Salam teman-teman...

Dari milis sebelah..bagus sbg renungan...
Semoga allah swt menjadikan kita, sebagai orang yang ikhlas dalam berteman....

Turisina Ramli 

--- On Wed, 9/9/09, Wanda Natalia <[email protected]> wrote:

From: Wanda Natalia <[email protected]>
Subject: [f&f] [Renungan] Bungkus Palsu
To: "Andre Samosir" <[email protected]>, "Netta" <[email protected]>, 
"CantikAlami" <[email protected]>, "Cita Cinta" 
<[email protected]>, "Cosmopolitanku" 
<[email protected]>, "Feminaku" 
<[email protected]>, "Gereja" <[email protected]>, "Spada 
Listeners" <[email protected]>, "Tarkiku" 
<[email protected]>
Date: Wednesday, September 9, 2009, 12:44 AM






 




    
                  


-



Bungkus Palsu



Jessica Chandra adalah anggota baru di sanggar tari. Wanita mungil itu

selalu

terlihat lincah dan riang. Gayanya luwes. Senyumnya ramah. T ida k banyak

yang mengetahui usianya sudah berkepala tiga. Sepintas gayanya lebih

mirip mahasiswi daripada seorang Ibu beranak satu.



Minggu lalu Jessica terlambat. Dia t ida k ingin kejadian itu terulang 

lagi.

Setelah sepeda motor bututnya diparkirkan, dengan langkah tergesa-gesa

Jessica langsung menuju meja resepsionis. Masih seperti biasa,

senyum lebar selalu menyungging di bibirnya. Lalu dia menyodorkan kartu

keanggotaan untuk diabsensi.



Jessica baru menyadari air botol minum di kantong samping ranselnya 

kosong.

Ternyata dia lupa mengisi ulang botol minumnya karena tergesa-gesa.

Jessica mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mencari air

dispenser. Dalam benaknya, disanggar tari sebesar itu pasti ada air

dispenser

yang disediakan untuk para member.



Dengan rasa sungkan dan ragu, Jessica bertanya kepada resepsionis apakah

ia boleh meminta botol air minumnya d iis i kembali.

“Oh, boleh” jawab resepsionis.

Dipanggillah seorang pelayan dapur



“Maaf, mbak. Saya lupa mengisi air minum, boleh tolong d iis ikan ?” tanya

Jessica



Jessica lalu memberikan botol minum berukuran 500 cc itu kepada pelayan

dapur. Pelayan dapur agak ragu menerima botol minum tersebut.

Dengan gelisah ia masih berdiri di sana , seakan-akan menunggu persetujuan

dari seseorang. Jessica sedikit heran. Keengganan itu terlihat begitu 

jelas.



Kemudian datanglah seorang wanita paruh baya. Entah siapa dia, tapi 

Jessica

sering melihatnya di kafe lantai bawah. Mungkin pemilik sanggar tebaknya.

Jessica merasa t ida k enak dengan tatapan tajam dari mata wanita itu.

Pelayan dapur agak gugup menjelaskan maksudku kepada wanita tersebut.



“Mbak ini minta air minum,” kata pelayan kepada wanita tua.

Wanita tua dengan sorot t ida k bersahabat berkata :

“Kenapa t ida k beli saja air mineral, dek ? Kami ada menjualnya di sini.”



Jessica menangkap pesan penolakan. Dia tau wanita itu enggan mengisikan 

air

minumnya.



“Oh, gak boleh ya. Kalo gitu gak papa kok.”



Senyum Jessica sedikit agak dipaksa. Dia mengambil kembali botol minumnya

dari tangan pelayan dapur dan segera bergegas melangkah ke lantai dua.

Meski sedikit kecewa, Jessica menghibur diri bahwa dia t ida k akan mati

dehidrasi saat latihan.



