TRAUMA KEPALA
9/23/2008
Trauma kepala umum terjadi pada anak pada umur berapapun. Penyebab
trauma kepala ini antara lain jatuh, kecelakaan saat berolahraga,
kecelakaan lalu lintas, dan trauma bukan karena kecelakaan.
Pemeriksaan
Lakukan primary survey dan pastikan jalan napas, tulang servikal,
pernapasan dan sirkulasi anak dalam keadaan aman.
Segera periksa status mental anak dengan meggunakan skala AVPU.
Gunakan penekanan pada supraorbital yang cukup keras sebagai
rangsang nyeri.

A Alert (sadar)
V Responds to Voice (berespon terhadap suara)
P Responds to Pain (berespon terhadap nyeri)

Purposefully
Non-purposefully

Withdrawal/flexor response
Extensor response

U Unresponsive (tidak berespon)

Nilai ukuran pupil, sama tidaknya dan reaktivitasnya, dan cari tanda-
tanda neurologis fokal lainnya.
Lakukan secondary survey untuk melihat secara spesifik pada:
• Leher dan tulang servikal – deformitas, nyeri, spasme otot
• Kepala – lecet di kulit kepala, laserasi, pembengkakan,
nyeri, Battles
• Mata – ukuran pupil, ekualitas dan reaktivitas, funduskopi
• Telinga – darah di belakang gendang telinga, kebocoran LCS
• Hidung – deformitas, pembengkakan, perdarahan, kebocoran LCS
• Mulut – trauma gigi, trauma jaringan lunak
• Patah tulang wajah
• Fungsi motorik – periksa alat gerak untuk melihat adanya
refleks dan kelemahan sesisi
• Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score
• Pertimbangkan kemungkinan adanya trauma non-kecelakaan
selama secondary survey terutama pada bayi dengan trauma kepala
Trauma lain
Dapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian kecelakaan.
Secara spesifik tentukan:
• Waktu, mekanisme, dan keadaan trauma
• Hilangnya kesadaran dan durasinya
• Mual dan muntah
• Kondisi klinis sebelum dibawa ke dokter – stabil, memburuk,
membaik
Luka-luka lainnya

Tatalaksana

Trauma kepala ringan:
• Tidak kehilangan kesadaran
• Satu kali atau tidak ada muntah
• Stabil dan sadar
• Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala
• Pemeriksaan lainnya normal
Anak-anak ini dapat dipulangkan dari Gawat Darurat untuk kemudian
dirawat oleh orang tuanya. Jika terdapat keraguan apakah telah
terjadi hilangnya kesadaran atau tidak, anggap telah terjadi dan
tatalaksana sebagai trauma kepala sedang. Pastikan orang tua
mendapatkan instruksi yang jelas mengenai tatalaksana anak mereka di
rumah terutama untuk segera kembali ke rumah sakit jika anak:
• menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan
• menjadi bingung
• mengalami kejang
• timbul sakit kepala menetap
• berulang kali muntah
• keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga

Trauma kepala sedang:
• Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian
• Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin
mengantuk
• Dua atau lebih episode muntah
• Sakit kepala persisten
• Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma
• Mungkin mengalami luka lecet, hematoma, atau laserasi di
kulit kepala
• Pemeriksaan lainnya normal
Jika berdasarkan anamnesis dari keluarga atau petugas ambulans, anak
tidak mengalami penurunan secara neurologis maka anak dapat
diobservasi di IGD selama 4 jam dengan observasi tiap 30 menit
(kesadaran, nadi, frekuensi napas, tekanan darah, pupil, dan
kekuatan motorik). Anak dapat dipulangkan jika terdapat perbaikan
selama 4 jam menjadi dalam keadaan sadar dan tidak terdapat muntah.
Sakit kepala persisten, hematoma yang besar, atau luka penetrasi
dapat membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Jika anak masih
mengantuk atau muntah atau bila terdapat perburukan selama 4 jam,
diskusikan dengan ahli bedah saraf untuk rawat inap dan penyelidikan
lebih lanjut.

