Salut buat DELL, yg mampu mengatasi & memperbaiki kesalahannya menjadi
hal yg berguna buat perusahaannya. Seharusnya email ini bisa
diteruskan ke staf/direksi OMNI, biar mrk bisa instropeksi diri juga,
bukannya sok main gugat aja. Ada yg punya email nya org2 OMNI????
)))))


On 6/9/09, Wilma E.P <[email protected]> wrote:
> Subject: BC @ Trs: [tangandiatas] Contoh Kasus yang mirip Prita vs Omni
>
> dari milis sebelah
>
> All,
>
> Saya mengikuti perkembangan kasus Prita vs Omni yang begitu ramai
> dibicarakan di dunia maya. Dan saya mencoba untuk melihatnya dalam sudut
> pandang entrepreneur pemula, berdasarkan ilmu yang yang saya baca di buku2,
> khususnya buku koleksi terakhir saya "What Would Google Do ?"
>
> Saya tidak mau ikut berpolemik mana yang benar dan mana yang salah, tapi
> saya mencoba untuk mengajak untuk berdiskusi dari sudut pandang bisnisnya.
>
> Sekarang ini kita ada di era baru, era internet yang memungkinkan kita untuk
> berbicara langsung kepada dunia, mengorganisir diri kita sendiri, mencari
> dan menyebarkan informasi, dan yang utama kita ingin mengambil alih kontrol
> yang selama ini dipegang secara penuh oleh perusahaan, institusi dan
> pemerintah.
>
> Perhatikan kalimat "Ambil Alih Kontrol".
>
> Pelanggan pada era sekarang ingin menjadi TUAN untuk dirinya, untuk
> kehidupannya sendiri, tidak ada yang bisa mengontrol pelanggan, mau nggak
> kita serahkan kontrol pada kehidupan kita kepada orang lain? Its My Life
> (kalo kata Bon Jovi). Ini juga yang menunjukkan kenapa akhir2 ini begitu
> gampangnya orang marah apabila kecewa atas layanan perusahaan atau layanan
> publik lainnya. Pelanggan begitu mudah marah dan meluapkan kekesalannya
> melalui blog, milis, internet walaupun Cuma gara2 kita lama menservice
> komputer kesayangannya Pelanggan dapat dengan mudah menghancurkan suatu
> perusahaan di web, tapi sebaliknya bisa dengan mudah juga membantu
> meningkatkan brand image perusahaan yang disukainya.
>
> Ada satu studi kasus yang mirip2 dengan Prita vs Omni, tapi endingnya
> berbeda... yaitu antara DELL dan Jeff Jarvis (pengarang buku What Would
> Google Do?)
>
> Jeff membeli laptop DELL dengan pertimbangan murah dan memiliki reputasi
> yang bagus dalam customer service. Untuk lebih amannya, Jeff juga membayar
> ekstra untuk layanan home service.
>
> Tapi ternyata laptop ini bermasalah, Jeff mencoba memperbaikinya sendiri
> tapi software bawaan DELL juga banyak bugnya. Walaupun Jeff sudah membayar
> layanan home service, ternyata tetap saja laptop itu harus dibawa ke pusat
> service DELL. Setiap selesai diperbaiki, sampe rumah, rusak lagi. Setiap
> call ke DELL hotline, yang ada hold tanpa ada progress yang jelas. Jeff
> menjadi marah besar.
>
> Dalam keadaan frustasi, Jeff posting di blognya pada Juni 2005, dengan judul
> "DELL SUCKS". Jeff bermaksud untuk memperingatkan potential buyer lainnya
> untuk berhati2 dalam membeli produk DELL. Berikut link postnya:
> http://www.buzzmach ine.com/archives /2005_06_ 21.html
>
> Dan dalam hitungan menit, ratusan comment berdatangan. Si pengunjung menulis
> lagi di blognya dengan link balik ke blog Jeff Jarvis, sehingga cerita
> tersebut tersebar ke ribuan atau bahkan jutaan orang sehingga semakin
> meningkatkan anti-DELL.
>
> DELL tidak melayani protes Jeff Jarvis, karena beranggapan bahwa kalo
> pelanggan ingin berbicara pada DELL, maka mereka harus datang ke web site
> DELL dan menulisnya disana, atau call ke perusahaannya. Kebijaksanaan DELL
> untuk protes di blog adalah "Look, don't touch". Padahal sudah begitu banyak
> pelanggan DELL yang menulis tentang produknya diluar web site resmi dan
> diluar kontrol DELL, semuanya dikontrol oleh pelanggan itu sendiri.
>
> Dalam waktu singkat, blog Jeff Jarvis mengenai DELL semakin meningkat
> ranknya, menjadi halaman pertama di GOOGLE, hanya beberapa tingkat dibawah
> website DELL sendiri. Percakapan di blog Jeff lambat laun mulai merusak
> brand DELL. Pada saat itu, tingkat kepuasan pelanggan mulai menurun,
> penjualan menunjukkan hasil yang mengecewakan, harga saham turun hampir
> separonya, dan semakin banyak yang berdiri dibelakang Jeff untuk
> mendukungnya, terutama yang pernah dikecewakan oleh DELL.
