Is Islamic finance the answer?
By Robin Brant
Malaysia correspondent, BBC News, Kuala Lumpur
Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/business/8025410.stm
Published: 2009/05/11 22:52:02 GMT
And here is in bahasa version.
Apakah Sistem Ekonomi Islam ialah jawabannya?
Ahli keuangan Islam percaya bahwa sistem ini telah melindungin mereka dari
krisis kredit global.
Namun apa perbedaannya dgn finansial konvensional ala barat?
Dr Abbas Mirakhor, mantan executive directore IMF mengatakan sistem ekonomi
Islam lebih luas dari sistem konvensional barat. Sistem ini berdasarkan wahyu
Tuhan, yg diturunkan hampir 1.400 th yg lalu, di dalamnya terdapat “hati nurani
dari sang pencipta dan sistem yg telah disediakan”, kandungan ini sebagai mana
kita ketahui bersama tidak dimiliki oleh sistem konvensional bank gaya barat,
“disinilah letak perbedaan terbesarnya”, katanya.
Pada prakteknya, perbedaan yg paling signifikan ialah mengenakan bunga (disebut
sbg “riba”) tidak diizinkan dalam keuangan Islam.
FEATURES OF ISLAMIC ECONOMY
- Berkaitan dgn bunga, minuman keras, babi, perjudian, pornografi dilarang
oleh Hukum Syariah
- Islam melarang segala bentuk aktivitas ekonomi yg dianggap melanggar tata
krama moral & sosial
- Setiap individu diwajibkan menghabiskan harta mereka dengan bijaksana dan
tidak menimbunnya, didiamkan atau digunakan utk hal yg sia-sia
- Umat muslim diwajibkan untuk memberikan bagian dari harta mereka untuk para
fakir & miskin
- Investasi berspekulasi juga tidak diizinkan, seperti hedging atau perdagangan
derivatif.
“Kami tidak mengenal konsep bunga.. untuk mencari keuntungan dari trading
money,” Dr Bambang Brodjonegoro-Islamic Development Bank menjelaskan.
“Dalam konsep Islam, dgn tegas diatur uang ialah hanya sebatas untuk tujuan
pertukaran atau nilai simpan, namun bukan utk transaksi mencari keuntungan
lebih”, katanya.
Sharing risks (resiko bersama)
Lalu bagaimana, apakah bank Islam dan nasabah yg menaruh harta mereka dalam
bank tersebut memperoleh keuntungan?
Sistem ini berdasarkan aset, pada intinya dgn aset atau komoditi nyata. Ada
pembeli dan penjual, bukan debitur dan kreditur.
Perbandingannya sebagai berikut:
- Di Los Angeles, seorang nasabah yg ingin meminjam uang utk membeli mobil akan
pergi ke konvensional bank dan setuju utk meminjam. Bank akan memberikan
uangnya dan nasabah akan dikenakan bunga pada angsuran pembayarannya selama
masa peminjaman.
- Di Lahore, nasabah bisa pergi ke bank Islam dan menandatangani kontrak dgn
bank yg akan membeli mobil utk mereka. Bank tidak akan meminjamkan uang namun
membeli mobil tersebut, lalu menjualnya ke nasabah dgn margin (mark up) yg
telah disepakati. Nasabah akan membayar angsuran cicilan-nya dgn periode
tertentu.
Salah satu prinsip yg paling mendasar dalam ekonomi Islam ialah risk sharing.
Pihak bank dan orang yang menyimpan dananya akan berbagi keuntungan atau pun
kerugian dari investasi.
“Dalam Islam, kami menghargai usaha, jika seseorang bekerja lebih keras dalam
suatu usaha.. mereka (dalam kasus ini ialah pihak bank) akan mendapatkan
keuntungan bersama”, Dr Bodjonegoro menjelaskan.
Lebih penting lagi ialah Bank tidak akan menguasai segalanya, bank dan nasabah
berada di level yg sama dan mereka berbagi resiko serta keuntungan bersama.
Ekonomi Islam sbg alternatif
Rasa persamaan ini merupakan hal yg penting. Merupakan salah satu gambaran
karakter yg mendukung ekonomi Islam menjadi berbeda dgn konvensional ala barat.
“Saatnya sistem keuangan Islam utk diam dan berpikir akan kemana ekonomi
Syariah ini dibawa” – Prof Habib Ahmed, ahli keuangan Islam.
Ekonomi Islam juga mengutamakan keyakinan dalam menguntungkan komunitas Muslim
lebih luas lagi.
Dr Mirakhor mengatakan ini merupakan “gerakan ‘kesadaran lain’.. dgn memiliki
toleransi thd orang lain mengenai kepentingan umum”.
Hal ini kontras dgn apa yg dijelaskannya sebagai “kepentingan golongan yg
sempit diharapkan memotivasi unsur2 ekonomi dalam sistem ekonomi liberal.”
Sebagian mengatakan model Islami sbg alternatif, yg lain melihatnya sebagai
compimentary utk sistem yg telah mendominasi dunia barat.
