Nih ada artikel inspiratif yang ditulis oleh Bang Enriqueza Nainggolan di 
ngerumpi.com
....

Prestasi anak pasti membuat orang tua bangga. Tapi bukankah
itu sama naifnya-atau tololnya?-dengan anak yang membangga-banggakan
orang tuanya, padahal dia sendiri sesungguhnya bukanlah siapa-siapa?
Sekadar berbagi kerisauan hati...

“Riqueza Raihan Nainggolan!” kata pembawa acara, lantang, disambut
gemuruh tepukan ratusan murid SD Wahidin Medan, dan para orang tua
murid  yang menyaksikan pembagian rapor dan pengumuman peringkat di
sekolah itu.

Echa, bidadari kecilku itu, dituntun wali kelasnya yang tampak
sumringah, melangkah ke depan. Dia peringkat 2 paralel di seluruh kelas
1, dari 1-A sampai 1-M. Tak bisa kucegah hatiku dari membuncah oleh
rasa bangga yang meluap melimpah ruah. Tak sadar aku bertepuk tangan,
lebih keras, lebih bersemangat, lebih satu menit!, lebih lama dari
siapapun yang ada di situ.

Para orang tua dan guru-guru di dekatku segera tahu, aku ayah anak
yang dipanggil ke depan itu. Rasa bangga itu makin menjadi-jadi. Ingin
rasanya menegaskan kepada mereka yang sedang melihat ke arahku, “Ya, aku ayah 
anak itu, aku ayahnya!”
Tingkat kebanggan itu terus naik, hingga kepalaku rasanya mau pecah
karena tak sanggup lagi menampung volumenya, ketika kudengar
bisik-bisik di sebelahku, bahwa di sekolah yang muridnya dominan suku
Tionghoa itu, sangat jarang siswa dari suku lain menjadi pemuncak
peringkat.

Tapi tunggu dulu! Echa sendiri kok malah biasa saja ya, ekspresinya?
Bahkan ketika melihat ayahnya sibuk jeprat-jepret dengan ponsel, persis
wartawan infotainment membidik Manohara, wajahnya tetap datar, sedatar
permukaan danau menjelang pagi. Lho? Malah dari caranya melirik aksiku,
dia seperti berkata dalam hati, “Dasar wartawan!”
Jadi ingat aku, tiap menonton berita di televisi, ketika para
jurnalis mengerumuni atau mengejar-ngejar sumber berita yang kadang
sampai kesulitan bergerak, Echa pernah menyatakan keheranannya.
“Wartawan kok gitu, Pak? Kerja Bapak gitu juga ya?”
Echa tetap tanpa ekspresi. Aku pun menghentikan aksi ala paparazzi.
Aku jadi berpikir sendiri, yang berhasil dapat nilai tinggi itu aku apa
Echa sih? Kok aku yang sibuk tak karu-karuan, Echa malah biasa saja,
seperti merasa tak ada yang pantas dibanggakan, atau dirayakan dengan
cara yang berlebihan. Malah cenderung seperti menahan beban.
Mudah-mudahan cuma perasaanku saja.

Setelah berhasil mengambil empat foto, dua di antaranya buram—tahu
sendiri efek delay foto pakai ponsel, plus fakta bahwa yang ngambil
foto malah lebih banyak gaya dari yang difoto—aku berangsur mundur.
Kebanggan tadi pun mulai mengendur, kemudian tuntas terkubur.
Perlahan, aku merasa seluruh indera mulai kehilangan koneksi dengan
realitas di sekitar. Suara pembawa acara mengumumkan juara paralel dari
kelas lainnya pun mulai terdengar samar. “Calvin Wijaya, Steven Ongso, Patrick 
Wang, Eveline Lucky…” (Tentu saja saat itu aku tak ingat persis nama-nama itu. 
Aku mengetahuinya dari daftar yang dibagikan kemudian).

Di tengah kerumunan dan sorak-sorai yang makin ramai itu, aku malah
terasing dalam sunyi pikiranku sendiri. Aku berdiri, bersandar pada
tembok yang ditempeli poster pengumuman penerimaan murid baru. Apa yang
sedang kubanggakan dari prestasi gadis kecil itu? Pada bagian mana
peran pentingku dalam pencapaian prestasinya, sehingga aku bisa
mengambil porsi terbesar dalam perayaannya?

Bukankah mungkin saja, dalam ekspresi datar itu Echasedang mengirim sebuah 
pesan. “Lihatlah
Ayah, aku tetap bisa berprestasi, dengan semua kekeliruan, kesalahan,
dan ketidakmampuanmu sebagai orang tua. Ayo, banggalah Ayah, atas kerja
kerasku, berlagaklah sebagai pahlawan, walau akulah yang letih
berperang. Pebasket yang bertarung, tapi cheerleaders yang meraung.”

