Kontroversi penambahan AA dan DHA pada makanan bayi
08/09/2006 - Dr Widodo Judarwanto SpA

Saat ini sebagian besar susu formula atau makanan bayi selalu ditambah bahan
DHA (docosahexaenoic) dan AA (arachidonic acid). Promosi makanan bayi selalu
didominasi oleh "ikon" formula kecerdasan tersebut. Orang tua pasti akan
terhanyut dengan promosi ini. Sehingga susu dan makanan bayi tanpa bahan
tersebut pasti kalah bersaing di pasaran padahal harganya relatif lebih
mahal.

Yang lebih tragis rayuan promosi ini, kadang menenggelamkan kehebatan
manfaat ASI. Benarkah AA dan DHA berpengaruh terhadap kecerdasan? Amankah
pemberian AA dan DHA secara jangka panjang pada bayi dan anak?

British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric
Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan
FAO(Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA
hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti
klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur.

Sedangkan Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy
for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi,
karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan
penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang
menunjukkan hasil bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak
terbukti
manfaatnya untuk kecerdasan bayi.

LATAR BELAKANG PEMBERIAN

Kualitas manusia sangat ditentukan oleh pertumbuhan dan perkembangannya
sejak dini. Pemenuhan gizi yang baik dan benar merupakan modal dasar agar
anak dapat mengembangkan potensi genetiknya secara optimal. Zat gizi yang
diberikan harus tersedia secara tepat baik kualitas maupun kuantitasnya.

Mulai dari protein dengan asam aminonya baik yang esensial maupun
non-esensiel, sumber kalori, berupa karbohidrat ataupun lemak, vitamin, dan
mineral.

DHA dan AA adalah komponen terbesar dari long-chain polyunsaturated fatty
acids (LC-PUFA), merupakan bahan yang sangat penting bagi organ susunan
saraf pusat. DHA penting untuk pembentukan jaringan saraf dan
sinap,sedangkan AA berperan sebagai neurotransmitter sebagai suatu bentuk
asam lemak yang essensial LC-PUFA harus ditambahkan pada makanan.

Asam lemak esensial sebenarnya terdiri dari asam linoleat (AL) atau
"linoleic acid" (LA), asam linolenat (ALN) atau "?-linolenic acid" (ALA)
serta asam arachidonic atau "arachidonic acid" (AA). Asam lemak ini tidak
bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari karbohidrat
ataupun asam amino.

Asam arachidonic dapat dibuat dari asam linolenat (seri n-6), karenanya yang
dianggap sebagai asam lemak esensial hanyalah asam lemak lenolenat dan asam
lemak linolenat. Kedua asam lemak esensial ini tidak dapat saling berubah
dari yang satu menjadi yang lain serta berbeda baik dalam metabolisme maupun
fungsinya, bahkan secara fisiologik keduanya mempunyai fungsi yang
berlawanan.

Penelitian pemberian AA/DHA pada bayi prematur terbukti menunjukkan bahwa
pemberian LC-PUFA sebagai suplemen dapat meningkatkan kemampuan visual dan
perkembangan sistem saraf terutama pada bayi prematur. Proses pembuatan DHA
maupun AA difasilitasi oleh enzim desaturase dan elongase. Aktifitas kedua
enzim ini masih sangat kurang pada bayi prematur bahkan pada bayi aterm
sampai usia 4-6 bulan. Karenanya penambahan DHA dan AA pada bayi prematur
lebih relevan diberikan, dengan dosis yang mengacu pada kandungan asam lemak
dalam ASI.

PENELITIAN KONTROVERSIAL

Manfaat pemberian AA dan DHA pada bayi cukup bulan dan anak dianggap masih
kontroversial. Beberapa penelitian pendahuluan mengklaim bahwa pemberian zat
AA dan DHA meningkatkan perkembangan tingkat kecerdasan tertentu dan
kemampuan visual anak.

Sebuah penelitian menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada
bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan
yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan
elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa pakar
menilai beberapa penelitian suplementasi AA/DHA tersebut terdapat kelemahan
sehingga tampaknya tidak universal dapat digunakan sebagai acuan.

Banyak pakar berpendapat bahwa enzim yang berfungsi untuk proses biosintesa
asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf
pusat dan hati di janin dan bayi. Teori inilah yang mematahkan pendapat
bahwa AA dan DHA perlu diberikan pada anak dan bayi. Sehingga
banyak penelitian juga mengungkapkan bahwa penambahan DHA dan AA pada susu
formula, ternyata tidak terbukti meningkatkan kemampuan penglihatan dan
sistem saraf bayi.

