Mom, 
Di puskemas bisa juga..
Untuk anak balita menegakan diagnosa TBC tidak hanya sekedar tes
mantoux,
Dibutukan namanya skoring   beda dengan orang dewasa
 
 
--> mengutip dr buku TB/HIV clinical manual, WHO: "children rarely have
sputum smear-positive TB (dahak BTA positif TB) and so it is unlikely
they're powerful source of transmission. TB in children is mainly due to
failure of TB controls in adults".

jadi bisa dibilang bahwa sangat kecil kemungkinannya penularan TBC krn
anak2. di artikel dari web IDAI pun juga bilang begitu, bahwa penularan
TBC
krn dewasa. jadi walau anaknya sdh pintar mengeluarkan dahaknya, bukan
berarti didahak tsb ada kuman TBCnya. mohon bedakan TBC anak dengan TBC
dewasa.

saya gak begitu tahu nih kenapa bisa begitu, tp bisa jadi krn kuman TBC
pd
anak2 membangun sarangnya bukan di paru2, tapi di KGB (kelenjar getah
bening). makanya batuk bukan gejala utama TBC pd anak2. tapi saya gak
yakin
loooh. CMIIW doong....

Berikut saya  ambil artikel tentang TBC pada anak
saya copas dari  <http://bud1nugroho.wordpress.com/2007/03/05/saat->
http://bud1nugroho.wordpress.com/2007/03/05/saat-
tepat-tes-mantoux/

Saat tepat tes mantoux
Maret 5, 2007 

Ada sejumlah pemeriksaan untuk memastikan TBC, tapi yang paling 
menentukan adalah tes Mantoux

TBC merupakan penyakit yang disebabkan kuman Mycrobacterium 
tuberculosis. Kuman ini ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. 
Bisa juga disebabkan oleh kuman Mycobacterium bovis yang terdapat 
pada susu sapi yang tidak dipasteurisasi. Sayangnya, menegakkan 
diagnosis TBC secara pasti pada anak sangat sulit. Saking sulitnya 
sering terjadi overdiagnosis, dimana dokter terlalu cepat memvonis 
padahal data yang dimilikinya masih minim.

Hal ini kemudian sering kali diikuti overtreatment alias pengobatan 
yang berlebihan. Akibatnya, konsekuensi yang diterima anak tidak 
ringan. Pasalnya, anak harus mengonsumsi 2-3 jenis obat sekaligus 
minimal selama 6 bulan atau bahkan lebih. Pengobatan yang tidak tepat 
ini tentu saja amat berisiko mengganggu fungsi hati, saraf 
pendengaran dan organ-organ tubuhnya yang lain.

Di lain pihak ditemukan juga underdiagnosis alias diagnosis yang 
terlambat hingga berbuntut menjadi undertreatment. Hal ini sama-sama 
bisa membahayakan anak. Soalnya, anak penderita TBC perlu mendapat 
penanganan segera secara tepat. Bila tidak, jiwa anak pun menjadi 
taruhannya.

Untuk mendapatkan diagnosis tepat, tes Mantoux dilakukan jika anak 
menujukkan gejala-gejala berikut:

1. MMBB (Masalah Makan dan Berat Badan)

Bila anak sulit makan dan memiliki berat badan yang kurang dari rata-
rata anak seusianya, orangtua patut waspada. Atau, ada peningkatan 
berat badan tapi tak sesuai alias masih di bawah jumlah yang 
semestinya (tidak sesuai dengan yang tertera pada KMS/Kartu Menuju 
Sehat).

2. Mudah sakit

Anak sakit batuk pilek wajar saja. Bedanya, anak yang terinfeksi TB 
akan lebih mudah tertulari penyakit. Jika orang di lingkungan 
sekitarnya batuk pilek, anak mudah tertulari atau sebulan sekali 
mesti sakit. Kondisi ini patut mendapat perhatian.

3. Lemah, letih, lesu dan tidak bersemangat dalam melakukan aktivitas

Anak-anak dengan TB, umumnya terlihat berbeda dari anak kebanyakan 
yang sehat dalam beraktivitas. Ia tampak lemah, lesu dan tidak 
bersemangat.

4. Reaksi cepat BCG

Pada lokasi suntik vaksin BCG akan timbul tanda menyerupai bisul. 
Jika reaksi ini muncul lebih cepat, misalnya seminggu setelah 
pemberian, berarti tubuh anak sudah terinfeksi TB. Padahal normalnya, 
tanda itu paling cepat muncul pada 2 minggu setelah anak divaksinasi 
BCG. Namun rata-rata, benjolan pada kulit muncul setelah 4-6 minggu.

4. Batuk berulang

Batuk berkepanjangan merupakan gejala yang paling dikenal di kalangan 
masyarakat sebagai pertanda TBC. Batuk yang awalnya berupa batuk 
kering kemudian lama-kelamaan berlendir dan berlangsung selama 2 
minggu lebih, merupakan salah satu tanda TBC. Gejala ini akan muncul 
bila sudah terdapat gangguan di paru-paru. Hanya saja, bedakan dari 
batuk alergi dan asma.

