Rabu, 27 Mei 2009 | 17:11 WIB

 
KOMPAS.com - Jika dihitung, mungkin ada miliaran kuman dan bakteri yang hidup 
di lingkungan sekitar kita. Untuk menghindari kecemasan dari kemungkinan 
terjangkit penyakit, kita kerap melindungi diri dengan produk-produk 
antibakteri. Bukan cuma sabun atau cairan penyemprot saja, kini pasta gigi, 
plastik, hingga mainan anak pun mengklaim dilengkapi bahan antibakteri.
Antibakteri kerapkali menjadi senjata andalan bagi kita yang setiap hari 
dikelilingi kuman. Di sisi lain, para ahli kesehatan justru mengatakan 
penggunaan antibakteri sebenarnya tidak dibutuhkan karena akan membunuh koloni 
kuman yang dibutuhkan. Jadi, mana yang benar?

Menurut mereka, produk tersebut tak ada bedanya dengan produk pembersih 
lainnya. Bahkan, produk yang mengandung antibakteri dalam jangka panjang justru 
berpotensi membahayakan kesehatan. 

Dari analisa dan perbandingan yang dilakukan Allison Aiello, PhD, asisten 
profesor epidemiologi dari Universitas Michigan, terhadap orang yang mencuci 
tangan dan sabun antibakteri dengan sabun biasa, terungkap tidak ada perbedaan 
antara keduanya.
"Tak ada perbedaan antara dua kelompok itu dalam jumlah bakteri di tangan atau 
terjangkit penyakit," katanya. Menurutnya, orang yang mencuci tangan dengan 
sabun antibakteri memang jumlah bakteri di tangannya hanya sedikit, tapi hanya 
bila mereka mencuci tangan selama 30 detik, 18 kali sehari, selama 5 hari 
berturut-turut. 

Sabun antibakteri, ungkap para ahli, memang bisa mencegah penyakit namun hanya 
pada mereka yang rentan tertular penyakit, misalnya para perawat di rumah 
sakit. Selain itu, sabun antibakteri yang biasa dipakai di rumah sakit memiliki 
kandungan 10 kali lebih tinggi dibanding produk antibakteri yang dijual bebas. 

"Sebenarnya kandungan antibakteri tidak bisa membunuh virus, yang mana jadi 
penyebab utama penyakit pada manusia, seperti flu, demam, atau sakit perut," 
kata Aiello lagi. 

Karena populernya penggunaan sabun antibakteri, hasil riset mengungkapkan 
kandungan antibakteri telah masuk dalam aliran darah manusia. Dalam sebuah 
riset yang dilakukan Centers for Disease Control and Prevention diketahui kadar 
triklosan, agen antibakteri yang paling banyak dipakai, dalam darah manusia 
sudah cukup tinggi. 

"Pada pemeriksaan tahun 2004, tiga perempat dari orang dewasa dan anak usia di 
atas enam tahun memiliki kadar triklosan yang bisa dideteksi," kata Antonia 
Calafat, peneliti utama dari CDC, AS.
Triklosan bisa masuk ke peredaran utama lewat kulit, membran selaput lendir di 
mulut, atau lewat usus besar.  Padahal, studi percobaan menunjukan triklosan 
menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik.
AN 
Sumber : WebMD



Akses http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau 
Windows Mobile


      

Kirim email ke