Satu per satu arsip kedurhakaanku sebagai orang tua kepadanya,
mengalir bagai slide dalam kepala, gambar ingatan dengan resolusi
tinggi. Bahwa satu-satunya hal yang berhasil “kuajarkan” padanya
adalah, “ucapan tidak perlu sama dengan perbuatan”.
*****
Bosan dia mendengar, juga dua adiknya, Zaid dan Juan, bahwa yang
paling penting bagiku, ayah mereka, adalah kebahagiaan keluarga. Tapi
lebih bosan lagi mereka menerima kenyataan, betapa dengan gampangnya
aku membatalkan rencana jalan-jalan bersama mereka ke mall atau ke
manalah itu, karena mendadak ada penugasan atau rapat penting di
kantor. Bapak kerja mati-matian gini, kan demi kalian juga!
Tiap hari mereka kukuliahi—padahal Echa baru kelas 1 SD, Zaid baru
TK, Juan malah masih pipis sembarangan, tapi itu tadi, sudah dipaksa
mengikuti perkuliahan, yang menjemukan karena hanya berisi
pengulangan—bahwa dalam kehidupan ini, uang bukan segalanya. Bahwa
kebahagiaan sejati tidak datang dari materi. Bahwa merekalah sumber
kebahagiaanku yang sejati, dan kepentingan mereka berada di atas
segalanya.

Tapi ketika mereka mencoba menggelayut mesra, atau bertingkah lucu
di depanku dalam usahanya meraih perhatianku, atau menunjukkan hasil
lukisan pemandangan dengan bukit-bukit berwarna pink, dan awan berwarna
ungu, aku akan merasa sangat terganggu. “Bapak sibuk nih, ada kerjaan
penting. Sana main di luar, kenapa?”

Biasanya mereka belum beranjak. Masih menggelayut, menirukan dialog
dalam sinetron Ronaldowati, atau membentangkan lukisan “surealis” tadi,
aku menggelengkan kepala, dan nada suara langsung meningkat satu oktaf.
“Kalian ini memang paling susah dibilangin. Nih, sana jajan di warung!”

Aku tak pernah tahu, lebih tepatnya tak mau tahu, bukan uang itu
yang mereka minta, tapi perhatianku. Setelah menerima uang lima ribuan
itu, mereka tak pernah pergi ke warung. Uang itu di masukkan ke dalam
celengan plastik. kembali bermain di kamarnya, atau mewarnai lagi
lukisan. Bukit-bukit pink itu kini ditimpa warna merah tua, langit di atasnya 
berwarna makin gelap. Seperti senja yang menangis.

Itu baru mata kuliah umum. Ada pula mata kuliah dasar keahlian,
tentang pentingnya menghidupkan kasih sayang, dengan berlaku lemah
lembut kepada sesama anggota keluarga. Saya akan sigap menegur Echa,
untuk tidak kasar kepada adiknya. Bila perlu dengan membentak.

Dalam kuliah tentang kasih dan kelembutan ini, aku tidak jadi dosen
sendirian. Ibu mereka juga seorang guru besar soal ini. Tapi di depan
mereka, aku dan istri malah suka berlomba, siapa duluan mencapai nada
suara tertinggi ketika berdebat. Mereka bahkan lebih heran lagi, ketika
aku malah berbicara sangat sopan dengan tamu yang sesekali datang ke
rumah. Istriku juga bukan main lembutnya, bertegur sapa dengan orang
asing, misalnya ketika sama-sama antri di kasir swalayan.

“Ngga boleh marah-marahan, harus mau saling memaafkan. Allah ngga
suka sama orang yang memutus silaturahmi.” Tapi di depan mereka aku dan
istri sering tak saling tegur sapa, dari pagi sampai pagi lagi. Mukaku
cemberut, wajah istriku merengut. Mukaku yang dari sononya memang sudah
kusut, jadi mirip jeruk purut yang sudah butut. Membayangkannya pun, wajah Anda 
dijamin keriput.

Di meja makan saat sarapan, tak juga tercapai genjatan senjata atau
perdamaian. Usaha Echa melakukan mediasi, tentu saja dengan teknik
psikologi anak kelas 1 SD, sekadar bertanya mengapa kami tak ada yang
bicara, malah diganjar bentakan. “Udah, makan yang betul. Jangan
ngomong aja!”