Sementara di lantai bawah, masih terdengar debat kecil antara wanita tua

itu dengan resepsionis. Jessica t ida k lagi memperdulikan. Dia hanya 

ingin

latihan hari itu segera usai.



***

Hari berikutnya, Jessica masih rutin mengikuti latihan seperti biasanya.

Meski ada rasa t ida k enak, Jessica tetap santun menundukkan kepalanya

sambil tersenyum kepada wanita tua itu ketika menyapanya. Jessica sama

sekali t ida k pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun. Yang pasti

sejak

itu, Jessica sangat memperhatikan botol air minumnya.



***

Suatu sore, Jessica t ida k mengendarai sepeda motor bututnya.

Suaminya berjanji akan menjemputnya. Hujan mengguyur deras sekali.

Usai latihan, Jessica segera turun. Dia melihat h ida ngan mie goreng dan 

nasi



goreng di meja. Malam itu adalah perayaan tahun pertama berdirinya sanggar

tari. Wanita tua itu terlihat sibuk mela yani para member lainnya.

Mengajak mereka makan. Banyak yang menolak halus, mungkin takut gemuk,

mungkin juga ingin segera pulang. Jessica pun menolak halus ketika

ditawarkan. Makan terburu-buru bukan kebiasaannya. Lagipula, dia t ida k 

ingin



suaminya menunggu lama.



Jessica mengecek HPnya. Ternyata sms dari suaminya mengabari terlambat

menjemput.. Jessica masih berdiri di luar dan menunggu di sana .

Tiba-tiba wanita tua itu telah di sampingnya.



“Kamu lagi menunggu seseorang ?”

“Iya. Suamiku”

“Suami ? Saya pikir kamu masih mahasiswi.”

Jessica tertawa. “Aku sudah 35 tahun.”

“Menikah muda ya ?”

“28”.



Jessica t ida k tau pasti apakah umur segitu termasuk menikah muda.



“Bukankah kamu yang biasanya mengendarai sepeda motor ?” tanya lagi

wanita itu



Tentu saja mudah dikenali. Karena Jessica satu-satunya wanita yang

mengendarai sepeda motor ke sanggar. Kebanyakan member yang lain

mengendarai mobil, sebagian lagi didrop oleh supir.



“Iya. Hari ini dijemput suami, jadi aku gak bawa motor.”



“Oh, itu dia jemputanku” Jessica menunjuk pada sebuah mobil Mercedes

hitam mengkilap seri terbaru yang berhenti pas di tempatnya menunggu.



“Bukankah Itu mobil Bapak Ardiansyah ?” tanya wanita tua penuh rasa

penasaran.

“Yah, Ardiansyah adalah suamiku.”



Wanita itu terkejut. Tatapannya masih t ida k percaya ketika melihat

Jessica melambaikan tangan dan menembus hujan masuk ke dalam mobil.



Mobil itu telah lama berlalu, tapi wanita tua masih berdiri sana , 

melongo.

Ketika memori membawanya kembali pada kejadian air minum itu,

rasa malu menghantam keras hatinya. Tiba-tiba dunia terasa gelap.



Ardiansyah !

Dia adalah sponsor utama yang selalu mendukung kegiatan sanggar tarinya.

“Oh, t ida k …”



***

Sahabat, Kita sering menganggap diri kita adalah orang baik. Tapi ketika

kita

dihadapkan pada bungkus luar dari apa yang mereka pakai,

dari kendaraan yang digunakan, begitu gampangnya sikap hati kita berubah.



Bila ‘bungkus luar’ itu bagus, kita cenderung ‘mengangkat tinggi-tinggi’

orang

tersebut. Sebaliknya bila ‘bungkus luar’ jelek, kita lalu menjengkalnya,

menyepelekan mereka. Senyum kita jadi palsu. Kebaikan hati kita jadi

basa-basi.



Hendaknya di dalam pelayanan, kita juga tida k memandang 'bungkus luar' 

dari

tiap-tiap orang.




 

      


        
        





      




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke