*KREATIVITAS DAN DUNIA ANAK*

http://parentingislami.wordpress.com/2009/04/21/kreativitas-dan-dunia-anak/

Kreativitas didefinisikan dan dimaknai dengan berbagai sudut pandang. Secara
bahasa, Michaelis (1980) mengartikan kreativitas sebagai sesuatu yang baru
atau original.  Michaelis menambahkan bahwa sekaitan dengan dunia anak, hal
yang baru atau original tersebut mengandung makna interpretasi. Jadi baru di
sini adalah sesuatu sebagai hasil dari hubungan sintesis ide-ide original
yang sudah ada, hipotesis yang baru atau cara baru dalam melakukan
sesuatu.hubungan dari sintesis dan ekspresi. Jadi baru bukan benar-benar
baru tapi merupakan hasil dari kemampuan dalam menyusun kembali sesuatu yang
telah ada untuk tujuan tertentu. Seperti yang dinyatakan Lowenfield (1956):

*This ability to rearrange and redefine materials for new purposes is an
important aspect of any creative process. In fact, it is the nature of
experimentation with materials to use them in an new way or rearrange them
in new combination.*

Jadi, ketika kita berbicara kreativitas dan anak, maka kita berbicara
bagaimana memberikan materi-materi pengetahuan pada anak sehingga input
pengetahuannya banyak dan akhirnya dia bisa mensintesis dari
pengetahuan-pengetahuan tersebut hal-hal yang baru atau orisinil. Tapi pentu
saja selain input berbagai pengetahuan yang tidak kalah pentingnya adalah
memberikan kesempatan pada anak untuk melahiran hal yang orisinil tersebut.

Kreativitas menyangkut berbagai segi. Ditinjau dari segi kepribadian,
kreativitas merujuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada setiap
pribadi, anak maupun orang dewasa. Pada dasarnya, setiap orang memiliki
bakat kreatif dengan derajat dan bidang yang berbeda-beda. Kita perlu
mengenal bakat kreatif pada anak untuk dapat mengembangkan kreativitas anak.
Setelah itu, kita pun harus menghargainya dan memberi kesempatan serta
dorongan untuk mewujudkannya.

Jika ditinjau sebagai suatu proses, kreativitas dapat dinyatakan sebagai
suatu bentuk pemikiran dimana individu  berusaha menemukan  hubungan-hubungan
yang baru untuk mendapatkan jawaban, metode atau cara-cara baru dalam
menghadapi suatu masalah. Pada anak yang masih dalam proses pertumbuhan,
kreativitas hendaknya mendapat perhatian dalam hal proses, bukan produk dari
kreativitas itu sendiri.

Ada 3 ciri dominan anak kreatif, yakni spontan, memiliki rasa ingin tahu dan
tertarik pada hal-hal yang baru. Ketiga ciri-ciri tersebut terdapat pada
diri anak, artinya pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan dasar
kreativitas sejak dini. Pada usia selanjutnya kreativitas anak dapat
berkembang optimal atau dapat tertekan atau terhambat tergantung berbagai
hal, seperti gizi, kesehatan, pengasuhan, serta lingkungan sekitar.
Kewajiban orang tua sebenarnya adalah mempertahankan agar anak tetap kreatif

Orang kreatif menyukai tantangan dan yakin bahwa setiap permasalahan
memiliki solusi. Orang kreatif juga sudah biasa terbuka terhadap ide baru
dan berani mengambil resiko atas ide barunya tersebut meskipun tidak
mendapat respon dari lingkungannya. Ciri-ciri orang kreatif antara lain:

Ia bisa memberi banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang Anda berikan.
Ia mampu memberi jawaban bervariasi, dapat melihat suatu masalah dalam
berbagai sudut pandang.
Ia dapat memberi jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain.
Jawaban baru biasanya tidak lazim atau kadang tak terpikirkan orang
lain.
Ia mampu menggabungkan atau memberi gagasan-gagasan atas jawaban yang
dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya
jawabannya dengan memperinci sampai hal-hal kecil sebagaimana aslinya

Agar kreativitas dapat berkembang, diperlukan dorongan atau pendorong dari
dalam sendiri dan dari luar. Pendorong yang datangnya dari diri sendiri,
berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi, sedangkan yang dari
luar misalnya keluarga, sekolah dan lingkungan.

Dalam lingkungan keluarga, pendidikan orang tua terhadap anak akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Anak yang memiliki bakat
tertentu, jika tidak diberikan rangsangan-rangsangan atau motivasi dari
orang tua dan lingkungannya,   tidak akan mampu memelihara, apalagi
mengembangkan bakatnya.

Keluarga adalah lingkungan yang paling banyak mempengaruhi kondisi  psikologis
dan spiritual anak. Di Jepang, misalnya, karena Jepang sangat memperhatikan
pengembangan kreativitas anak melalui kebebasan dan pemupukan kepercayaan
diri, kebangkitan kreativitas anak-anak di Jepang mengungguli anak-anak di
Amerika dan Eropa (Awwad, 1995). Tapi kondisi tersebut sangat berbeda di
Indonesia. Suatu penelitian di Jakarta tentang sikap orang tua dalam
pendidikan anak menyimpulkan bahwa orang tua  kurang menghargai perkembangan
dari ciri-ciri inisiatif, kemandirian dan kebebasan yang erat hubungannya
dengan pengembangan kreativitas dan lebih mementingakan ciri-ciri kerajinan,
disiplin dan kepatuhan.

Setelah keluarga, lingkungan selanjutnya yang bisa mempengaruhi kreativitas
anak adalah sekolah. Menurut pengamat pendidikan Islam Drs. Asep Sujana,
anak-anak di masa sekolahnya dulu sudah dikondisikan untuk mengeluarkan daya
kreativitasnya seperti melalui mata pelajaran prakarya atau hastakarya
dengan membuat beberapa perhiasan, barang cendera mata, atau peralatan rumah
tangga dari barang-barang yang ada di lingkungan rumah dan sekolah. Tapi
sekarang situasi di sekolah tidak memunginkan anak untuk kreatif.
Berdasarkan sebuah penelitian, di sekolah ditemukan kurang lebih 40 % anak
berbakat tidak mampu berprestasi setara dengan kapasitas  yang sebenarnya
dimiliki (Achir,1990). Akibatnya, sekalipun berkemampuan tinggi, banyak anak
berbakat tergolong kurang berprestasi.

* *

*Endah Silawati*

Kirim email ke