Trauma kepala berat:
• Kehilangan kesadaran dalam waktu lama
• Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri
atau tidak responsif
• Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga
• Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana,
kelemahan sesisi)
• Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:
o Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi
nervus okulomotor
o Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan
bradikardi dan hipertensi
• Trauma kepala yang berpenetrasi
• Kejang (selain Kejang singkat (<2menit) satu kali segera
setelah trauma)
Tatalaksana awal trauma kepala berat:
Mencegah kerusakan otak sekunder dengan mempertahankan jalan napas
yang paten, ventilasi dan oksigenasi adekuat, dan menghindari
hipotensi.
Imobilisasi tulang servikal harus dipertahankan bahkan apabila foto
lateral tulang servikal normal.
Pastikan intervensi bedah sarah dan ICU sejak dini.
Dengan konsultasi bersama ahli bedah saraf pertimbangkan untuk
menurunkan tekanan intrakranial:
• Naikkan kepala 20-30° (hanya setelah syok dikoreksi)
• Ventilasi sampai pCO2 35mmHg
• Pertimbangan pemberian mannitol 0.5-1g/kg IV
• Pastikan tekanan darah adekuat
Kontrol kejang.
Lakukan CT scan kepala segera.
Berdasarkan National Institute for Health and Clinical Excellence,
CT scan kepala dilakukan jika terdapat satu atau lebih keadaan di
bawah ini:
• Kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit
• Tidak dapat mengingat kejadian sebelum atau sesudah trauma
dan berlangsung lebih dari 5 menit
• Mengantuk yang tidak lazim
• Mual tiga kali atau lebih sejak trauma
• Kemungkinan kerusakan yang timbul perlahan
• Kejang setelah trauma (jika anak tidak menderita epilepsi)
• GCS kurang dari 14 atau kurang dari 15 untuk bayi kurang
dari 1 tahun, ketika pertama kali diperiksa di IGD
• Tanda-tanda yang menunjukkan tengkorak menekan otak
• Tanda-tanda fraktur basis cranii (misal, mata panda')
• Luka lecet, bengkak, atau robekan di kepala >5cm pada bayi
di bawah 1 tahun
• Mengalami kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi
• Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter
• Terluka oleh benda atau sesuatu dengan kecepatan tinggi

PANDUAN UNTUK ORANG TUA
Anak-anak seringkali mengalami benturan di kepala dan sulit untuk
diketahui apakah hal itu merupakan masalah yang serius atau tidak.
Jika anak Anda terbentur di kepala, sebaiknya Anda menemui dokter.
Trauma kepala adalah benturan apa pun yang mengenai kepala yang
menyebabkan benjol, luka lecet, robekan, atau luka yang lebih parah
pada kepala anak. Kebanyakan trauma kepala bukan merupakan hal yang
serius dan hanya menimbulkan benjol atau luka lecet. Namun terkadang
trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.
Cari bantuan medis segera jika :
Anak Anda mengalami benturan keras di kepala, seperti jatuh dari
ketinggian atau kecelakaan mobil.
Anak Anda kehilangan kesadaran.
Anak Anda tampak tidak sehat dan muntah beberapa kali setelahnya