5. Benjolan di leher

Pembesaran kelenjar getah bening di leher samping dan di atas tulang 
selangkangan bisa saja merupakan tanda TBC. Soalnya, kelenjar getah 
bening merupakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan 
kuman. Kelenjar ini akan membesar bila diserang kuman. Namun, meski 
merupakan salah satu gejala TB, tidak semua pembengkakan kelenjar 
getah bening adalah gejala penyakit TB. Bisa jadi pembengkakan itu 
karena adanya infeksi atau radang di tenggorokan.

6. Demam dan berkeringat di malam hari

Gejala awal TBC biasanya muncul demam pada sore dan malam hari, 
disertai keluarnya keringat. Gejala ini dapat berulang beberapa waktu 
kemudian. Namun hal ini tetap belum dapat memastikan kalau anak 
menderita TBC. Tidak selalu anak-anak yang berkeringat di malam hari 
menderita TB. Keringat tidur justru merupakan pertanda sistem 
metabolisme yang sedang aktif bekerja. Tak heran, pada saat tidurlah 
anak-anak mengalami metabolisme yang pesat.

7. Diare persisten

Diare akibat TBC biasanya tidak kunjung sembuh dengan pengobatan 
biasa. Sebagai orangtua, kita bisa membantu dokter untuk menjelaskan 
apakah gejala-gejala di atas memang muncul pada anak atau tidak; 
berapa lama berlangsungnya, dan seberapa sering gejala-gejala 
tersebut muncul. Nah, dari pengamatan kita sehari-hari ini dokter 
akan sangat terbantu untuk mendiagnosis penyakit anak serta 
memutuskan apakah perlu dijalani tes Mantoux atau tidak.

PROSES TES

Tes Mantoux dilakukan dengan cara menyuntikkan protein dari kuman 
Mycobacterium tuberculosis pada lengan bawah anak. Agar hasilnya 
akurat, penyuntikannya harus benar-benar teliti. Bahan yang 
dimasukkan harus dengan dosis tepat dan masuk sepenuhnya ke dalam 
kulit, bukan di bawah kulit. Kemudian, reaksi yang dihasilkan harus 
dibaca tepat waktu.

Untuk memastikan anak terinfeksi kuman TBC atau tidak, akan dilihat 
indurasinya setelah 48-72 jam. Indurasi ini ditandai dengan bentuk 
kemerahan dan benjolan yang muncul di area sekitar suntikan. Bila 
nilai indurasinya 0-4 mm, maka dinyatakan negatif. Bila 5-9 mm 
dinilai meragukan, sedangkan di atas 10 mm dinyatakan positif.

Setelah hasil Mantoux dinyatakan positif, anak sebaiknya diikutkan 
pada serangkaian pemeriksaan lainnya. Salah satunya adalah rontgen 
yang bertujuan mendeteksi TBC lebih detail lewat kondisi paru yang 
tergambar dalam foto rontgen dan dan tes darah. Tes mantoux dilakukan 
lebih dulu karena hasil rontgen tidak dapat diandalkan untuk 
menentukan adanya infeksi kuman TB. Bercak putih yang mungkin 
terlihat pada hasil foto bisa memiliki banyak penyebab. Anak yang 
sedang menderita batuk pilek pun kemungkinan memiliki bercak putih di 
paru. Jadi, tes Mantoux sangat perlu, tak cukup hanya rontgen paru.

Namun dokter juga harus mencermati adanya tanda negatif palsu. 
Mungkin saja hasil tes menunjukkan negatif, tapi sebenarnya anak 
menderita TBC. Hal ini bisa terjadi pada anak-anak yang kondisi 
tubuhnya sangat buruk, seperti anak yang mengalami kekurangan gizi 
atau sedang menderita sakit berat. Disamping pemeriksaan di atas, 
ciri-ciri lain dari TBC pun harus dicermati. Misalnya apakah anak 
kurus, sering sakit, mengalami pembesaran kelenjar getah bening dan 
sebagainya.

TES BAYI BARU LAHIR

Bila saat mengandung si ibu menderita TBC bisa saja bayi akan terkena 
TBC begitu dilahirkan. Ini disebut dengan TBC kongenital dan bayi 
harus segera dites Mantoux pada usia sekitar 1 bulan. Usahakan jangan 
di bawah 1 bulan karena dapat memberi reaksi negatif meski boleh jadi 
si bayi tersebut menderita TBC. Itu karena sistem imun bayi usia ini 
masih belum baik. Kendati kasusnya sangat jarang ditemui, setidaknya 
orangtua dapat segera mengatasinya bila bayinya memang positif TBC.

Narasumber:

dr. Ema Nurhaema, Sp.A dari RSUP Persahabatan, Jakarta

dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), Ahli Respirologi Anak dari RSUPN 
Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Kirim email ke