Mainan anak harga diskon http://kakatoys.multiply.com
> > IBU
> >
> > Ini adalah tulisan yang sangat indah.
> > Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan
> nikmatilah.
> > Jangan tergesa.
> > Ini adalah harta karun.
> >
> > Bagi yang masih mempunyai ibu, ini indah.
> > Bagi yang sudah tidak punya ibu, ini lebih indah
> lagi.
> >
> > Sang ibu muda melangkahkan kakinya di jalan
> kehidupan.
> > ’Apakah jalannya jauh ?’ tanyanya.
> > Pemandunya menjawab: ’Ya, dan jalannya berat.
> > Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan
> ini.
> > Tetapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’
> >
> > Tetapi ibu muda itu sedang bahagia.
> > Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik dari
> pada
> > tahun-tahun ini.
> > Ia bermain dengan anak-anaknya, memetik bunga-bunga
> untuk
> > mereka.
> > Sepanjang jalan, ia memandikan mereka di aliran sungai
> yang
> > jernih.
> > Matahari bersinar di atas mereka, dan ibu muda itu
> berseru:
> > ‘Tak ada yang lebih indah dari pada ini.’
> >
> > Lalu malam tiba bersama badai.
> > Jalan nampak gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan
> > ketakutan.
> > Ibu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan
> mantelnya.
> > Anak-anak itu berkata: ’Ibu, kami tidak takut,
> karena ibu
> > ada di dekat kami.
> > Tak ada yang dapat menyakiti kami.’
> >
> > Dan fajar menjelang.
> > Adabukit menjulang di depan mereka.
> > Anak-anak mendaki dan menjadi lelah.
> > Ibunya juga lelah.
> > Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:
> > ’Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’
> > Demikianlah anak-anak itu mendaki terus.
> > Saat sampai di puncak, mereka berkata:
> > ’Ibu, kami tak mungkin melakukan ini tanpa ibu.’
> > Dan sang ibu, saat ia berbaring di malam hari sambil
> > menatap bintang-bintang,
> > berkata: ’Hari ini lebih baik dari pada yang lalu
> > karena anak-anakku sudah belajar menghadapi beban
> hidup.
> > Kemarin malam aku memberi mereka keberanian.
> > Hari ini aku memberi mereka kekuatan.’
> >
> > Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan
> bumi.
> > Awan perang, kebencian dan kejahatan.
> > Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung dalam gelap.
> > Ibu berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada
> sinar
> > itu.’
> > Anak-anak menengadah dan melihat di atas awan-awan
> > ada kemuliaan abadi yang menuntun mereka melalui
> kegelapan.
> > Dan malam harinya, ibu berkata: ’Ini hari yang
> terbaik
> > karena aku udah memperlihatkan Allah kepada
> > anak-anakku..’
> >
> > Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan
> > berganti tahun.
> > Ibu menjadi tua, kecil dan bungkuk.
> > Tetapi anak-anaknya menjadi tinggi, kuat dan berjalan
> > dengan gagah berani.
> > Saat Ibu sulit berjalan, mereka membopongnya.
> > Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit.
> > Dan di kejauhan, mereka melihat sebuah jalan yang
> bersinar
> > dan pintu gerbang emas terbuka lebar.
> > Ibu berkata: ’Aku sudah sampai pada akhir
> perjalananku,
> > dan sekarang aku tahu, akhir ini lebih baik dari pada
> > awalnya.
> > Kini anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak
> > mereka
> > ada di belakang mereka.’
> >
> > Dan anak-anak menjawab: ‘Ibu selalu akan berjalan
> bersama
> > kami
> > meskipun Ibu sudah pergi melewati pintu gerbang
> itu.’
> > Mereka berdiri, melihat Ibu mereka berjalan sendiri
> > dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia melewatinya.
> > Dan mereka berkata: ‘Kita tak dapat melihat Ibu lagi
>
> > tetapi ia masih bersama kita.’
> > Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan.
> > Ia senantiasa hadir dan hidup.
> >
> > Ibumu selalu bersamamu.
> > Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan.
> > Ia adakag tangan sejuk di keningmu saat engkau
> sakit..
> > Ibumu hidup dalam tawa candamu.
> > Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.
> > Ia adalah tempat engkau datang, ia adalah rumah
> pertamamu.
> > Ia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu.
> > Ia adalah cinta pertamamu.
> > Tak ada satupun di dunia ini yang dapat memisahkan
> kalian.
> > Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian.
> >
> > Teruskan tulisan ini kepada semua Ibu dan anak-anak
> yang
> > kau kenal.
> > Teruskan juga kepada para laki-laki, karena mereka
> juga
> > punya Ibu.
> > Semoga kita tidak pernah mengabaikan Ibu kita.
>
>
>
>