Gejala dan Tanda
Gejala trauma kepala digunakan untuk menentukan berat tidaknya
trauma tersebut. Trauma kepala dapat digolongkan menjadi tiga jenis,
yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat.
Trauma kepala berat adalah ketika anak Anda:
• Tidak sadar lebih dari 30 detik.
• Mengantuk dan tidak berespon terhadap suara Anda.
• Memiliki tanda-tanda trauma kepala lain yang signifikan,
seperti lebar pupil yang tidak sama, kelemahan lengan dan kaki.
• Ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya.
• Mengalami kejang kedua selain kejang singkat pertama ketika
trauma terjadi.
• Anda sebaiknya menghubungi ambulans segera jika anak Anda
mengalami trauma kepala berat.
Trauma kepala sedang adalah ketika anak Anda:
• Tidak sadar selama kurang dari 30 detik.
• Sadar dan berespon terhadap suara Anda.
• Muntah 2 kali atau lebih.
• Sakit kepala.
• Kejang singkat satu kali dapat terjadi langsung setelah
trauma .
• Bisa mengalami luka lecet, benjol, atau luka robek yang
besar di kepala.
Anak Anda sebaiknya diawasi dengan ketat di rumah sakit selama
paling sedikit 4 jam setelah trauma kepala sedang.
Trauma kepala ringan adalah ketika anak Anda:
• Tidak kehilangan kesadaran/tidak pingsan.
• Sadar atau dapat berinteraksi dengan Anda.
• Mungkin muntah, namun hanya sekali.
• Bisa terdapat luka lecet atau robek di kepalanya.
• Selain itu normal.
Tatalaksana untuk trauma kepala ringan
Sebagian besar anak dengan trauma kepala ringan sembuh sepenuhnya.
Sebagian besar benturan ringan hanya menyebabkan luka lecet dan
nyeri sebentar.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang mengalami trauma
untuk membantu mengurangi bengkak.
Jika terdapat luka, tutup dengan perban bersih dan tekan selama 5
menit. Luka robek di kepala sering berdarah banyak.
Masalah-masalah yang harus diperhatikan 1-2 hari setelahnya:
Sakit kepala. Anak Anda dapat mengalami sakit kela. Berikan
parasetamol tiap 4-6 jam jika diperlukan untuk menghilangkan nyeri.
Muntah. Anak Anda dapat mengalami muntah sekali, namun jika muntah
berkelanjutan, bawalah ke dokter.
Mengantuk. Segera setelah trauma kepala Anak Anda mungkin merasa
mengantuk. Anda tidak perlu menjaganya agar tetap bangun bila ia
ingin tidur. Jika anak Anda tidur, bangunkan tiap ½-1 jam untuk
memeriksa kondisinya dan reaksinya pada hal-hal yang dikenalnya.
Anda sebaiknya melakukan ini sampai ia tak lagi mengantuk dan telah
terjaga selama beberapa jam. Beberapa pertanyaan yang dapat Anda
ajukan:
• Apakah ia mengetahui namanya?
• Apakah ia mengetahui nama orang lain yang dikenalnya?
• Apakah ia mengetahui hari apa hari ini?
• Atau jika anak Anda masih kecil: apakah reaksinya tampak
sesuai? Misalnya mengambil sebuah mainan. Apakah ia tampak
interaktif dan tidak terlalu rewel?
Jika Anda mengalami kesulitan membangunkan anak Anda, bawa anak ke
gawat darurat terdekat atau hubungi ambulans.
Jika perilaku anak Anda sangat berbeda dengan perilaku normalnya
atau bila nyeri tidak hilang, pergilah ke dokter.
Follow up
Beberapa masalah yang mungkin timbul akibat trauma kepala bisa sulir
untuk dideteksi pada awalnya. Pada beberapa minggu selanjutnya orang
tua mungkin melihat adanya:
• Rewel
• Mood yang berganti-ganti
• Kelelahan
• Masalah konsentrasi
• Perubahan perilaku
Sampaikan pada dokter Anda jika Anda khawatir akan tanda-tanda
tersebut.
Temui dokter Anda atau kembali ke rumah sakit segera jika anak Anda
mengalami/memiliki:
• Perilaku yang tidak lazim
• Sakit kepala terus menerus atau beray yang tidak hilang
dengan parasetamol (rewel pada bayi)
• Muntah berulang kali
• Keluar darah atau cairan dari telinga atau hidung.
• Kejang atau spasme pada wajah, lengan, atau kaki
• Sulit bangun
• Sulit untuk tetap terjaga
• Jika Anda merasa khawatir dengan sebab apapun
Hal-hal yang harus diingat
Jika anak Anda mengalami trauma kepala, sebaiknya temui dokter.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang terkena trauma untuk
membantu mengurangi bengkak.
Algoritme Evaluasi dan Triase Anak dan Remaja dengan Trauma Kepala
(Berdasarkan American Academy of Pediatrics dan American of Family
Physician)