>
> Pada bulan Agustus 2005, BusinessWeek menerbitkan cerita ini pada majalahnya
> dengan judul "Dell: In the bloghouse" (isinya ada dalam buku WWGD?). Pada
> masa ini, Jeff mendapatkan refund untuk laptopnya, setelah mengirim email
> secara resmi kepada kepala departemen pemasaran DELL dan Chief Ethics
> Officer. Sebetulnya DELL menawarkan untuk menukar laptop dengan yang baru,
> tapi Jeff menolak karena sudah kehilangan kepercayaan terhadap produk DELL.
>
> Lalu Jeff menulis surat terbuka melalu blognya kepada Michael Dell untuk
> menasihati bagaimana cara mengatasi bloggers dan customer dalam era
> internet, linknya: http://www.buzzmach ine.com/2005/ 08/17/dear- mr-dell/
>
> Pada April 2006, sekitar 8 bulan kemudian, DELL mulai memperbaiki
> kesalahannya dalam mengatasi protes melalui blog dengan cara menurunkan
> technical supportnya langsung ke bloggers2 sekaligus menawarkan solusi untuk
> mengatasi masalah. Apa yang terjadi kemudian? Public Relation yang buruk
> berubah menjadi bagus. Popularitas DELL sedikit demi sedikit mulai naik
> kembali.
>
> Pada bulan Juli 2006, DELL mulai membuka blognya sendiri yaitu Direct2Dell
> (http://en.community .dell.com/ blogs/direct2del l/) , kemudian blog ini
> menjadi tempat keluh kesah ataupun pujian bagi produk DELL, bahkan pelanggan
> bisa me rating dan mereview secara langsung produk DELL baik itu buruk
> maupun baik. Dan DELL menanggapi setiap posting atau komen dengan cara yang
> elegan yaitu menempatkan customer servicenya untuk membaca, meninggalkan
> komen, merekomendasikan pada teknisi untuk perbaikan, atau merekomendasikan
> perbaikan produk pada pihak manajemen. Artinya, DELL mendengarkan dan
> berbicara dalam bentuk yang berbeda.
>
> Pada bulan Februari 2007, Michael Dell melaunch IdeaStorm, dimana customer
> bisa mengusulkan kepada DELL mengenai apa yang harus dilakukan untuk produk
> berikutnya, mendiskusikan dan memvoting ide2 yang bermunculan. Pada tahap
> ini DELL tidak hanya mendengarkan, tapi betul2 melakukan ACTION. Sebagai
> contoh, Pelanggan menginginkan DELL untuk memproduksi komputer yang
> menggunakan LINUX sebagai OSnya. DELL khawatir mengenai supportnya, akan
> tetapi pelanggan memberikan solusi dengan menginformasikan bahwa ada
> komunitas yang bisa mengatasi hal tersebut. Akhirnya, DELL menjual komputer
> dengan LINUX sebagai OSnya. Pada suatu interview, Michael Dell mengatakan
> bahwa menjual komputer dengan LINUX mungkin tidak terlalu menguntungkan,
> tapi itu sebagai symbol penting atas partnership yang baru antara perusahaan
> dan pelanggannya.
>
> Jadi, DELL ikut serta dalam percakapan antar pelanggan, ikut serta dalam
> gosipnya, sehingga menjadikan mereka sebagai sahabat yang bisa mengkritik
> kapan saja, dan menjadikan produknya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi
> pelanggan. Memang DELL juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk
> membayar teknisi yang search seluruh blog dan memberikan advis/solusi secara
> langsung, tapi kedua belah pihak baik itu customer dan DELL sama2 menghemat
> waktu dan uang dari segi komunikasi melalui telpon.
>
> Setelah Public Relation DELL turut "online", negative blog mengenai produk
> DELL turun dari 49% menjadi 22%, penjualan meningkat tajam, dan produk DELL
> semakin dipercaya oleh pelanggannya.
>
> Pelajaran apa yang bisa kita ambil? Apabila kita memperlakukan pelanggan
> secara buruk maka perusahaan kita pun akan dikelilingi oleh orang2 yang
> marah, bersimpati pada pelanggan yang lain, dan dapat mengakibatkan turunnya
> brand image atau tingkat kepercayaan pada perusahan kita.
>
> Sebaliknya, apabila kita belajar untuk mendengar, mempercayai pelanggan,
> maka kita akan mendapatkan keuntungan dari kolaborasi dan jenis hubungan
> yang baru dengan pelanggan.
>
> Walaupun kita sudah berbisnis lama, perusahaan kita sudah cukup terkenal,
> tetap saja pelanggan tahu yang terbaik untuk mereka sendiri, merekalah
> rajanya dan serahkan kontrol itu kepada raja. Apabila pelanggan tidak
> diberikan kontrol, bersiap2lah untuk kehilanganya.
>
> Best Regards,
> Ade Aan Wirama
>
>
>       Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
> http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke