Parenting Jarak Jauh

http://parentingislami.wordpress.com/2009/03/27/parenting-jarak-jauh/


"Mang minta buburnya satu Mang", pintaku pada si sulung yang sedang asik
mempersiapkan bubur buatku.

"Pake pedes Bi?", tanyanya.

"Enggak Mang, takut cakit perut", kataku.

"Kerupuknya yang banyak ya Mang ya. Trus pake abon dikit", belaga seperti
seorang pelanggan beneran.

"Udah belum Mang? Kok lama?".

"Nih Bi, sudah", sambil disodorkannya mangkok berwarna biru.

Selang berapa lama.. dia berkata : "Gimana Bi, enak ga?", tanyanya penuh
ingin tahu.

"Wah subhanallah, enak Mang. Nambah setengah lagi dong Mang".

.....

Begitulah sepenggal dialog antara aku dan putra sulungku. Si sulung yang
sudah lebih dari 2,5 tahun punya hobby baru, berperan jadi tukang jualan.
Jualan apa? Macem-macem. Kadang pernah jualan sate sambil membawa kipas ke
mana-mana. Suatu waktu juga pernah jadi tukang gorengan sambil meletakkan
baskom di atas kepalanya, berputar-putar keliling rumah, dan
berteriak-teriak "Comro-comro. Barade-barade" (Comro-comro, ada yang mau
beli?). Hihi, kadang geli meliatnya. Tapi tentunya sebagai orang tua kita
tidak seharusnya menertawakan dalam artian menyepelekan, tapi justru ikut
berperan serta dalam drama yang dibuatnya. Ikut menjadi pemeran sehingga
pentas berjalan dengan sukses.

Tapi sesungguhnya kali ini dramanya agak sedikit berbeda. Ketika saya
disodorkan bubur tersebut, saya sebenarnya tidak menerimanya. Ketika saya
mengatakan enak, itu cuma pura-pura saja. Kenapa? karena saya waktu itu
sedang berada jauh di negeri orang. Dipisahkan oleh dua benua yang berbeda.
Anak saya sedang di Indonesia, sedangkan saya sedang melanjutkan studi di
salah satu negara eropa. Kami berdua bertatap muka lewat webcam saja.

Ya, alasannya sederhana, saya tidak ingin keberadaan saya jauh dari anak
membuat hubungan bapak dan anak terputus. Hubungan tersebut terlalu mahal
untuk dikorbankan. Sehingga saya harus mencari berbagai cara untuk
mempertahankan hubungan tersebut. Hubungan secara fisik memang tidak bisa
dilakukan, tapi hubungan secara batin masih bisa diusahakan.

Kalau kita perhatikan, anak biasanya tidak ingin hal-hal yang aneh-aneh.
Keberadaan orang tua menemani dirinya bermain, sering kali itu sudah lebih
dari cukup. Karena yang mereka butuhkan adalah perhatian dan cinta.

Cerita di atas mungkin jadi salah satu contoh kecil. Tapi tentunya masih
banyak hal lain  yang bisa kita lakukan. Misalnya saja mendengarkan dengan
seksama ceritanya ketika bermain dengan teman-temannya. Keseksamaan kita
dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat cerita tersebut semakin
menarik. Ini juga sebenarnya saat istimewa di mana kita bisa mengarahkan
anak ketika dalam ceritanya ada hal tidak baik yang dia (atau temannya)
lakukan. Tidak lupa kita beri oleh-oleh dengan cerita pengalaman kita di
negeri orang.

Anak juga senang  memperlihatkan karya-karyanya atau kepandaiannya. Misalnya
saja pintar menyanyi, menggambar atau mengaji. Maka kita bisa respon dengan
sebaik yang kita bisa. Kita bisa berikan pujian yang proporsional dan
membuatnya semakin banyak berkarya.

...

Saya teringat setelah 6 bulan saya meninggalkan keluarga. Ketika itu  si
sulung berbicara di ujung telepon, "Abi, Fatih kangen". Subhanallah,
dengernya bikin perasaan beraneka warna. Ada sedih, ada haru, ada juga
senang karena si sulung masih kangen sama bapaknya.

Ya, bagaimanapun juga, parenting jarak jauh tidaklah sempurna. Ada sisi-sisi
yang tidak bisa kita penuhi. Tapi, itu sudah lebih baik daripada tidak.
Karena jangan sampai terjadi, anak tidak "kenal" bapak/ibunya. Seperti yang
terjadi pada beberapa keluarga di Indonesia.

Waktu itu anaknya masih kecil. Kemudian ditinggalkan untuk studi di luar
negeri. Ketika pulang terjadi hal yang tidak diduga. Sang anak tahu itu
bapaknya, tapi kalau ada apa-apa selalu ibunya yang dimintai tolong. Itu
terjadi bahkan setelah anaknya menginjak usia remaja. Semoga Allah SWT
memberikan solusinya..

Baiklah anakku. Aku akan memangkumu kembali. Setelah 3 purnama. Insyaallah..


Priyanto Hidayatullah

NB: Ini adalah bagian terakhir dari 3 tulisan.

Kirim email ke