Keterangan
(A) Parameter ini ditujukan untuk tatalaksana anak dengan trauma
kepala tertutup ringan yang sebelumnya sehat secara neurologis yang
memiliki status mental normal, tanpa kelainan neurologis fokal
(termasuk funduskopi), dan tidak terdapat tanda fisik fraktur
tengkorak (seperti hemotimpanum, Battle's sign).
(B) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di
bawah perawatan petugas yang kompeten dianjurkan untuk anak dengan
trauma kepala tertutup ringan tanpa kehilangan kesadaran.
(C) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di
bawah perawatan petugas yang kompeten mungkin dilakukan untuk
tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan dengan
kehilangan kesadaran.
(D) CT scan bersama dengan observasi dapat dilakukan untuk evaluasi
dan tatalaksana awal dengan trauma kepala tertutup ringan dengan
kehilangan kesadaran singkat.
(E) Jika pencitraan diperlukan oleh dokter dan jika baik CT scan dan
foto Roentgen kepala tersedia, CT scan merupakan modalitas pilihan,
karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang lebih baik. Apabila
tidak terdapat CT scan, foto Roentgen kepala dapat membantu dokter
untuk mengetahui adanya resiko kerusakan intrakranial. Namun fraktur
tengkorak dapat dideteksi pada foto kepala tanpa adanya jejas
intrakranial dan kadang-kadang terdapat kerusakan intrakranial
meskipun tidak terdapat fraktur tengkorak pada foto kepala. Apakah
adanya kerusakan intrakranial berdasarkan hasil pada foto kepala
cukup untuk merubah strategi penanganan bergantung keinginan dokter
dan keluarga.
(F) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Magnetic Resonance Imaging
(MRI) lebih sensitif daripada CT dalam mendiagnosis lesi
intrakranial tertentu. Namun, saat ini tidak terdapat perbedaan
antara CT dan MRI dalam mendiagnosis trauma dan perdarahan
intrakranial akut yang secara klinis signifikan yang membutuhkan
intervensi bedah saraf. CT lebih cepat dan lebih mudah dibanding MRI
dan biaya CT lebih murah daripada MRI.
(G) Pasien yang secara neurologis normal dengan CT scan yang normal
memiliki resiko yang sangat rendah untuk terjadinya perburukan.
Pasien dapat dipulangkan untuk observasi oleh orang yang dapat
dipercata jika CT scan setelah trauma normal. Keputusan untuk
melakukan observasi di rumah diambil dengan mempertimbangkan
kemungkinan anak harus kembali ke rumah sakit dan besarnya tingkat
kepercayaan pada orang tua atau orang yang akan melakukan observasi.
Observasi dapat pula dilakukan di klinik, tempat praktek, IGD, atau
rumah sakit tergantung keinginan dokter dan orang tua.
(H) Jika CT scan menunjukkan adanya kelainan, tergantung kelainan
tersebut apakah akan dirujuk atau tidak dan jika perlu konsultasi
dengan subspesialis yang sesuai.
(I) Jika status neurologis anak memburuk selama observasi, dilakukan
pemeriksaan neurologis menyeluruh, bersamaan dengan CT scan segera
setelah kondisi pasien stabil. Jika pada pengulangan CT scan
menunjukkan kelainan patologis intrakranial baru, diperlukan
konsultasi dengan subspesialis.

Referensi :
1. American Academy of Pediatrics Committee on Quality Improvement.
The Management of minor closed head injury in children. August,
2007. Diakses dari www.aap.org
2. American Academy of Family Physicians Commission on Clinical
Polices and Research. The Management of minor closed head injury in
children. August, 2007. Diakses dari www.aafp.org
3. Royal Childrens Hospital. Clinical practice guidelines: Head
injury. Diakses dari www.rch.au.org
4. Royal Childrens Hospital. Kids health info for parents: Head
injury. Updated June 26, 2006. Diakses dari www.rch.au.org.



dr. Veda
Ke Atas Ke halaman sebelumnya

Thx & rgds,

Suwarni

Kirim email ke