASI masih sedikit sehingga bayi akan sangat sering menyusu 
(karena sering lapar dan untuk meningkatkan produksi ASI) dan menangis karena 
lapar.
Atau, supply ASI sudah sangat banyak, tetapi demand-nya masih sedikit. Walhasil 
bayi sering menangis pada saat sedang menyusu karena aliran ASI sangat banyak, 
atau menangis setelah selesai menyusu karena terlalu banyak menelan udara 
sehingga kembung.

Percepatan Pertumbuhan (Growth Spurt)


Percepatan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada bayi, tetapi hal ini akan terus 
terjadi sampai dengan bayi menjadi seorang remaja.
Namun pada bayi, kondisi ini biasanya hanya berlangsung sekitar 3 hari dan 
terjadi di usia 10-14 hari, 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan 
(http://breastfeeding.about.com/od/breastfeedingbystage/a/growthspurts.htm).
Pada periode ini, bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental 
yang sangat cepat, sehingga membutuhkan ekstra kalori untuk mengimbanginya. 
Pada bayi ASI, ekstra kalori tersebut didapat dengan cara meningkatkan produksi 
ASI ibunya dan cara yang paling ampuh untuk meningkatkan produksi ASI adalah 
dengan bayi lebih sering menyusu.

Faktor Psikis dan Kesehatan Fisik Ibu

Bayangkan skenario ini: seorang ibu baru saja selesai menyusui bayinya yang 
berusia 10 hari kemudian secara perlahan-lahan (supaya tidak membangunkan) 
meletakkan bayi tersebut di tempat tidurnya. 15 menit kemudian bayinya 
terbangun lagi dan menangis, dan si ibu kembali menyusui bayinya selama 
setengah jam.
Selesai menyusui, ibu beringsut-ingsut ke kamar mandi karena dari pagi belum 
mandi. Baru hendak melepaskan pakaian, terdengar lagi suara tangisan bayinya. 
Ibu menjadi stres, cemas, takut dan khawatir ASI-nya pasti tidak cukup/hanya 
sedikit sehingga bayinya jadi sering terbangun dan menangis karena lapar.
Belum lagi rasa capek, pegal, (sisa) sakit akibat persalinan, baby blues, dan 
pola makan yang belum teratur karena terlalu sibuk mengurus sang buah hati.
Kombinasi dari beberapa faktor diatas bisa mempengaruhi kelancaran ASI 
(http://www.breastfeed.com/articles/overcoming-difficulties/stressed-out-and-dried-up-3259/),
 mempengaruhi kerja hormon oksitosin sehingga Let Down Reflex (LDR) menjadi 
terhambat dan bayi tidak dapat minum ASI dengan puas sampai kenyang. Akibatnya, 
baru selesai disusui, bayi akan menangis lagi untuk minta disusui lagi karena 
sebenarnya dia belum kenyang.

ASI Yang Diperah ≠ ASI Yang Diproduksi

Inilah kesalahan yang seringkali dilakukan oleh para ibu; memerah ASI untuk 
melihat berapa banyak ASI yang mereka hasilkan. Jumlah ASI yang berhasil 
diperah/dipompa hanya menunjukkan seberapa banyak si ibu bisa memerah/memompa 
ASInya, BUKAN seberapa banyak si ibu bisa memproduksi ASI.
Berapa banyak ASI yang bisa diperah/dipompa sangat tergantung pada beberapa 
hal, misalnya: apakah LDR berfungsi pada saat sedang memerah/memompa, seberapa 
lihai ibu memerah dengan tangan atau menggunakan pompa ASI, apakah teknik yang 
digunakan sudah benar, apakah pompa ASI dalam keadaan prima (tidak ada bagian 
yang rusak), dll.
Kemampuan ibu untuk memerah/memompa ASInya jauh dibawah kemampuan si bayi untuk 
mengisap dan mengeluarkan ASI dari payudara. Itupun bayi rata-rata hanya bisa 
’mengosongkan’ payudara sekitar 70% dari kapasitas produksi.

Posisi Menyusui dan Pelekatan

Mungkin salah satu hal yang paling menentukan apakah bayi dapat mengeluarkan 
ASI secara efektif dari payudara ibunya, sehingga dapat minum ASI sampai puas, 
adalah posisi menyusui 
(http://www.mayoclinic.com/health/breast-feeding/FL00096) serta pelekatan mulut 
bayi pada payudara si ibu 
(http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_images_latchon.html).
Banyak faktor yang mempengaruhi posisi dan pelekatan ini, seperti anatomi 
payudara (besar, kecil, dll) serta puting (besar, kecil, datar, dll) ibu dan 
anatomi mulut bayi (celah bibir, lidah pendek, dll). Apabila posisi menyusui 
dan/atau pelekatan mulut bayi masih kurang tepat, ada kemungkinan bayi tidak 
dapat mengeluarkan dan minum ASI secara maksimal dari payudara ibunya. 
Akibatnya, walaupun bayi sering dan lama menyusunya, dia akan cepat menangis 
dan lapar kembali karena sebenarnya belum kenyang.

Produksi ASI Memang Sedikit (1 dari 1000 Wanita)

Pada akhirnya, dari 1000 wanita yang mengaku ASInya sedikit atau kurang, ada 1 
yang memang betul-betul tidak dapat menghasilkan ASI untuk mencukupi kebutuhan 
bayinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kelainan anatomi pada payudara 
dan/atau gangguan hormon ASI pada si ibu 
(http://www.lactationconsultant.info/how.html).

APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN…?Untuk (1), (2) dan (3), terimalah secara ikhlas 
bahwa keadaan bayi memang demikian, bayi tidak melakukan semua itu karena dia 
manja atau dengan tujuan memanipulasi dan dengan sengaja menyusahkan 
orangtuanya, tetapi karena memang bayi membutuhkannya. Untuk (4), (5), (6) dan 
(7), pelajari, waspadai dan antisipasi keadaan.
Dengan tahu bahwa kapasitas lambung bayi sangat kecil, bahwa ASI sangat mudah 
diserap, bahwa ASI diproduksi berdasarkan prinsip supply and demand dan bahwa 
bayi akan beberapa kali mengalami periode percepatan pertumbuhan, normal kan 
kalau bayi akan sering menyusu pada ibunya…?
Untuk (8), hindari kondisi ini. Otak ibu bagaikan sebuah komputer, apabila 
sudah terkena ’virus’ stres, cemas, khawatir, takut dan tidak percaya diri, 
maka kerja hormon-hormon ASI akan terhambat. Untuk (9), wah, hindarilah. Tidak 
perlu melakukan ini, salah-salah malah akan menambah ’virus’ di otak ibu.
Untuk (10), pelajari… pelajari dan pelajari. Silahkan ikut Kelas Edukasi AIMI: 
Breastfeeding Basics untuk mempraktekkan secara langsung berbagai posisi 
menyusui serta pelekatan mulut bayi pada payudara. Jangan ragu untuk meminta 
bantuan seorang konselor menyusui ataupun ke klinik laktasi apabila memang 
dirasakan ada masalah seputar posisi menyusui dan pelekatan bayi.
Untuk (11), apabila segala permasalahan (1) sampai (10) sudah berhasil diatasi 
namun ternyata produksi ASI memang sedikit 
(http://www.llli.org/FAQ/enough.html), dan setelah dilakukan pengecekan dan tes 
kesehatan bahwa memang ibu mengalami kelainan anatomi payudara ataupun gangguan 
hormonal yang menyebabkan produksi ASI sedikit, maka dapat diberikan 
suplementasi melalui ASI donor 
(http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/) ataupun susu formula 
supaya bayi tidak terkena gejala ’failure to thrive’ 
(http://www.wrongdiagnosis.com/f/failure_to_thrive/intro.htm).
Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai salah satu bentuk suplementasi 
sangat tidak dianjurkan untuk bayi yang masih berusia dibawah 6 bulan 
(http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html).
So mom, ternyata karena ukuran lambung yang kecil serta komposisi ASI yang 
sangat mudah diserap dan dicerna oleh bayi menyebabkan ia jadi sering menyusu. 
Apalagi ditambah dengan faktor growth spurt serta ingin selalu mendapatkan rasa 
aman dan nyaman, sepertinya bayi tidak pernah lepas dari dekapan kita ya…?
Menangis merupakan satu-satunya cara bagi bayi untuk berkomunikasi, tapi ingat, 
menangis tidak selalu berarti bayi sedang lapar. Pada saat bayi anda nanti 
tumbuh dewasa, menjadi manusia sempurna yang sehat, cerdas dan berakhlak baik, 
momen-momen ”berat” ini dimana seolah-olah bayi tidak pernah lepas dari 
payudara anda ternyata hanya merupakan ’sedetik’ dari perjalanan panjang 
hidupnya, dan momen-momen itu akan berlalu dalam sekejap.
Breastfeed with love…!!!
Salam ASI!
Mia Sutanto, SH, LL.M

Konselor Menyusui – Ketua AIMI



      

Kirim email ke