dari milis sebelah

Usus Dipotong akibat Kebanyakan Mi Instan (1)
Jumat, 21 Agustus 2009 | 12:38 WIB
*Laporan wartawan NOVA Ester Sondang*

*MAKSUD *hati membantu suami menambah penghasilan, apa daya anak jadi
korban. Akibat kerap meninggalkan buah hatinya, Hilal Aljajira (6), Erna
Sutika (32) kini harus menelan pil pahit. Usus Hilal bocor dan membusuk
hingga harus dipotong. Rupanya tiap hari Hilal hanya menyantap mi instan
karena di rumah tak ada orang yang memasakkan makanan untuknya. Berikut
cerita Erna.

Saat usia Hilal menginjak 2 tahun, aku memutuskan bekerja, membantu
keuangan keluarga mengingat penghasilan suamiku, Saripudin (39), kurang
mencukupi kebutuhan keluarga.

Aku bekerja di perusahaan pembuat bulu mata palsu, tak jauh dari rumah
kami di Garut. Setiap berangkat kerja, Hilal kutitipkan kepada ibuku. Di
situ, ibuku kerap memberinya mi instan. Bukan salah ibuku, sih, karena
sebelumnya, aku juga suka memberinya makanan itu jika sedang tidak masak.

Ternyata, Hilal jadi “tergila-gila” makanan itu. Ia akan mengamuk dan
mogok makan jika tak diberi mi instan. Ya, daripada cucunya kelaparan,
ibuku akhirnya hanya mengalah dan menuruti kemauan Hilal. Lagi pula,
kalau tidak diberi, Hilal pasti akan membeli sendiri mi instan di warung
dekat rumah dengan uang jajan yang kuberikan. Praktis, sehari dua kali
ia makan mi instan.

*Dua kali dipotong*
Kamis, 20 November 2008, Hilal mengeluh sakit perut. Kupikir sakit
biasa. Anehnya, setelah tiga hari, sakitnya tak kunjung hilang dan
ditambah ia tidak bisa buang air besar. Gara-gara itulah perutnya membesar.

Khawatir, kubawa Hilal ke mantri dekat rumah. Karena tetap tidak ada
perubahan, kami kemudian membawanya ke RSU Dr Slamet, Garut. Ternyata
hasil pemeriksaan dokter lebih menyeramkan dari yang kuduga. Kupikir,
cukup dengan obat pencahar perut, sakit Hilal bisa segera sembuh.
Rupanya tak segampang itu.

Hasil tes darah dan rontgen memperlihatkan, Hilal harus segera dioperasi
karena beberapa bagian di ususnya bocor dan membusuk. Ketika kutanyakan
apa penyebabnya, dokter menjawab, akibat dari kandungan makanan yang
Hilal konsumsi selama ini tidak sehat dan membuat ususnya rusak. Saat
itulah kutahu Hilal terlalu sering menyantap mi instan. Astagfirullah….

Atas rujukan dokter, kami kemudian membawa Hilal ke RS Hasan Sadikin,
Bandung, dengan alasan peralatan medis di RS itu lebih lengkap. Sejak
awal, tim dokter sudah pesimistis dengan kondisi Hilal yang begitu
memprihatinkan dengan berat badan yang tidak sampai 11 kg. Dokter juga
bilang, dari puluhan kasus serupa, hanya tiga orang yang bertahan hidup.
Aku hanya bisa berserah pada Allah SWT.

Baru pada 25 November 2008 operasi dilakukan di RS Immanuel, Bandung.
Saat itu aku sedang hamil tiga bulan. Dokter mengamputasi usus Hilal
sekitar 10 cm. Untuk menyatukan bagian usus yang terputus itu, dokter
menyambungnya dengan usus sintetis. Selain itu, dokter juga membuat
lubang anus sementara (kolostomi) di dinding perut sebelah kanan.

*Utang belum lunas*
Ternyata cobaan kami belum berakhir sampai di situ. Tiga hari kemudian,
dokter menemukan masih ada bagian usus yang bocor. Mau tidak mau, Hilal
harus kembali naik ke meja operasi dan merelakan sebagian ususnya lagi.

Jelas, aku dan suami sangat ingin Hilal sembuh. Namun, di sisi lain,
penghasilanku sebagai buruh tidaklah seberapa. Setiap bulan, aku hanya
bisa membawa pulang uang Rp 250.000 atau Rp 300.000 kalau lembur. Adapun
suamiku penghasilannya tidak pernah menentu. Maklum, ia hanya kuli kasar
di pabrik tahu di Bandung.

Sejak Hilal jatuh sakit, aku memutuskan berhenti bekerja. Alhasil,
suamiku harus banting tulang mengerjakan pekerjaan apa pun asal
menghasilkan uang. Kendati sudah bekerja begitu keras, rasanya sia-sia
saja. Biaya operasi Hilal yang mencapai Rp 16 juta terasa begitu besar
dan entah kapan bisa dilunasi. Apalagi, kami hanya punya waktu 10 hari
untuk melunasinya. Untung pihak rumah sakit berbaik hati memberi
kelonggaran waktu dua hari sehingga kami masih sempat meminjam uang ke
beberapa keluarga dan tetangga.

