- 








From: Hui Cu Kho
[mailto:[email protected]] 

Sent: Wednesday, April 01, 2009
12:12 AM

Subject: Fw: [sma2_bkt_ang83] :
Hati-hati pada dokter..... 



   


 
  
  

  

  
  
  
  
  
  
  
  
    
  
     
  
  BENARKAH
  SEDEMIKIAN PARAHNYA KONDISI  
  
  
  PELAYANAN
  RUMAH SAKIT KITA ? WASPADALAH ! 
  
  
    
  
  Billy
  N. <bi...@konsulsehat. web.id>

  date        Sat, Mar 7, 2009 at 10:48 AM

  subject        [sehat] hati-hati pada dokter?

  

  Halo rekan-rekan,

  

  Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta

  rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan

  Julianto  di  Kompas  4  Maret  2009 lalu, yaitu
  mengenai 'caveat venditor'

  (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .

  

  Ceritanya  begini,  beberapa  hari ini saya mengurusi abang
  saya yang sakit

  demam  berdarah  (DBD).  Saya buatkan
 surat pengantar untuk dirawat inap di

  salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD

  saya  temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya
  tunggui, jadi

  sangat saya tau perkembangan kondisinya.

  

  Abang   saya   paksa   dirawat  inap  karena
   trombositnya  82  ribu,  agak

  mengkuatirkan,  padahal  dia  menolak karena merasa diri sudah
  sehat, nggak

  demam,  nggak  mual,  hanya  merasa badannya agak lemas.
  Mulai di UGD sudah

  'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas

  di  RS,  jadi  saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas
  an & pertanyaan

  dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun
  diperiksa

  ulang  darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap
  sama,

  82 ribu.

  

  Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru

  tes  EKG  dengan  treadmill  dengan  hasil sangat
  baik. Lalu saya tenangkan

  bahwa  itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus
  disuntik

  obat  Ranitidin  (obat  untuk  penyakit  lambung),
   padahal dia nggak sakit

  lambung,  &  nggak  mengeluh perih sama sekali. Obat ini
  disuntikkan ketika

  saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

  

  Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal

  besok  paginya  dokter  penyakit  dalam  akan
  berkunjung & biasanya obatnya

  pasti  ganti  lagi.  Belum  lagi resepnya pun isinya
  nggak tepat untuk DBD.

  Jadi  resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya
  ke

  teman  yang  praktik  di  RS  tersebut  dipilihkan
  yang dia rekomendasikan,

  katanya  'bagus  &  pintar', ditambah lagi dia dokter
  tetap di RS tersebut,

  jadi pagi-sore selalu ada di RS.

  

  Malamnya  via  telepon  dokter  penyakit  dalam
   beri instruksi periksa lab

  macam-macam,  setelah  saya  lihat  banyak yang 'nggak
  nyambung', jadi saya

  minta   Abang   untuk   hanya   setujui   sebagian
    yang  masih  rasional.

  

  Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visit &
  nggak

  komentar  apapun  soal  pemeriksaan  lab yang ditolak.
  Saya diminta perawat

  untuk  menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung
  bingung,

  di  resep  tertulis  obat Ondansetron  suntik, obat
  mual/muntah untuk orang

  yang  sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual
  apalagi

  muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena

  Abang  nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan
  lagi

  padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak..

  

  Saya  sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang
  saya

  lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya

  hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

  

  Pas  saya  serahkan  obatnya  ke perawat, dia tanya 'obat
  suntiknya mana?',

  saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah

  seperti  menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya
  dokter

  & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah
  tanya

  pada  saya.  Malah  saya  dipanggil ke nurse station
  & diminta tandatangani

 surat refusal
  consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat.

  

  Saya  beritau  saja  bahwa  pasien  100%
   sadar,  jadi  harus  pasien  yang

  tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara

  dokter  saat  visite  nggak  jelaskan  apapun
   mengenai  obat-obat yang dia

  berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.

  

  Saat  saya  tunggu  Abang,  pasien di sebelah ranjangnya
  ternyata sakit DBD

  juga.  Ternyata  dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang
  mahal &

  sudah  2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung
  dia ada

  infeksi  bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam
  yang

  lain.  Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya
  ngomong

  'sakit  ya?',  'masih  panas?',  'ya  sudah
  lanjutkan saja dulu terapinya',

  visit nggak sampai 3 menit saya hitung.

  

  Besoknya  dokter  penyakit  dalam  yang tangani Abang
  visit kembali & nggak

  komentar  apapun  soal  penolakan membeli obat yang dia
  resepkan.. Dia hanya

  ngomong  bahwa  kalau  trombositnya sudah naik maka boleh
  pulang. Saya jadi

  membayangkan  nggak  heran  Ponari  dkk  laris,
   karena dokter pun ternyata

  pengobatannya  nggak  rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa
  diracun

  oleh  obat-obat  yang  nggak  diperlukan  &
   dibuat  'miskin' untuk membeli

  obat-obat  yang  mahal  tersebut. Ini belum termasuk dokter
  ahli yang sudah

  'dibayar'  cukup  mahal  ternyata  nggak  banyak
   menjelaskan  pada  pasien

  sementara  kadang  kala  keluarga  sengaja
   berkumpul & menunggu berjam-jam

  hanya untuk menunggu dokter visit.

  

  Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya

  yang  dokter  supaya  nggak dapat pengobatan sembarangan?
  Abang juga merasa

  bersyukur  nggak  jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia
  perlukan &

  jadi racun di tubuhnya.

  

  Sebulan  lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang
  dirawat

  inap  di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu
 kota kecil

  Jateng  akibat  sakit  tifoid.  Kejadian serupa terjadi
  pula, sangat banyak

  obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.

  

  Kalau  ini  nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan
  masyarakat

  kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga

  bisa  berguna  sebagai  pelajaran  berharga  untuk
   rekan-rekan  semua agar

  berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

  

  rgds

  Billy

  

  Kunjungi http://KonsulSehat.
  web.id

  

  

  

  jurnizen sutan bagindo 
  Legal
  Disclaimer: The information contained in this message may be privileged and
  confidential. It is intended to be read only by the individual or entity to
  whom it is addressed or by their designee. If the reader of this message is
  not the intended recipient, you are on notice that any distribution of this
  message, in any form, is strictly prohibited. If you have received this
  message in error, please immediately notify the sender and delete or destroy
  any copy of this message  
  
  
  
  
  

  Internal Virus Database is out of date.

  Checked by AVG. 

  Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.11.16/2005 - Release Date: 16/03/2009
  19:01 PM 
  
  
  
  

  Internal Virus Database is out of date.

  Checked by AVG - http://www.avg.com 

  Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.10.12/1908 - Release Date: 21/01/2009
  21:15 PM 
  
  
 


   



 




      

Kirim email ke