Kalo menurut saya sih pihak Omni bodoh, dengan melakukan tindakan
kayak gini, otomatis kasus yg tadinya diketahui bbrp org saja, jadi
meluas ke seluruh Indonesia. Buntut2nya pasien2 pada takut berobat ke
RS tersebut krn membaca keluhan pelayanan yg dialami bu Prita
tersebut. Kalau saya pribadi sih mending berobat ke RS biasa ketimbang
ke RS Internasional kayak Omni ini looohhh.... Dan juga pihak Omni
seolah dengan sombong & congkak nya menunjukkan mereka berkuasa &
memiliki uang sehingga bisa menyuap jaksa, polisi2 untuk mengeluarkan
surat penangkapan terhadap bu Prita.
Kabar terakhir yg saya dengar tuh Omni berniat mencabut gugatan
terhadap bu Prita apabila bu Prita tidak lagi menyoal/meminta hasil
lab dengan trombosit 27.000 tersebut. Nah.. kita jadi bertanya2 nih..
ada apa gerangan dibalik semua ini?


On 6/4/09, Trivita Kartikasari <[email protected]> wrote:
>
>  Inilah Isi Email Prita
> Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Kasus
> Prita Mulyasari yang sedang menghangat belakangan ini patut menjadi
> perhatian
> bersama disaat kemajuan teknologi bisa menyapa siapa saja. Bermula dari
> surat
> pembaca dan email yang tersebar diberbagai millis, kini Prita Mulyasari
> ditahan  sejak 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang, Banten dan harus
> menghadapi persidangan pidana. Dia dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor
> 11
> tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita digugat
> oleh RS
> Omni karena dia mengeluh tentang pelayanan RS itu lewat email.
>
> Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca
> detik
> pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien
> dari
> Hasil Lab Fiktif
>
> Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia
> lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat
> berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title
> international karena
> semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba
> pasien, penjualan obat, dan suntikan.
>
> Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya
> mengalami
> kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008
> jam
> 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke
> RS
> OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard
> International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan
> manajemen
> yang bagus.
>
> Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
> derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
> thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya
> diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya
> wajib
> rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah
> saya
> yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
>
> dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi,
> saya
> meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini.
> Lalu
> referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya
> menanyakan
> saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
>
> Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau
> izin
> pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,
> dr H
> visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam.
> Bukan
> 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi
> dr H
> terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai
> macam
> suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga
> pasien.
>
> Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama
> dengan
> jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir
> karena
> di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih
> berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan
> saya
> percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
>
> Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
> suntik
> tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya
> meminta
> keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan
> suster
> hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu
> boks
> lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
>
> Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan
> suntikan
> dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya
> dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali
> ke
> 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter
> apa.
> Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.
>
> Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
> memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut
> saya
> sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan
> berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa
> demam
> berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan
> dan
> kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
>
> Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang
> sesak
> napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun
> hanya
> berkata menunggu dr H saja.
>
> Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya
> pun
> mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa
> untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan
> obat-obatan.
>
> Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun,
> janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan
> kakak-kakak
> saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
> awal
> yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
> riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah
> dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.
>
> dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah
> mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali
> dan
> menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi
> saya
> dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang
> pertama
> yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab
> dan
> tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
>
> Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
> membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak
> mau
> dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan
> data
> medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data
> medis yang fiktif.
>
> Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar)
> saya
> lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak
> ada
> follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil
> thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
>
> Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
> dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
> tercetak
> adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya
> komplain dan
> marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000
> tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung
> dengan
> Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
>
> Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh
> Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam
> tanda
> terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar
> dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada
> service-nya
> sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya
> meminta
> tanda terima pengajuan komplain tertulis.
>
> Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas
> nama Og
> (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan
> diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi
> dengan
> saya.
>
> Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan
> dari
> lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000.
> Makanya
> saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit
> 181.000
> saya masih bisa rawat jalan.
>
> Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain
> saya ini
> tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik.
> Dia
> mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M
> informasikan
> ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun,
> tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen)
> dan
> berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
>
> Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
> dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut
> analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah
> parah
> karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi
> impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
>
> Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah
> membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan
> suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak
> napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan
> memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi
> sesak
> napas.
>
> Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000
> tersebut
> namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta
> diberikan
> waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya
> tunggu
> kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari
> Omni
> memberikan surat tersebut.
>
> Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan
> keterangan
> bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore
> saya
> tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali
> saya
> telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima
> atas
> nama Rukiah.
>
> Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya
> tidak
> ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari
> datanya
> sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda
> terima
> tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya
> sebut
> Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka
> yang
> mempermainkan nyawa orang.
>
> Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
> pelayanan
> customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini
> cantum.
>
> Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
> dan
> ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja
> dan pas
> dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.
>
> Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami
> dan
> tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan
> dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan
> kondisi
> kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
>
> Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya
> ingin
> tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja
> supaya
> RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.
>
> Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya
> adalah
> hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu
> rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan
> saya
> tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
>
> Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
> asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya
> semaksimal
> mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
>
> Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr
> B).
> Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan
> kebohongan
> mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
>
> Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
> selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak
> jelas
> dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu
> yang
> cukup untuk menyembuhkan.
>
> Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
> masing-masing.
> Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang
> dipercaya
> untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.
>
> Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni
> supaya
> diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua
> yang
> tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan
> tidak
> terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
>
> Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah
> karyawan
> atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr
> M, dan
> Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
> perusahaan
> Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak
> mengatakan
> RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
>
> Salam,
>
> Prita Mulyasari
>
> Alam Sutera
>
> prita.mulyasari@ yahoo.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot,
> silahkan
> aktifkan Javascript untuk melihatnya
>
> 081513100600
>
>
>
>
>
> ________________________________
> Dari: Mira Marselina <[email protected]>
> Kepada: [email protected]
> Terkirim: Kamis, 4 Juni, 2009 07:05:08
> Topik: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita
>
>
>
>
>
>
> Mohon maaf sebelumnya, ada yang punya isi e-mailnya ibu prita nggak ?
> Thanks.
> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --
> This message contains confidential information and is intended only for the
> addressee named. If you are not the named addressee (or authorised to
> receive for the addressee), you must not disseminate, distribute or copy
> this email.Please notify the sender immediately by e-mail if you have
> received this e-mail by mistake and delete this e-mail from your system
>
>
>
>       Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo!
> Answers! http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke