Bagian pertama ini adalah sepotong kisah sebelum anda berkenalan dengan Hyper
Parenting.
Awalnya Andi adalah anak yang ceria dan penuh semangat. Namun beberapa minggu
belakangan, ia berubah menjadi pemurung dan cenderung pemarah. Usianya memang
baru 8 tahun, duduk di kelas 3 sebuah Sekolah Dasar yang cukup prestisius dan
terpandang. Murid-murid disana adalah murid-murid berotak Einstein dan konon,
lulusannya akan meraih beasiswa di sekolah lanjutan manapun.
Untuk bisa menyamai prestasi murid-murid lain di sekolah tersebut, di usia yang
masih belia, Andi sudah dijejali dengan aktivitas yang menyamai orang dewasa,
nyaris tanpa jeda. Bersekolah saban hari kecuali minggu), les bahasa Inggris,
les matematika, les sempoa, les berenang, les musik, les komputer dan masih
banyak lagi. Kedua orangtuanya pun mengatur jadwalnya dengan amat seksama,
sampai detik per detiknya. Apa yang terjadi? Andi kehilangan waktu bermain.
Kedua orangtua Andi beralasan bahwa inilah yang terbaik bagi putranya. Mereka
ingin jika Andi kelak dewasa bisa menjadi orang yang berguna dengan bekal ilmu
sebanyak-banyaknya. Toh, Andi senang-senang saja menjalaninya karena ia tak
pernah mengeluh. Jangan berpatokan pada rengekan anak karena secara tak sadar
orangtua Andi telah berbuat Hyper Parenting atas nama kebaikan bagi sang buah
hati.
Apakah pengalaman ini mirip pengalaman anda? Bila iya, bisa jadi anda pelaku
Hyper Parenting juga.
Apa itu Hyper parenting?
Hyper parenting adalah sebuah upaya yang dilakukan orang tua untuk mengontrol
semua lingkungan anak. Hal ini dilakukan agar mendapatkan bentuk profil anak
yang sempurna.
Dewasa ini, banyak orangtua yang merasa khawatir akan masa depan anak-anak
mereka. Akhirnya segala apa yang diupayakan orangtua untuk anak dianggap jalan
terbaik tanpa melihat kebutuhan mereka. Over enriching dan over scheduling
adalah kalimat yang tepat untuk menjelaskan hyper parenting.
Kebayakan orangtua pelaku hyper parenting belajar dari masa kecil dimana
orangtua mereka dulu mengasuh dan menerapkan pola yang dirasa kurang sempurna..
Itu bisa dilihat saat para ortu tidak puas dengan karir dan kehidupan
keseluruhan mereka sendiri. Akibatnya, obsesi plus yang belum kesampaian
dibebankan pada anak-anaknya. Mereka jadi tak ingin anak-anaknya kekurangan dan
tidak mendapatkan apa yang dimau, seperti saat mereka kecil dulu. Padahal belum
tentu semua yang anda berikan pada anak sesuai dengan keinginannya,
kebutuhannya dan minat serta bakat mereka.
Semua kesempatan memiliki segalanya malah menjadi bumerang bagi si kecil. Bisa
terjadi, anak yang awalnya penurut, menjadi pemberontak karena segala macam
objek yang harus dia kerjakan tak sesuai dengan hati nuraninya. Anda sebagai
orangtua mesti menyadari bahwa anak punya kehidupan dan perkembangan individu
yang sisinya tak bisa terjamah oleh bapak-ibunya sekalipun. Jadi bagaimana anak
seharusnya hidup dan berkembang?
Bermain, eksplorasi, berekspresi berpendapat dan bahagia. Inilah yang
seharusnya dilakukan dan dirasakan anak-anak dalam kehidupannya. Melalui
keempat hal tersebut anak-anak bisa mempelajari sesuatu sehingga bisa
mengembangkan seluruh potensi kecerdasan dan tumbuh kembangnya. Orang tua hanya
perlu memberikan stimulus yang sesuai dengan usia dan tahapan tumbuh kembang
anak.
Stimulasi pun diberikan hanya jika ada kesempatan dan tentunya penuh
kegembiraan dan bukan paksaan agar si kecil tetap nyaman menjalaninya.