Demi kesembuhan Hilal pula, kami harus lebih berhemat. Rumah kontrakan
kami tinggalkan dan kami menumpang di rumah orangtuaku. Sebenarnya uang
kontrakan rumah itu tidak terlalu besar, hanya Rp 300.000 per tahun,
tapi tetap saja uang sebesar itu sangat berarti untuk biaya pengobatan
Hilal.

Kata dokter, kolostomi di perut Hilal sudah bisa ditutup setelah tiga
bulan. Namun, baru setelah delapan bulan kemudian, tepatnya 23 Juli
2009, operasi penutupan dilakukan. Apalagi kalau bukan masalah biaya.
Itu pun bisa dilakukan karena kami dapat bantuan dari sebuah stasiun
televisi swasta sebesar Rp 14 juta.

Soal utang ke keluarga dan tetangga sebesar Rp 16 juta, entah kapan bisa
kami selesaikan. Kepalaku jadi tambah pening bila mengingat, sebentar
lagi si sulung, Panda Erdini (11), akan masuk SMP. (*/Bersambung/*...)

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/21/1238313/Usus.Dipotong.Akibat.Kebanyakan.Mi.Instan.1

Usus Dipotong Akibat Kebanyakan Makan Mi Instan (2)
Jumat, 21 Agustus 2009 | 13:16 WIB
*Laporan wartawan NOVA Ester Sondang*

*SEJAK *ususnya yang busuk dipotong, Hilal tidak lagi merasakan sakit
pada bagian ususnya. Celakanya, rasa sakit justru berpindah ke bagian
kolostominya. Setiap kali habis makan, makanan itu pasti langsung keluar
melalui lubang anus buatan itu. Saat itulah dinding perutnya merasakan
sakit yang luar biasa. Ia bisa menangis menjerit-jerit kesakitan.

Belum lagi plastik yang menempel untuk menampung feses yang penuh dan
harus diganti dengan yang baru. Double tape yang sering kali dilepas dan
dipasang, membuat kulit perutnya iritasi dan perih.

Jika sudah tak bisa menahan sakitnya, Hilal akan berujar, “Udah Hilal
/paeh aja/! (Hilal lebih baik mati saja!)” Kadang juga ia berteriak
minta maaf kepada Allah dan minta disembuhkan sambil mengatupkan kedua
tangannya. Kasihan anakku.

Setiap hari, selama delapan bulan itu, ia hanya menghabiskan waktunya di
tempat tidur. Hilal hanya mampu berjalan beberapa menit saja karena jika
terlalu lama ia pasti langsung merasakan sakit di bagian kolostominya.
Setiap malam, ia juga harus tertidur dengan paha diangkat menyentuh ke
perutnya. Katanya, terasa enak dan membantu menahan rasa sakitnya.

*Kapok Makan Mi*
Agar ia tidak merasa bosan di kamar seharian, aku mengalihkan rasa
sakitnya dengan mengajarinya membaca. Awalnya, sih, sekadar membacakan
buku-buku cerita untuknya, tapi lama-kelamaan ia merasa tertarik untuk
membaca. Aku dan Panda bergantian mengajarinya. Tidak terasa, saat ini
ia sudah lancar membaca, /lo/.

Memang, sebetulnya Hilal anak yang sangat pintar dan aktif. Sebelumnya
ia tidak pernah sakit dan sangat penurut. Namun, sejak kelahiran adiknya
dua bulan lalu, Ilham Haki, ia menjadi lebih manja padaku. Ia melarangku
menggendong dan menyusui adiknya. Aku, sih, maklum saja karena dia masih
sakit dan mungkin takut rasa sayangku direbut oleh adiknya.

Sekarang Hilal sudah bisa berjalan lagi. Memang, sih, masih sedikit
bongkok, tapi aku yakin dalam waktu dekat ia bisa berdiri dan berjalan
dengan sempurna. Katanya, ia ingin segera sekolah.

Yang membuatku lega, sejak sakit itu, Hilal trauma dengan mi instan.
Bahkan melihatnya saja, dia seakan tak sudi. Beda dengan dulu, sekarang
ia sangat senang mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur, daging, buah,
dan susu. Susu memang dianjurkan dokter untuk membantu memperbaiki
kondisi dan kinerja ususnya.

Mudah-mudahan ia bisa segera sembuh dari sakitnya dan menjadi anak yang
pintar serta berprestasi di sekolahnya nanti.

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/21/13164741/Usus.Dipotong.Akibat.Kebanyakan.Makan.Mi.Instan.2



------------------------------------

==========================================================================
" Mailing list SEHAT didukung oleh Hewlett-Packard StorageWorks Division.
SEHAT Internet Access & Website didukung oleh CBN Net.
Terima kasih & penghargaan sedalam-dalamnya kepada : XEROX, Bhumiyamca,
Arutmin, HBTLaw dan Ibu Marissa Muliadi yg telah dan konsisten mensponsori
program kami, PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

Kunjungi kami di :
http://www.sehatgroup.web.id/
==========================================================================

" SEHAT mailing list is supported by Hewlett-Packard StorageWorks Division.
SEHAT Internet Access & Website are supported by CBN Net.
Our biggest gratitude to : XEROX, Bhumiyamca, Arutmin, HBTLaw and Ibu
Marissa Muliadi who have consistently sponsored our programme, PESAT
(Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua)."

Please visit our website at :
http://www.sehatgroup.web.id/
==========================================================================
Yahoo! Groups Links



Kirim email ke