Hasil penelitian Ross Paediatric Lipid Study di Amerika Serikat pada tahun
1997 yang menunjukkan tidak adanya perbedaan pertumbuhan dan fungsi
penglihatan pada bayi yang diberi DHA dan AA di 12 bulan pertama.

American Council on Science and Health juga menyimpulkan bahwa tidak ada
cukup bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penambahan DHA dan AA pada formula
untuk bayi yang lahir normal. Demikian juga penelitian yang dilakukan David
dkk ternyata pemberian AA dan DHA tidak terdapat perbedaan yang bermakna
pada Bayley Mental Scale, Bayley Motor Scale, Vocabulary Comprehension
andProduction Scale.

Meskipun demikian Food and Drug Administration (FDA) memberikan ijin kepada
Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan
susu formula dengan suplementasi AA/DHA pada tahun 2002. Harganya sekitar
20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi.

WASPADAI PEMBERIAN AA DAN DHA

Pada bayi cukup bulan atau anak besar pemberian suplemen DHA dan AA perlu
diteliti lebih jauh mengingat adanya kemungkinan efek samping yang belum
terdeteksi dan teruji. Pemberian lemak yang berlebihan dapat menyebabkan
kegemukan, serta penyakit jantung bahkan dapat menimbulkan keganasan; dapat
meningkatkan kadar kolesterol, dan LDL yang dapat memacu terjadinya
aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.

Hal ini sangat tergantung pada jumlah energi yang berasal dari lemak,
komposisi dari asam lemaknya, komposisi dari lipoprotein, diet serat yang
dikonsumsi, antioksidan, aktifitas, serta derajat kesehatannya. Pada anak
yang tidak aktif konsumsi lemak tidak boleh melebihi dari 30% kebutuhan
energi. .

Penelitian yang dilakukan penulis terhadap 256 bayi dengan riwayat alergi
yang melakukan rawat jalan di Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda
Jakarta didapatkan 34 (13%) bayi mengalami reaksi simpang terhadap AA dan
DHA.

Setelah dilakukan eliminasi provokasi susu formula AA/DHA dan susu tanpa
AA/DHA dengan jenis yang sama. Gejala yang ditimbulkan karena pengaruh
reaksi simpang tersebut antara lain adalah dermatitis, batuk dan gangguan
saluran cerna berupa muntah, diare atau konstipasi.

Reaksi simpang makanan yang berlangsung lama bukan hanya mengganggu
pertumbuhan tetapi juga mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak seperti
hiperaktif, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi dan
gangguan belajar dan gangguan perilaku lainnya.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun pada makanannya perlu
dipertimbangkan lebih cermat. Pada bayi yang aterm ataupun anak besar sudah
dapat mensintesa DHA maupun AA dari LC-PUFA sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan pemberian DHA yang berlebihan dapat menekan proses pembentukan AA,
serta dapat menekan aktifitas ensim siklooksigenase yang memfasilitasi
pembentukan prostaglandin PGH2 dan PGH3 dari AA, sehingga dapat menghambat
pembentukan prostaglandin berikut tromboksan dan leukotrin, dapat
menyebabkan terhambatnya respons terhadap proses keradangan khususnya pada
pelepasan interleukin- 1 dan TNF, memanjangnya masa perdarahan, menurunnya
renin yang turut dalam pengontrolan fungsi ginjal.

Overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo
yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Gejalanya berupa perdarahan, mirip
flek-flek berwarna kebiruan di kulit. Efek yang lain baru ditemukan pada
monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda.

Bagaimana orang tua untuk menyikapinya untuk masalah ini? Pertimbangan utama
dalam pemilihan susu formula yang terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi
anak dan tidak mengakibatkan reaksi simpang yang mengganggu fungsi organ
tubuhnya.

Pertimbangan lain adalah masalah harga harus disesuaikan dengan ekonomi
keluarga serta kesediaan barang dan distribusi yang berkelanjutan di
pasaran. Kandungan zat tambahan (AA, DHA, dll), harga mahal, disukai bayi
dan merek terkenal bukanlah pertimbangan utama dalam pemilihan susu formula
pada anak.

Secara umum semua susu formula yang beredar resmi di Indonesia kandungan
gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery
Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan
kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tetapi apapun
juga, yang pasti ASI masih tetap yang terbaik.

Dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CENTER, Rumah Sakit Bunda Jakarta
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN ANAK),
Jl Rawasari selatan 50 Cempaka Putih Jakarta Pusat
Telepon : (021) 4264126 - (021) 70081995 - (021) 31922005


Sumber:
http://ratnarespati .com/2008/ 09/10/seberapa- pentingkah- dha-dalam-
susu/<http://ratnarespati.com/2008/09/10/seberapa-pentingkah-dha-dalam-susu/>

Kirim email ke