Ini dia ciri-ciri orangtua yang sudah menerapkan hyper parenting. Apakah ada
salah satunya pada anda? Semoga tidak.
- Anda selalu menerapkan disiplin yang ketat, tidak mengenal situasi dan kondisi
- Prestasi kognitif yang secara fisik dapat terlihat pada anak, anda anggap
menjadi patokan keberhasilan mereka
- Anda kerap alias sering membandingkan anak anda dengan anak orang lain secara
ekstrim. Anda akan sangat kecewa dan terpukul jika anak gagal atau melakukan
kesalahan
- Anda selalu merasa kurang pada apa yang telah dilakukan untuk anak – anak anda
- Anda kadang berperilaku tak masuk akal, seperti meminta anak tak bermain
seharian dan memaksanya mengerjakan sesuatu kegiatan yang dianggap positif
- Anda kerap menganggap guru selalu tak cukup baik / berhasil dan menyalahkan
mereka jika anak anda mengalami kegagalan
- Anda akan merasa sangat tersinggung jika anak dikritik, tetapi justru malah
anda yang balik menekan anak
Wake up, anak bukanlah miniatur anda sebagai orang dewasa. Jadi tak perlu
memaksa anak untuk menguasai, menyenangi semua hal yang anda anggap baik karena
Tuhan menciptakan bakat dan kemampuan unik mereka berbeda-beda. Dunia mereka
adalah dunia bermain, jadi masihkan anda ingin menyetirnya? Lihat apa yang akan
terjadi jika anda terus menerus menyetir anak.
- Anak akan menjadi mudah marah
- Ia merasa tertekan, kelelahan akut dan mudah cemas
- Bisa menjadi pemberontak
- Sakit tanpa alasan, yang jelas biasanya mengeluhkan sakit kepala
- Sedikit bicara dan kurang ekspresif
- Menjadi tidak suka bergaul
- Empati kurang dan jika terus dibiarkan menjadi sangat materialitis
- Tidak bisa menyebutkan dengan sesungguhnya apa yang sebenarnya dia inginkan
- Tidak terlihat bahagia atau kurang bergairah
Bila sudah begini, segera perbaiki pola asuh Hyper parenting anda. Di bawah ini
adalah beberapa saran agar terhindar dari jebakan hyper parenting :
1. Menyempatkan waktu bersama anak-anak. Tak ada kesempatan lebih efektif
selain bersamanya. Ketahuilah masa kanak-kanak berlalu begitu cepat, tanpa kita
sadari tiba-tiba mereka akan sibuk dengan teman sebayanya, pekerjaan dan
akhirnya “meninggalkan” kita.
2. Belajar menjadi pendengar apa yang diinginkan anak. Kita sering menuntut
mereka agar mendengarkan perintah dan nasehat kita tapi tidak adil jika kita
tidak mau mendengar suara hati mereka. Dengan mendengar orang tua akan peka
isyarat anak sekaligus memahami ritme alami anak. Orang tua akan mengetahui
mana kegiatan pengayaan yang dibutuhkan anak dan mana yang tidak. Dan tanyakan
terlebih dahulu apakah anak menyukai kegiatan tertentu atau tidak.
3. Sadari dimensi anak. Hindari menilai anak dari semua aspek kehidupannya.
Masa kanak-kanak adalah masa persiapan, bukan tempatnya menetapkan standar kita
kepada anak. Anak juga berhak gembira, bersenang-senang, beristirahat dan
mempunyai waktu luang yang mereka isi sesuai pilihannya sendiri.
4. Biarkan sesekali anak tidak produktif. Orang tua kerap gerah melihat anak
bersantai tanpa kegiatan produktif. Waktu tak produktif diperlukan anak untuk
merangsang menciptakan sendiri kesenangannya.
5. Tidak membandingkan dengan anak lain atau membandingkan masa kanak kita
dengan masa kanak anak sekarang. Sang pencipta telah memberi setiap anak
keistimewaan dan keunikan masing – masing, maka hargailah keistimewaannya
dengan tidak membandingkan dengan satu anak dengan anak yang lain. Yang
terpenting kita motivasi mereka untuk siap bertarung dengan hidup.
Sumber: www.perempuan.com