Dear All 

Hanya mau sharing, kalau kejadian seperti yang ibu Prita alami, terjadi juga di 
ayah mertua saya. Tapi beliau gak sampai komplain ke pihak rumah sakit, tapi 
malah cerita ke dokter lain untuk cari 'second opinion', dan dokter tersebut 
malah menyarankan untuk langsung 'lapor polisi'.

Jadi, 2 tahun yang lalu, ayah mertua didiagnosa sirosis. Pengobatan herbal 
diambil supaya meminimalisir efek ke organ tubuh yang lain. Beliau coba ke OMNI 
Kelapa Gading, dan disarankan mengambil paket 10x terapi. Yang 'lucu', 
dokternya dari China, gak bisa bahasa Indonesia. Yang ada tiap terapi selalu 
ada penterjemah. Yang jadi persoalan, terapi yang diberikan tidak mendapatkan 
penjelasan medis yang memuaskan (ayah mertua apoteker, jadi nanyanya detil). 
Dan, harga obat gak bisa dikompromikan (atau tidak ada tawaran paket 
generiknya), malah tidak bisa cari info nominalnya sebelumnya. Saat proses di 
apotik internal, baru ketahuan harganya, ternyata jutaan...

Memang, sehat itu mahal, tapi sakit lebih mahal...
Saya bukan dokter, saya 'curious' pengen tau, apakah ada kode etik dokter, 
bahwa dokter tuh harus memberikan 'alternatif' pengobatan/obat termasuk 
'alternatif' biaya untuk pasien, supaya gak hanya pasien 'mampu' aja yang bisa 
sembuh.....Jangan proses berobat menjadi ajang komersial....

Just want to share with everyone... 
    


      

Kirim email ke