nambahin nih..
 
Oprah sering kali mengatakan bahwa "motherhood is the hardest job in the 
world". Trus di satu artikelnya ia juga mengatakan "i believe the choice to 
become a mother is the choice to become one of the greatest spiritual teachers 
there is...It is on her back that great nations are built.
 
Pantes ya surga itu ada di telapak kaki ibu.

--- On Thu, 7/23/09, desi puspa rini <[email protected]> wrote:


From: desi puspa rini <[email protected]>
Subject: [parentsguide] titik kemuliaan ibu rumah tangga
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Thursday, July 23, 2009, 3:27 AM


  




dear mods, minta izin direlease ya thanks.

http://www.oaseisla m.com/modules. php?name= News&file=article&sid=221
 







Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga
Dipublikasi pada Jum'at, 02 Januari 2004 oleh abufaiz97


 SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe, 
menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga 
supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya 


----------
www.mqmedia. com - "Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros 
utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu 
rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna." (Ayatullah Uzma Sayid 
Ali Khamenei)

SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe, menulis 
sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga 
supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani 
kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai 
berikut:

".Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan yang 
menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa 
menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah 
utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. 
Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga 
yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan 
wanita dan manusiawi."

Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti 
penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah 
mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar 
rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan 
dihinggapi berbagai masalah.

Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap 
mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, 
penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara 
menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang 
wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral 
yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, 
inilah yang terjadi di barat sana.

Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, 
kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, 
sebetulnya telah merampas kebahagiaan dan fitrah mereka sendiri. Mahmud Mahdi 
Al Istambuli menyampaikan kabar kesadaran mereka itu sebagai berikut: "Mereka 
baru-baru ini mulai mengajukan persamaan dengan wanita Muslimah, sesudah mereka 
tahu apa tujuan di balik semboyan-semboyan dan slogan-slogan bohong itu. 
Wanita-wanita barat rindu mendapatkan kehidupan sebagaimana dialami wanita di 
negeri Islam. Mereka menuntut persamaan dengan kehidupan para Muslimah itu."

MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri 
bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, 
yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat 
dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, 
menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus 
perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.

Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya 
selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak 
langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam 
gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.

Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama 
ini diajarkan Islam. Ajaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi 
yang sangat mulia.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei 
mengatakan, "Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai dokter, 
dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada 
tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. 
Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya 
merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna 
jika Anda tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah 
tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah 
tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa 
makna."

Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal 
senada. "Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat 
terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status 
ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. 
Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, 
menurut pendapat saya, justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat 
terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan 
masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang 
baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga."

Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua 
New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga 
mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:

Istriku Yang Tidak Bekerja
Suatu ketika
Siapa yang mengerik sagu?
Siapa merawat ternak itu?
Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
Hingga keluarga bertahan
Siapa menimba air di sumur?
Merawat dan menyayang anak-anak itu?
Merawat yang sakit?
Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya?
Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
Yang perjuangannya
Tak terlihat
Tak terdengar
Tak dihargai
Tak terbantu
Membantu pembangunan?
Siapa peduli untuk bilang
Benarkah Istriku tidak bekerja?

Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. 
Keterhormatan itu akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah tangga mampu 
mewujudkan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan Syeikh Muhammad 
Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah.

Menurut Al Ghazali, yang dimaksud sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah 
tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka 
harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga 
sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya 
terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti 
seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama 
keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa 
mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang 
mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan 
memerlukan kelayakan yang cukup.

Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan 
mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak 
mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan 
kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan 
mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah 
tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi 
terhina? Wallahua'lam. (Syam/MQ)***




menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah,
namun juga bukan sesuatu hal yang sulit.
menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja merupakan sebuah pilihan,
banggalah menjadi ibu apapun jalan yang ditempuh
hanya ibu yang tau apa yang terbaik untuk keluarganya.

-mom nadhil-
 Desi Puspa Rini, S.Si
statistic consultant

butik online
http://glorious62. multiply. com/






















      

Kirim email ke