Prof Ekmeleddin Ihsanoglu, Sekjen Organisasi Negara-2 Islam mengatakan bahwa
menurutnya sistem ekonomi Islam ialah suatu complimentary service dalam
menjalani suatu pelayanan jasa, bukan suatu alternative dari berbagai sistem yg
ada. Dibutuhkan suatu pilihan dimana orang dapat mencari cara dalam melalukan
sesuatu.
Prinsip yg berkompromi
Ekonomi Islam bukanlah suatu hal yg eksklusif hanya utk umat Muslim.
London menunjukan sebagai pusat finansial yg besar utk keuangan Islami.
Produk-produk bank Islam jg digunakan secara luas oleh non Muslim di Malaysia.
“Ini ialah sistem alternatif yg dapat digunakan oleh setiap orang. Setiap orang
dapat memanfaatkannya terlepas dari kepercayaan mereka,” Dr Bodjonegoro
menjelaskan.
Bank-bank besar seperti Britain’s HSBC, Citi (selain Amerika Serikat)
menyediakan bank Islam sebagai aktivitas tambahan yg sedang berkembang ini.
Beberapa unggulan dari cara Islami ini ingin melihat usaha mereka menyebar luas
menembus pasar di luar negara-negara Muslim.
Mereka sangat mempercayai hal itu, bahwa ada pasar non Muslim yg berpartisipasi
positif dalam ekonomi Islam.
Namun ada sebagian yg takut bahwa dgn menyebarluaskan cara Islam akan
mengurangi keislamiannya.
Saatnya berkaca
Prof Habib Ahmed – penulis finansial Islami:
Sayangnya, apa yg terjadi saat ini dgn keuangan Islami bergerak mendekati
finansial konvensional, karena perkembangannya berberapa tahun terakhir ini yg
menyerupai sebagian besar produk-produk konvensional. Tidak pernah ada waktu yg
lebih baik utk menjagokan salah satu model ekonomi yang berbeda dgn yg
berserakan di Wall Street, namun dia percaya bahwa konsep Islami telah
dilemahkan keislamiannya.
Setelah krisis ini, orang mencari jalan keluar, industri keuangan Islami
bergerak menuju sistem tersebut. Sudah saatnya keuangan Islami utk diam sejenak
dan berpikin akan dibawa kemanakah sistem ekonomi Syariah ini.
My Opinion,
Sistem Ekonomi Syariah yg memiliki hati nurani merupakan letak perbedaan yg
sangat signifikan dgn konvensional. Syariah (syariah, syariat = aturan, ajaran)
Islam sangat mengutamakan "Adil" dalam segala ajarannya, terutama dalam sistem
perdagangannya. Muhammad sebagai pelopor sitem ini di dunia, selalu menyebutkan
dgn jujur (Al - Amin) berapa jumlah modal yg dia keluarkan ketika beliau
melakukan transaksi jual beli dgn konsumennya.
Hati nurani disini memiliki arti yg sangat luas selain dari adil itu sendiri,
keunggulan yg tidak dimiliki konvensional diantaranya:
Nisbah = bagi hasil yg adil, bank Islam tidak menerapkan sistem interest. Di
sini nasabah mendapatkan benefit sesuai kontribusinya (share/dana yg disimpan)
dari omset bank secara keseluruhan (peforma bank sangat mempengaruhi). Prinsip
ini yg sering kita dengar dgn "transparansi".
Wadiah Dhamanah = dana titipan, pada prinsipnya dana yg disetor ke bank
merupakan dana yg dititipkan, sehingga pihak yg dititipkan sudah merupakan
kewajiban mutlak utk menjaga barang yg dititipkan dgn baik (Amanah). Atas dasar
inilah maka dana yg disetor ke bank syariah tidak akan berkurang ammount-nya
(bukan time value of money). Pada realitanya, jika ada biaya-2 yg dikenakan
maka jumlahnya tidak akan sebesar konvensional.
Keunggulan disini merupakan prespektif konsumen, tentunya jika dilihat dari
sisi bank maka deviden yg diperoleh tidak akan setinggi jika bank menerapkan
sistem konvensional. Mungkin hal inilah yg menjadi penyebab kurang populernya
Sistem Ekonomi Syariah, karena pihak bank (kapitalis) masih ingin mengeruk
keuntungan sedalam-dalamnya dari nasabah mereka. Secara tersirat, divisi
Syariah tidak diberikan budget sebesar promosi divisi konvensional.
Saat ini prodak-prodak syariah sudah banyak kemiripannya dgn konvensional, jika
tidak dijaga esensi dari Sistem Ekonomi Syariah itu sendiri, maka nilai
keislamannya yg mengusung Azas Keadilan dapat memudar, hal inilah yg ditakutkan
oleh Prof Habib Ahmed.
Bottomed line is AYO KE BANK Syariah!
Kalo kurang yakin dgn transletan gw, silahkan di klik langsung aja link nya
yaw..