“Jangan bohong, itu dosa. Nanti Tuhan marah.” Tapi bahkan
bocah-bocah ingusan itu pun bisa merasakan ada yang janggal dalam
cerita dan pengakuanku. Aku sendiri kadang sampai lupa, kapan dan tentang apa 
saja aku berbohong kepada mereka, atau ibunya. 
Di sisi lain–mungkin berkaitan dengan tradisi dusta tadi–mereka juga
menyaksikan bagaimana ibunya makin mirip agen KGB di masa Lenin,
mengawasi gerak-gerik ayah mereka, seolah aku ini antek kapitalis yang
ingin menghancurkan Kremlin.

Begitu suaminya pulang ke rumah, tak akan ditanya sudah makan apa
belum, atau memeriksa apakah organ tubuhnya masih lengkap. Si agen
dengan sigap akan menyita ponselku, mengecek siapa tau ada sms mesra
dari wanita jalang, yang mungkin lupa terhapus. Ketika hasilnya nihil,
dia sudah punya prosedur tetap, check list lengkap. Berikutnya, daftar
panggilan terakhir, kapan, dan berapa lama durasinya. Dari dia aku
tau, daftar panggilan tetap bisa diketahui, walaupun sudah dihapus.
Begitu juga sms, tetap ada datanya. Hanya content atau isi SMS-nya
tidak utuh, hanya beberapa karakter pertama. Jadi, jika SMS itu diawali
dengan kata, “Sayang”, itu sudah cukup untuk mengundang petaka.

Hebatnya, ketika tak menemukan hal mencurigakan, bukannya senang
sang suami ternyata terjaga dari kesesatan. Kadang malah jadi terlihat
seperti berpikir keras lagi. Persis seperti jaksa yang putar otak untuk
tetap menjerat terdakwa, yang eksepsinya baru saja dikabulkan hakim. Bukan 
untuk menemukan kebenaran dan keadilan, tetapi membuktikan dia memang salah, 
seperti kuperkirakan.

Dan si Agen merangkap jaksa itulah, yang juga nyambi jadi ustadzah,
memberi ceramah tentang pentingnya rasa percaya. Putrinya, yang seperti
anak seusianya di zaman serbadigital ini, dalam usia dini sudah
dicekoki sinetron picisan di televisi, memang sudah mulai bertanya apa
itu cinta. “Cinta itu berarti harus percaya, nggak boleh curiga. Juga
ngga boleh bohong sama yang kita cintai. Jadi, cinta itu kejujuran sama
kepercayaan, Cha”. Untunglah Echa tidak menginterupsi ceramah
itu, menyimpulkan kedua orang tuanya ternyata tidak saling mencintai.
“Kan sering bohong dan saling curiga?”
Dan daftar memalukan ini bisa sangat panjang jika diteruskan…
Entahlah pada keluarga lain, tetapi di rumah kami, itulah yang kerap
terjadi.

Anak-anak itu, bocah polos titipan surga, tak pernah bisa mengerti,
mengapa ucapan kami ke kanan tindakan kami ke kiri. Mereka sering
bingung, karena dituntut untuk berpikir seperti orang dewasa, ketika
kami menyemprotnya dengan kata-kata semacam, “Kok susah ‘kali sih
ngertinya kalian?”

Padahal kamilah, ayah dan ibunya, yang justru tak mau mengerti
mereka masih bocah, dan tak mungkin dipaksa punya logika seperti orang
tuanya. Seakan kami tak pernah menjadi anak-anak seperti mereka.

Oiya, ada satu lagi mata kuliah keahlian: Sejarah! Mereka harus
betah mendengar kisah kami tentang susahnya masa lalu, jalan kaki ke
sekolah, bantu ibu kerja di sawah, makan tanpa lauk, dst. “Kalian
sekarang serba enak, sekolah diantar jemput, di rumah bisa main PS!”
Mereka adalah manusia hari esok, tapi kami sesaki jiwanya dengan kisah-kisah 
kemarin.
*****
Pengumuman peringkat itu sudah selesai. Proses mencaci-maki diri
sendiri itu terpaksa kuakhiri. Echa mendekat, lirih menyampaikan
permintaan maaf. “Echa udah belajar yang rajin, Pak, tapi ngga bisa
ranking 1 juga.  Bapak ngga marah kan?” Aku jadi sedih, sekaligus
lega. Wajahnya yang tampak kurang bahagia itu ternyata karena merasa
gagal jadi #1, bukan karena menyerapahi kedunguan orang tuanya.

“Ya nggaklah, Kak. Bapak aja dulu cuma ranking 3”.
“Lho, katanya dulu Bapak ranking 1 terus?”
Ops, tuh kan aku sudah berbohong lagi, dan biar tidak dianggap berbohong, aku 
terpaksa berbohong sekali lagi.
“Hehehe, nggak, bohong Bapak waktu itu. Cuma rangking 3 kok. Yuk,
pulang dulu ke rumah, ganti baju. Makan-makan kita ke mall ya? Nanti
kita cariin hadiah untuk Kakak. Kemarin minta tas Barbie ya? ”

Reaksinya kemudian seperti mencopoti sendi-sendiku. “Jalan-jalan,
Pak? Emangnya, Bapak ngga ada rapat penting di kantor? Nanti Bapak
dimarahi lho gara-gara Echa! Kata Bapak, kantornya rugi besar kalau
Bapak ngga ada?”

Aku segera menjawab dengan tegas, lebih tegas dari Proklamasi 1945. “Mulai 
sekarang, dipecat pun ngga apa-apa, Nak. Bapak bisa cari pekerjaan lain, tapi 
tidak bidadari kecil lain.” Proklamasi yang hanya terucap di dalam hati, tentu 
saja. Tau sendiri susahnya cari kerja sekarang.

“Nggak. Bapak udah permisi kok. Tadi pagi Bapak udah bilang, mau
jalan-jalan sama anak Bapak yang jadi juara di sekolah. Bos Bapak
senang kok, malah kirim salam dia sama Kakak. Kakak hebat katanya!”

“Lho, tapi kan barusan juaranya diumumkan. Kok Bapak udah tau dari tadi pagi?”
Aha! Aku lupa sedang berhadapan dengan juara paralel. OK. Kau boleh pintar, 
Nak, tapi jam terbang Bapak sudah tinggi. “Kan Bapak sudah tahu Kakak bakal 
juara, karena Bapak lihat Kakak rajin kali belajarnya.”

Barangkali dia mau menjawab lagi, “Lho bukannya Bapak kemarin itu
marah-marah terus, bilang Echa bakal tinggal kelas kalau belajarnya
malas gitu?”
Tapi dia memilih diam. “Kembangkan terus kebohonganmu, Pak. Yang
penting aku bisa mencicipi sekeping waktumu, di tengah padatnya
pekerjaanmu, banyaknya rapat yang mesti Bapak ikuti, dan kariermu yang
terus melejit di kantor.” Karier dari Hongkong!
 
Tangan mungilnya menggenggam tanganku, saat kami menuju tempat
parkir. Kebanggaan itu mungkin harus kulepas karena memang bukan hakku,
tetapi sebagai gantinya aku seperti menemukan sesuatu yang lebih
penting, yang selama ini hilang, atau lebih tepatnya, tanpa sadar telah
kusingkirkan.

“Kau juara, Nak. Bapakmu malah tinggal kelas. Tapi ngga apa-apa. Bapak akan 
belajar lagi dari awal…”
*****
Sambil nyetir, aku menghubungi istri, biar dia dan dua adik Echa siap-siap. 
“Kita makan-makan ya, Mak, Echa juara lho!”
“Oiya? Siapa dulu dong Ibunya!” Speaker ponselku seperti mau retak
dihantam suara penuh kebanggan itu. Memang berjodohlah kita. Naifnya
klop!
“Justru itu, tadi rupanya sudah disiapkan jadwal buat Ibunda Echa,
untuk menyampaikan pidato sambutan, sekaligus pengarahan kepada para
orang tua murid, bagaimana cara mendidik anak menjadi juara. Tapi
karena Ibunda Echa ngga ada, terpaksa diganti dengan atraksi Barongsai.”

“Sayang ya, Pak. Kalau gitu, Bapak cepatlah kemari, bawa perlengkapan. Mamak 
mau gelar konferensi pers!”
“Oh, maaf, Bu, media kami ngga terbit besok, untuk menghormati keberhasilan 
Echa.”
Di sebelahku, Echa tak mau ambil pusing dengan percakapan penuh ilusi, antara 
ayah dan ibunya. Bante kalianlah situ. Toh cakap ilusi masih lebih baik dari 
cakap emosi.

Sepanjang jalan, dia masih saja memelototi daftar peringkat itu. Selisih tiga 
nilai saja!
Ingin rasanya kuhibur dia. “Jangan sedih, Kak. Yang juara satu itu mungkin 
masih ada hubungan keluarga sama yang punya sekolah. Wajarlah dia juara!”

Tapi tadi aku sudah berjanji, tidak mencekokinya racun lebih banyak
lagi. Tak bisa mendidik, mbok ya jangan merusak. Tak bisa membantunya
tumbuh, setidaknya jangan membuatnya rubuh.

Di luar kulihat orang bersimbah peluh, ditampar matahari yang bersinar penuh.  
Hari sudah berlalu separuh.


      

Kirim email ke